alexametrics
31 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Wisatawan Lokal Senang Pelesiran dengan Bujet Minim

Tren pelesir dengan bujet murah di tanah air semakin booming dalam beberapa tahun terakhir ini. Hal tersebut mendorong kemunculan sederet platform penyedia penginapan dengan harga terjangkau.

Di antaranya, RedDoorz, OYO, AirBnB, dan Airy. Sebab, potensinya memang menggiurkan untuk digarap mengingat peminat budget travel di Indonesia tidak kecil.

Karena itulah, pelaku usaha berbasis teknologi di sektor perhotelan atau dikenal dengan istilah virtual hotel operator (VHO) kini terus agresif untuk menciptakan berbagai strategi demi meraih market yang lebih luas. Area Marketing Manager RedDoorz Jawa Timur dan Indonesia Timur Glenn Karela menjelaskan, tren wisatawan lokal sekarang cenderung memiliki keinginan tinggi untuk berpelesir meski anggarannya minim.

“Goals mereka, traveling itu bukan staycation di hotel berbintang, tetapi yang penting bisa datang ke tempat wisata sesuai keinginan dan ada tempat istirahat. Potensi ini yang kami garap,” jelasnya saat kegiatan RedCommunity Kickoff East Java 2020 di Surabaya Sabtu (15/2).

Baca Juga :  Kinerja Solid, BRI Raih Dua Penghargaan Bisnis Indonesia Top BUMN Award

Platform manajemen dan pemesanan hotel online asal Singapura itu saat ini telah memiliki 1.500 properti di Indonesia. Sementara itu, di Surabaya RedDoorz mengelola 45 hotel dan di Jatim 85 hotel.

“Tingkat hunian atau okupansi dari semua hotel yang kami kelola rata-rata berada di angka 70 persen. Cukup bagus,” ujar Glenn.

Demi meningkatkan okupansi dan memperluas market, pihaknya telah menyiapkan strategi pada tahun ini. Yakni, gencar menggandeng komunitas di Jatim yang jumlahnya besar. Menurut Glenn, mayoritas yang menginap di RedDoorz selama ini hanya diisi segmen keluarga.

Padahal, kebutuhan akomodasi untuk kalangan community tidak kalah besar. Sebab, orang-orang yang tergabung dalam sebuah komunitas pasti sering mengadakan gathering.

“Contohnya, komunitas bikers, tentu sering touring. Otomatis peluang untuk menginap di hotel itu besar. Segmen ini belum banyak terjamah oleh kami,” tegasnya.

Baca Juga :  Berpotensi Tekan Jumlah Wisatawan

Untuk itulah, kemarin pihaknya secara resmi memperkenalkan RedCommunity sebagai wadah resmi komunitas yang dikembangkan oleh RedDoorz. Komunitas apa pun boleh bergabung ke dalam RedComunity.

“Tidak hanya sekedar join, kami juga ajak RedCommunity ini untuk berpartisipasi dalam RedCommunity Competition yang akan diselenggarakan pada 20 Februari–30 April 2020,” papar Glenn.

Ketua PHRI Jatim Dwi Cahyono tidak memungkiri bahwa yang menjadi permasalahan bisnis perhotelan saat ini adalah bersaing dengan VHO. “Sebenarnya, kalau VHO bekerja sama dengan hotel yang resmi nggak masalah, karena itu terdeteksi. Yang jadi problem adalah ketika VHO menggaet kos-kosan atau rumah yang punya banyak kamar, lalu disewakan. Ini nggak bisa terdeteksi,” keluhnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : (car/c12/oki)

Tren pelesir dengan bujet murah di tanah air semakin booming dalam beberapa tahun terakhir ini. Hal tersebut mendorong kemunculan sederet platform penyedia penginapan dengan harga terjangkau.

Di antaranya, RedDoorz, OYO, AirBnB, dan Airy. Sebab, potensinya memang menggiurkan untuk digarap mengingat peminat budget travel di Indonesia tidak kecil.

Karena itulah, pelaku usaha berbasis teknologi di sektor perhotelan atau dikenal dengan istilah virtual hotel operator (VHO) kini terus agresif untuk menciptakan berbagai strategi demi meraih market yang lebih luas. Area Marketing Manager RedDoorz Jawa Timur dan Indonesia Timur Glenn Karela menjelaskan, tren wisatawan lokal sekarang cenderung memiliki keinginan tinggi untuk berpelesir meski anggarannya minim.

“Goals mereka, traveling itu bukan staycation di hotel berbintang, tetapi yang penting bisa datang ke tempat wisata sesuai keinginan dan ada tempat istirahat. Potensi ini yang kami garap,” jelasnya saat kegiatan RedCommunity Kickoff East Java 2020 di Surabaya Sabtu (15/2).

Baca Juga :  Kemen PANRB Gandeng BNI Siapkan Digitalisasi Pengelolaan SDM Bagi ASN

Platform manajemen dan pemesanan hotel online asal Singapura itu saat ini telah memiliki 1.500 properti di Indonesia. Sementara itu, di Surabaya RedDoorz mengelola 45 hotel dan di Jatim 85 hotel.

“Tingkat hunian atau okupansi dari semua hotel yang kami kelola rata-rata berada di angka 70 persen. Cukup bagus,” ujar Glenn.

Demi meningkatkan okupansi dan memperluas market, pihaknya telah menyiapkan strategi pada tahun ini. Yakni, gencar menggandeng komunitas di Jatim yang jumlahnya besar. Menurut Glenn, mayoritas yang menginap di RedDoorz selama ini hanya diisi segmen keluarga.

Padahal, kebutuhan akomodasi untuk kalangan community tidak kalah besar. Sebab, orang-orang yang tergabung dalam sebuah komunitas pasti sering mengadakan gathering.

“Contohnya, komunitas bikers, tentu sering touring. Otomatis peluang untuk menginap di hotel itu besar. Segmen ini belum banyak terjamah oleh kami,” tegasnya.

Baca Juga :  Pertamina Pantau Peningkatan Konsumsi LPG Jelang Akhir Tahun

Untuk itulah, kemarin pihaknya secara resmi memperkenalkan RedCommunity sebagai wadah resmi komunitas yang dikembangkan oleh RedDoorz. Komunitas apa pun boleh bergabung ke dalam RedComunity.

“Tidak hanya sekedar join, kami juga ajak RedCommunity ini untuk berpartisipasi dalam RedCommunity Competition yang akan diselenggarakan pada 20 Februari–30 April 2020,” papar Glenn.

Ketua PHRI Jatim Dwi Cahyono tidak memungkiri bahwa yang menjadi permasalahan bisnis perhotelan saat ini adalah bersaing dengan VHO. “Sebenarnya, kalau VHO bekerja sama dengan hotel yang resmi nggak masalah, karena itu terdeteksi. Yang jadi problem adalah ketika VHO menggaet kos-kosan atau rumah yang punya banyak kamar, lalu disewakan. Ini nggak bisa terdeteksi,” keluhnya.

Editor : Estu Suryowati

Reporter : (car/c12/oki)

Most Read

Artikel Terbaru

/