alexametrics
25 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Usaha Kecil Babak Belur

Pilih Berhenti Operasi dan Rumahkan Karyawan

PONTIANAK – Sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) tengah babak belur dihantam wabah Covid-19. Sebagian dari mereka berhenti beroperasi dan memilih merumahkan karyawannya. Kesulitan produksi hingga anjloknya penjualan menjadi sebab utama.

Usaha produk oleh-oleh misalnya. Sebagian memutuskan untuk tutup. Hal ini diakui oleh Sunani, Owner Isun Vera, produsen olahan lidah buaya di Kota Pontianak. Menurut dia, turunnya permintaan produk oleh-oleh khas Kalbar terjadi pasca terkonfirmasinya kasus positif corona di tanah air. “Waktu itu sudah mulai ada penurunan,” katanya.

Seiring bertambahnya jumlah pasien Covid-19, tak terkecuali di Kalbar, usahanya semakin terpukul. Turunnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kalbar membuat pusat oleh-oleh memilih tutup. “Sudah tiga minggu tak beroperasi. Sebanyak 25 karyawan juga sudah dirumahkan,” ujarnya.

Padahal dalam sehari, kata dia, pihaknya mampu memproduksi dua ton lidah buaya untuk diolah menjadi berbagai produk olahan. Apalagi mendekati lebaran. Secara historis, permintaan naik tajam. Semestinya saat ini ia sudah mulai memproduksi kebutuhan untuk hari raya Idulfitri. Tetapi karena pandemi, operasional dihentikan hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Selain karena permintaan turun, beberapa bahan baku juga sulit dicari dan harganya mahal. “Gula misalnya, biasanya 600 ribu per karung, sekarang jutaan. Dengan harganya yang naik gimana mau jual ke buyer kita,” keluhnya.

Baca Juga :  Bupati Landak Terbitkan Pedoman Resepsi Pernikahan

Dia sangat berharap pandemi Covid-19 segera usai. Namun, ia memprediksi UMKM tetap akan sulit bangkit setelah pandemi berakhir. Dia berharap ada stimulus pemerintah terhadap UMKM, baik untuk saat ini hingga nanti setelah ujian Covid-19 berhasil dilewati.

Koordinator Wilayah Asosiasi Business Development Services Indonesia (Korwil ABDSI) Kalbar, Muhammad Fahmi menyatakan, pelaku UMKM pada masa pandemi Covid-19 menghadapi sejumlah tantangan. “Berdasarkan data yang dihimpun, beberapa permasalahan yang dihadapi oleh UMKM, antara lain terkait pemasaran, arus keuangan, bahan baku, serta produksi,” kata dia.

Pihaknya saat ini telah membuka UMKM Crisis Center yang dapat dimanfaatkan untuk konsultasi para pelaku UMKM, sekaligus mendata mereka yang terdampak pandemi ini. “Kami membuat suatu gerakan yang disebut UMKM Crisis Center, dan kini telah tersebar di seluruh Indonesia. Di Kalbar, ini berpusat di PLUT Kalbar, sebagai sekretariat kita,” ujarnya.

Rencana aksi UMKM Crisis Center tersebut akan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama, kata Fahmi, adalah rapid asessment, yakni mendata secara cepat UMKM yang terdampak pandemi ini, dan dilakukan secara daring. Teknisnya, UMKM mendaftarkan sendiri melalui link yang sudah disediakan. Tujuan pendataan ini untuk mengetahui seberapa banyak UMKM terdampak.

“Sementara ini di Kalbar ada 200 lebih yang telah terdaftar dan kemungkinan jumlahnya akan terus bertambah. Sementara data secara nasional sudah terdata sebanyak 6000an UMKM,” katanya. Pada tahap penanganan selanjutnya, pihaknya akan menghimpun permasalahan yang dihadapi oleh UMKM.

Baca Juga :  Pengembang Sambut Baik DP Nol Persen

Berdasarkan data yang dihimpun itu, sebut dia, beberapa permasalahan yang dihadapi oleh UMKM antara lain terkait keuangan, bahan baku, serta produksi. Hal ini juga disebabkan karena kebijakan kerja di rumah yang berakibat pada sulitnya menjual produk mereka.

“Dari seluruh data yang dihimpun, 51 persen UMKM di antaranya merupakan pelaku usaha di bidang makanan dan minuman. Salah satu permasalahan yang dihadapi bisnis kuliner ini yaitu sulitnya bahan baku, serta harganya yang mengalami kenaikan,” jelas dia.

ABDSI Kalbar, dikatakan telah menghimpun kebutuhan para pelaku UMKM pada saat ini, serta pasca pandemi Covid-19 ini berakhir. Kebutuhan terbesarnya yakni stimulus pemulihan usaha, disusul penundaan pembayaran angsuran pinjaman, serta perlunya fasilitas promosi dan pemasaran produk. Kebutuhan lainnya antara lain informasi dan akses bahan baku, penghapusan pajak UMKM selama masa krisis, prioritas pembelian produk UMKM untuk kebutuhan aktivitas penanganan bencana, pendampingan restrukturisasi usaha, serta penyediaan layanan transportasi dan atau distribusi barang.

UMKM, tambah Fahmi, merupakan tulang punggung perekonomian tanah air, sehingga keberlangsungannya harus dijaga. “Jangan sampai mereka jatuh karena mereka ini adalah penyangga ekonomi,” pungkas dia. (sti)

Pilih Berhenti Operasi dan Rumahkan Karyawan

PONTIANAK – Sektor usaha mikro kecil dan menengah (UMKM) tengah babak belur dihantam wabah Covid-19. Sebagian dari mereka berhenti beroperasi dan memilih merumahkan karyawannya. Kesulitan produksi hingga anjloknya penjualan menjadi sebab utama.

Usaha produk oleh-oleh misalnya. Sebagian memutuskan untuk tutup. Hal ini diakui oleh Sunani, Owner Isun Vera, produsen olahan lidah buaya di Kota Pontianak. Menurut dia, turunnya permintaan produk oleh-oleh khas Kalbar terjadi pasca terkonfirmasinya kasus positif corona di tanah air. “Waktu itu sudah mulai ada penurunan,” katanya.

Seiring bertambahnya jumlah pasien Covid-19, tak terkecuali di Kalbar, usahanya semakin terpukul. Turunnya jumlah wisatawan yang berkunjung ke Kalbar membuat pusat oleh-oleh memilih tutup. “Sudah tiga minggu tak beroperasi. Sebanyak 25 karyawan juga sudah dirumahkan,” ujarnya.

Padahal dalam sehari, kata dia, pihaknya mampu memproduksi dua ton lidah buaya untuk diolah menjadi berbagai produk olahan. Apalagi mendekati lebaran. Secara historis, permintaan naik tajam. Semestinya saat ini ia sudah mulai memproduksi kebutuhan untuk hari raya Idulfitri. Tetapi karena pandemi, operasional dihentikan hingga batas waktu yang belum ditentukan.

Selain karena permintaan turun, beberapa bahan baku juga sulit dicari dan harganya mahal. “Gula misalnya, biasanya 600 ribu per karung, sekarang jutaan. Dengan harganya yang naik gimana mau jual ke buyer kita,” keluhnya.

Baca Juga :  Bentuk Satgas Covid-19 Tingkat Desa

Dia sangat berharap pandemi Covid-19 segera usai. Namun, ia memprediksi UMKM tetap akan sulit bangkit setelah pandemi berakhir. Dia berharap ada stimulus pemerintah terhadap UMKM, baik untuk saat ini hingga nanti setelah ujian Covid-19 berhasil dilewati.

Koordinator Wilayah Asosiasi Business Development Services Indonesia (Korwil ABDSI) Kalbar, Muhammad Fahmi menyatakan, pelaku UMKM pada masa pandemi Covid-19 menghadapi sejumlah tantangan. “Berdasarkan data yang dihimpun, beberapa permasalahan yang dihadapi oleh UMKM, antara lain terkait pemasaran, arus keuangan, bahan baku, serta produksi,” kata dia.

Pihaknya saat ini telah membuka UMKM Crisis Center yang dapat dimanfaatkan untuk konsultasi para pelaku UMKM, sekaligus mendata mereka yang terdampak pandemi ini. “Kami membuat suatu gerakan yang disebut UMKM Crisis Center, dan kini telah tersebar di seluruh Indonesia. Di Kalbar, ini berpusat di PLUT Kalbar, sebagai sekretariat kita,” ujarnya.

Rencana aksi UMKM Crisis Center tersebut akan dilakukan secara bertahap. Tahap pertama, kata Fahmi, adalah rapid asessment, yakni mendata secara cepat UMKM yang terdampak pandemi ini, dan dilakukan secara daring. Teknisnya, UMKM mendaftarkan sendiri melalui link yang sudah disediakan. Tujuan pendataan ini untuk mengetahui seberapa banyak UMKM terdampak.

“Sementara ini di Kalbar ada 200 lebih yang telah terdaftar dan kemungkinan jumlahnya akan terus bertambah. Sementara data secara nasional sudah terdata sebanyak 6000an UMKM,” katanya. Pada tahap penanganan selanjutnya, pihaknya akan menghimpun permasalahan yang dihadapi oleh UMKM.

Baca Juga :  PLN Berhasil Produksi Listrik dari Co-firing

Berdasarkan data yang dihimpun itu, sebut dia, beberapa permasalahan yang dihadapi oleh UMKM antara lain terkait keuangan, bahan baku, serta produksi. Hal ini juga disebabkan karena kebijakan kerja di rumah yang berakibat pada sulitnya menjual produk mereka.

“Dari seluruh data yang dihimpun, 51 persen UMKM di antaranya merupakan pelaku usaha di bidang makanan dan minuman. Salah satu permasalahan yang dihadapi bisnis kuliner ini yaitu sulitnya bahan baku, serta harganya yang mengalami kenaikan,” jelas dia.

ABDSI Kalbar, dikatakan telah menghimpun kebutuhan para pelaku UMKM pada saat ini, serta pasca pandemi Covid-19 ini berakhir. Kebutuhan terbesarnya yakni stimulus pemulihan usaha, disusul penundaan pembayaran angsuran pinjaman, serta perlunya fasilitas promosi dan pemasaran produk. Kebutuhan lainnya antara lain informasi dan akses bahan baku, penghapusan pajak UMKM selama masa krisis, prioritas pembelian produk UMKM untuk kebutuhan aktivitas penanganan bencana, pendampingan restrukturisasi usaha, serta penyediaan layanan transportasi dan atau distribusi barang.

UMKM, tambah Fahmi, merupakan tulang punggung perekonomian tanah air, sehingga keberlangsungannya harus dijaga. “Jangan sampai mereka jatuh karena mereka ini adalah penyangga ekonomi,” pungkas dia. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/