alexametrics
25.6 C
Pontianak
Tuesday, August 9, 2022

Bawa Mantau ke Pinggir Jalan, Jo Raup Omzet Jutaan per Hari

PONTIANAK – Mantau selama ini hanya lekat dengan hotel-hotel maupun kafe premium, namun Joshua membawa roti kukus berisi daging ini ke pinggir jalan. Di Jalan Gajah Mada, samping kafe Corner dia membuka stand kecilnya. Kini usahanya ini membawa berkah bagi dirinya. terlebih di bulan Ramadan ini, banyak masyarakat yang memborong mantau buatannya.

“Di bulan puasa ini omzet saya meningkat tajam. Bisa lebih dari satu juta rupiah per hari. Kalau hari normal paling hanya Rp300-400 ribuan,” ujar Jo, sapaan akrabnya kepada Pontianak Post, kemarin.

Lantas dari mana ide pemuda 23 tahun ini untuk berjualan mantau, makanan yang jarang ditemui di pinggir jalan. Singkat cerita, dia sebelumnya pernah bekerja di bagian restoran sebuah hotel berbintang empat yang punya menu andalan Mantau. Begitu resign dari pekerjaannya itu, dia merasa bingung untuk mencari kerja lantaran situasi pandemi.

Akhirnya dia memutuskan untuk berjualan jam tangan. Namun berhari-hari tak satu pun produk yang dijualnya laku. Lantas dia merasa berjualan jam tangan bukan bidangnya. Dia pun beralih ke kuliner. Berbekal pengalamannya membuat mantau, dengan modal seadanya dia pun berjualan mantau secara online. Mengandalkan penawaran di Instagram, Facebook dan Whatsapp, usahanya membuahkan hasil. Bahkan dalam tempo satu bulan dia mampu mengumpulkan uang untuk menyewa lapak di pinggir jalan.

Baca Juga :  Dorong 1.000 Pelaku Usaha Perempuan Naik Kelas

“Saya coba jualan  online selama sebulan begitu sudah lumayan pembelinya. Lalu saya pikir akan lebih mudah dan banyak pembelinya kalau ada warung fisiknya juga. Kemudian  saya cari lapak di daerah Gajah Mada dimanamenjadi pusat kuliner. Alhamdulilah dikasih jalan same Allah di samping Cafe Corner, saya beri nama stand Mantau Bang Jo,” katanya.

Di stand ini dia menyediakan dua pilihan mantau, yaitu goreng dan kukus. Sementara untuk isinya dia memberikan pilihan daging ayam kungpao dan daging sapi kungpao. Ramainya konsumen merata dari pagi hingga malam. “Makanan mantau Ini sangat pas untuk sarapan pagi dan cemilan makan siang maupun di malam hari untuk kumpul bersama keluarga. Tetapi pada Ramadan ini paling banyak pembeli pada sore dan malam,” ucap dia.

Baca Juga :  Pengrajin Tempe Siasati Kenaikan Kedelai

Harga yang dia tawarkan juga terjangkau. Dengan membayar Rp70 ribu, pembeli akan mendapatkan paket berisi lima mantau lengkap dengan isinya. Namun pengunjung juga bisa membeli mantau secara satuan. “Yang beli satuan lebih banyak. tetapi paket juga ramai. Pada Ramadan ini satu hari bisa sembilan paket yang terjual dalam sehari,” ucap dia.

Kuliner ini awalnya tidak terlalu dikenal, namun seiring waktu, mulai banyak yang membuat mantau dengan rasa yang enak. Ciri khas dari mantau sendiri terletak dari tekstur dan cita rasanya yang identik. Kue roti ini juga sering dipromosikan sebagai oleh-oleh khas Kota Balikpapan. Namun sudah menyebar pula ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk Pontianak. Bentuknya yang mirip bakpao bukannya tanpa alasan. Mantau sejatinya adalah makanan khas negeri Tiongkok yang mengalami akulturasi sehingga menjadi roti khas yang berbeda dari bakpao. (ars)

PONTIANAK – Mantau selama ini hanya lekat dengan hotel-hotel maupun kafe premium, namun Joshua membawa roti kukus berisi daging ini ke pinggir jalan. Di Jalan Gajah Mada, samping kafe Corner dia membuka stand kecilnya. Kini usahanya ini membawa berkah bagi dirinya. terlebih di bulan Ramadan ini, banyak masyarakat yang memborong mantau buatannya.

“Di bulan puasa ini omzet saya meningkat tajam. Bisa lebih dari satu juta rupiah per hari. Kalau hari normal paling hanya Rp300-400 ribuan,” ujar Jo, sapaan akrabnya kepada Pontianak Post, kemarin.

Lantas dari mana ide pemuda 23 tahun ini untuk berjualan mantau, makanan yang jarang ditemui di pinggir jalan. Singkat cerita, dia sebelumnya pernah bekerja di bagian restoran sebuah hotel berbintang empat yang punya menu andalan Mantau. Begitu resign dari pekerjaannya itu, dia merasa bingung untuk mencari kerja lantaran situasi pandemi.

Akhirnya dia memutuskan untuk berjualan jam tangan. Namun berhari-hari tak satu pun produk yang dijualnya laku. Lantas dia merasa berjualan jam tangan bukan bidangnya. Dia pun beralih ke kuliner. Berbekal pengalamannya membuat mantau, dengan modal seadanya dia pun berjualan mantau secara online. Mengandalkan penawaran di Instagram, Facebook dan Whatsapp, usahanya membuahkan hasil. Bahkan dalam tempo satu bulan dia mampu mengumpulkan uang untuk menyewa lapak di pinggir jalan.

Baca Juga :  KUR Penyelamat UMKM di Masa Pandemi

“Saya coba jualan  online selama sebulan begitu sudah lumayan pembelinya. Lalu saya pikir akan lebih mudah dan banyak pembelinya kalau ada warung fisiknya juga. Kemudian  saya cari lapak di daerah Gajah Mada dimanamenjadi pusat kuliner. Alhamdulilah dikasih jalan same Allah di samping Cafe Corner, saya beri nama stand Mantau Bang Jo,” katanya.

Di stand ini dia menyediakan dua pilihan mantau, yaitu goreng dan kukus. Sementara untuk isinya dia memberikan pilihan daging ayam kungpao dan daging sapi kungpao. Ramainya konsumen merata dari pagi hingga malam. “Makanan mantau Ini sangat pas untuk sarapan pagi dan cemilan makan siang maupun di malam hari untuk kumpul bersama keluarga. Tetapi pada Ramadan ini paling banyak pembeli pada sore dan malam,” ucap dia.

Baca Juga :  Dukung UMKM, DJP Gandeng Pemkot Adakan BDS

Harga yang dia tawarkan juga terjangkau. Dengan membayar Rp70 ribu, pembeli akan mendapatkan paket berisi lima mantau lengkap dengan isinya. Namun pengunjung juga bisa membeli mantau secara satuan. “Yang beli satuan lebih banyak. tetapi paket juga ramai. Pada Ramadan ini satu hari bisa sembilan paket yang terjual dalam sehari,” ucap dia.

Kuliner ini awalnya tidak terlalu dikenal, namun seiring waktu, mulai banyak yang membuat mantau dengan rasa yang enak. Ciri khas dari mantau sendiri terletak dari tekstur dan cita rasanya yang identik. Kue roti ini juga sering dipromosikan sebagai oleh-oleh khas Kota Balikpapan. Namun sudah menyebar pula ke berbagai daerah di Indonesia, termasuk Pontianak. Bentuknya yang mirip bakpao bukannya tanpa alasan. Mantau sejatinya adalah makanan khas negeri Tiongkok yang mengalami akulturasi sehingga menjadi roti khas yang berbeda dari bakpao. (ars)

Most Read

Artikel Terbaru

/