alexametrics
25 C
Pontianak
Sunday, May 22, 2022

Ekonomi Kalbar Diprediksi Positif di Triwulan II

PONTIANAK – Ekonomi Kalimantan Barat diperkirakan baru akan tumbuh positif pada triwulan II tahun ini. Hal tersebut diungkapkan ekonom Universitas Tanjungpura Prof Dr Eddy Suratman. “Ekonomi Kalbar baru akan positif pada kuartal II. Karena perbandingan kuartal I tahun ini dengan periode yang sama tahun lalu berbeda. Saat itu belum ada pandemi, sehingga ekonominya lebih baik,” ujarnya kepada Pontianak Post, kemarin.

Namun dia yakin pada triwulan II, ekonomi Kalbar akan tumbuh positif. “Konsumsi masyarakat sudah mulai lebih baik dari tahun lalu. Begitu juga ekspor yang meningkat, terutama komoditas andalan kita. Harga kelapa sawit dan karet di tingkat petani juga sangat tinggi sekarang. Itu tentu saja sangat membantu masyarakat kita,” sebutnya.

Hanya saja, kata dia, konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah harus kembali menjadi perhatian. Pasalnya, menurut dia, penyerapan anggaran pemerintah daerah hingga awal Mei ini masih sangat rendah. Padahal belanja pemerintah bisa menjadi penggerak ekonomi. Begitu juga konsumsi masyarakat yang belum pulih. “Kelas menengah atas masih menahan belanja. Sedangkan kelas menengah bawah memang pendapatannya menurun karena adanya pembatasan sosial,” sebut dia.

Baca Juga :  Buruh Rawan Kena PHK

Selain itu, kata dia, pertumbuhan ekonomi, kendati positif, tidak akan terlalu tinggi.  Dia mengatakan pandemi gelombang baru yang menerjang dunia srta kebijakan larangan mudik pasti berdampak pada perekonomian Kalbar. Terlebih Lebaran adalah periode meningkatnya konsumsi masyarakat. Padahal kata dia, turunnya konsumsi adalah salah satu sebab utama turunnya pertumbuhan ekonomi nasional dan Kalbar pada masa pandemi ini.

“Tentu larangan mudik dan penyekatan ini akan sangat berpengaruh, terutama pada konsumsi masyarakat. Belanja masyarakat akan tertahan. Sektor yang terdampak adalah jasa transportasi, restoran, rumah makan, penginapan, pariwisata, UMKM dan lainnya. Setelah lebaran mungkin sektor-sektor itu baru akan normal,” kata dia.

Apalagi, kata dia, kebijakan tahun ini lebih ketat dibandingkan larangan mudik pada tahun lalu. “Saya rasa tahun ini lebih massif. Tahun lalu di Kalbar mungkin hanya berupa imbauan. Tetapi tahun ini sudah ada posko-posko di berbagai titik se-Kalbar. Saya saja yang berniat untuk tiga hari liburan ke Singkawang terpaksa membatalkannya,” sebutnya.

Baca Juga :  Libur Imlek, Trafik Internet Pontianak dan Singkawang Naik 10 Persen

Soal angka pertumbuhan ekonomi Kalbar yang kembali minus pada triwulan I ini, dengan angka -,010 persen. Menurutnya ini sudah sesuai prediksi lantaran pembandingnya adalah triwulan I tahun 2020 dimana pandemi belum melanda Kalbar.

Vaksinasi sejatinya menjadi pelecut bagi pemulihan ekonomi. Namun, kata Eddy, sejauh ini progresnya masih jauh dari harapan. “Pasokan dan distribusi vaksin kita masih jauh dari harapan. Bahkan IMF dan Bank Dunia juga sudah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dari koreksi 4,8-5,5 persen menjadi 4,0-4,3 persen. Kalbar pun saya perkirakan tidak akan mencapai target apabila melihat kondisi saat ini. Saya rasa kalau ekonomi Kalbar tumbuh 3-4 persen saja, itu sudah cukup bagus,” pungkasnya. (ars)

PONTIANAK – Ekonomi Kalimantan Barat diperkirakan baru akan tumbuh positif pada triwulan II tahun ini. Hal tersebut diungkapkan ekonom Universitas Tanjungpura Prof Dr Eddy Suratman. “Ekonomi Kalbar baru akan positif pada kuartal II. Karena perbandingan kuartal I tahun ini dengan periode yang sama tahun lalu berbeda. Saat itu belum ada pandemi, sehingga ekonominya lebih baik,” ujarnya kepada Pontianak Post, kemarin.

Namun dia yakin pada triwulan II, ekonomi Kalbar akan tumbuh positif. “Konsumsi masyarakat sudah mulai lebih baik dari tahun lalu. Begitu juga ekspor yang meningkat, terutama komoditas andalan kita. Harga kelapa sawit dan karet di tingkat petani juga sangat tinggi sekarang. Itu tentu saja sangat membantu masyarakat kita,” sebutnya.

Hanya saja, kata dia, konsumsi rumah tangga dan konsumsi pemerintah harus kembali menjadi perhatian. Pasalnya, menurut dia, penyerapan anggaran pemerintah daerah hingga awal Mei ini masih sangat rendah. Padahal belanja pemerintah bisa menjadi penggerak ekonomi. Begitu juga konsumsi masyarakat yang belum pulih. “Kelas menengah atas masih menahan belanja. Sedangkan kelas menengah bawah memang pendapatannya menurun karena adanya pembatasan sosial,” sebut dia.

Baca Juga :  Arus Penumpang di ALBN Sungai Ambawang Naik Signifikan

Selain itu, kata dia, pertumbuhan ekonomi, kendati positif, tidak akan terlalu tinggi.  Dia mengatakan pandemi gelombang baru yang menerjang dunia srta kebijakan larangan mudik pasti berdampak pada perekonomian Kalbar. Terlebih Lebaran adalah periode meningkatnya konsumsi masyarakat. Padahal kata dia, turunnya konsumsi adalah salah satu sebab utama turunnya pertumbuhan ekonomi nasional dan Kalbar pada masa pandemi ini.

“Tentu larangan mudik dan penyekatan ini akan sangat berpengaruh, terutama pada konsumsi masyarakat. Belanja masyarakat akan tertahan. Sektor yang terdampak adalah jasa transportasi, restoran, rumah makan, penginapan, pariwisata, UMKM dan lainnya. Setelah lebaran mungkin sektor-sektor itu baru akan normal,” kata dia.

Apalagi, kata dia, kebijakan tahun ini lebih ketat dibandingkan larangan mudik pada tahun lalu. “Saya rasa tahun ini lebih massif. Tahun lalu di Kalbar mungkin hanya berupa imbauan. Tetapi tahun ini sudah ada posko-posko di berbagai titik se-Kalbar. Saya saja yang berniat untuk tiga hari liburan ke Singkawang terpaksa membatalkannya,” sebutnya.

Baca Juga :  Tingkatkan Produktivitas Pertanian, PLN dan Kementan Kembangkan Eduwisata Smart Greenhouse

Soal angka pertumbuhan ekonomi Kalbar yang kembali minus pada triwulan I ini, dengan angka -,010 persen. Menurutnya ini sudah sesuai prediksi lantaran pembandingnya adalah triwulan I tahun 2020 dimana pandemi belum melanda Kalbar.

Vaksinasi sejatinya menjadi pelecut bagi pemulihan ekonomi. Namun, kata Eddy, sejauh ini progresnya masih jauh dari harapan. “Pasokan dan distribusi vaksin kita masih jauh dari harapan. Bahkan IMF dan Bank Dunia juga sudah menurunkan proyeksi pertumbuhan ekonomi Indonesia. Dari koreksi 4,8-5,5 persen menjadi 4,0-4,3 persen. Kalbar pun saya perkirakan tidak akan mencapai target apabila melihat kondisi saat ini. Saya rasa kalau ekonomi Kalbar tumbuh 3-4 persen saja, itu sudah cukup bagus,” pungkasnya. (ars)

Most Read

Artikel Terbaru

/