alexametrics
30.1 C
Pontianak
Friday, August 12, 2022

Apindo Kalbar : Waspadai Nilai Tukar Dolar AS

PONTIANAK – Krisis pangan dan energi di berbagai negara menyebabkan meningkatnya inflasi dan melambatnya pertumbuhan ekonomi pada berbagai negara termasuk Indonesia. Meski begitu, negara ini dinilai mampu melewati krisis global tersebut, termasuk Kalimantan Barat.
“Pondasi ekonomi Indonesia saat ini cukup kuat dan bisa dipastikan Indonesia akan melewati resesi global dengan baik pada saat ini sampai akhir tahun,” ungkap Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalbar, Andreas Acui Simanjaya, Selasa (19/7).
Acui juga meyakini bahwa Kalbar dapat melewati tahun ini dengan baik, walaupun ditengah menurunnya harga komoditas andalan seperti sawit. Meksi harga sawit turun, namun harga karet, pinang dan komoditas lainnya cukup baik.
“Harga minyak goreng semakin terkendali dengan berbagai upaya pemerintah, sehingga nilai inflasi juga akan terjaga cukup baik,” imbuhnya.
Acui mengatakan, berdasarkan data Bank Dunia memperkirakan ekonomi global tumbuh 2,9 persen, atau turun 1,2 poin persentase dibandingkan proyeksi Januari lalu. Sementara untuk 2023, proyeksi pertumbuhan ekonomi dipangkas 0,2 poin persentase menjadi 3 persen. Adapum BPS melaporkan nilai ekspor Indonesia bulan lalu sebesar US$ 21,51 miliar, naik 27 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).
“Meski tumbuh cukup tinggi, tetapi sejatinya ada perlambatan. Pada April 2022, ekspor mampu tumbuh 47,76 persen yoy,” katanya.
Lebih jauh dia menjelaskan, beberapa negara mengalami bencana politik karena hal ini seperti Srilanka dan sederet lagi negara lain dalam antrean menuju bangkrut. Dalam kondisi tersebut, Indonesia nyatanya masih an dan tidak dalam posisi negara menuju bangkrut sebab fondasi ekonomi yang kuat dan rasio hutang Indonesia yang baik.
Meski bisa dikatakan aman, krisis global dinilainya tetap akan terpengaruh karena melambatnya pertumbuhan ekonomi dari beberapa mitra perdagangan Indonesia, seperti Tiongkok, India, USA, Korsel, Thailand. Hal ini secara langsung  tentunya juga mempengaruhi kinerja ekspor komoditas dari Indonesia terutama produk pertanian dan perkebunan, serta bahan tambang.
Acui menilai ada beberapa hal yang perlu diwaspadai dunia usaha berkaitan dengan kondisi global saat ini. Salah satunya adalah naiknya nilai tukar USD yang  bisa menyebabkan perusahaan tertentu dalam posisi sulit. “Namun, secara umum kita juga cukup banyak  produksi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan belanja konsumsi masyarakat, kebiasaan membeli produksi dalam negeri dan juga karena sebagian besar bahan baku industri juga berasal dari dalam negeri maka kita akan baik baik saja,” tambahnya.
Krisis kepercayaan pada rupiah jika terpaut terlalu jauh dari nilai tukar USD juga patut diwaspadai. Selain itu juga manuver politik dari oposisi yang pasti melihat hal seperti ini sebagai peluang. Antisipasi juga penurunan permintaan dari negara tujuan ekspor dan mitra dagang Indonesia karena melambatnya perekonomian di masing masing negara mitra.
Untuk mengantisipasi hal ini, dia menyarankan untuk tetap tingkatkan kebiasaan memakai produk dalam negeri baik untuk konsumsi masyarakat ataupun kebutuhan bahan baku produksi industri dalam negeri. Antisipasi sejak awal ada kemungkinan posisi memanfaatkan resesi global ini untuk melakukan kampanye negatif pada pemerintah Indonesia.
“Terus upayakan sektor industri pengolahan hilir untuk meningkatkan nilai tambah dan juga mengurangi ketergantungan Indonesia dari negara lain yang membeli komoditas mentah sari kita selama ini,” paparnya.
Sebagai pengusaha, pihaknya berharap  langkah antisipasi dari Bank Indonesia terhadap inflasi harus dilakukan secara dinamis dan tidak menimbulkan kekuatiran semua pihak. Indonesia harus berupaya  terus menjaga dan pertahankan pondasi ekonomi yang baik.  Pihaknya juga berharap agar situasi politik Indonesia terus baik dan aman.
“Jika ada gejala kurang baik atau ngangguan keamanan untuk keberlangsungan kehidupan demokrasi di Indonesia, tindakan tegas aparat pengamanan sangat penting untuk menjaga kestabilan ekonomi Indonesia. Jangan biarkan gejolak sekecil apapun muncul dan lakukan langkah antisipasi sejak awal,” pungkasnya. (sti)
Baca Juga :  Berikan Bantuan Pembinaan, Bank Kalbar Dukung Atlet Futsal Kancil BBK
PONTIANAK – Krisis pangan dan energi di berbagai negara menyebabkan meningkatnya inflasi dan melambatnya pertumbuhan ekonomi pada berbagai negara termasuk Indonesia. Meski begitu, negara ini dinilai mampu melewati krisis global tersebut, termasuk Kalimantan Barat.
“Pondasi ekonomi Indonesia saat ini cukup kuat dan bisa dipastikan Indonesia akan melewati resesi global dengan baik pada saat ini sampai akhir tahun,” ungkap Ketua Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Kalbar, Andreas Acui Simanjaya, Selasa (19/7).
Acui juga meyakini bahwa Kalbar dapat melewati tahun ini dengan baik, walaupun ditengah menurunnya harga komoditas andalan seperti sawit. Meksi harga sawit turun, namun harga karet, pinang dan komoditas lainnya cukup baik.
“Harga minyak goreng semakin terkendali dengan berbagai upaya pemerintah, sehingga nilai inflasi juga akan terjaga cukup baik,” imbuhnya.
Acui mengatakan, berdasarkan data Bank Dunia memperkirakan ekonomi global tumbuh 2,9 persen, atau turun 1,2 poin persentase dibandingkan proyeksi Januari lalu. Sementara untuk 2023, proyeksi pertumbuhan ekonomi dipangkas 0,2 poin persentase menjadi 3 persen. Adapum BPS melaporkan nilai ekspor Indonesia bulan lalu sebesar US$ 21,51 miliar, naik 27 persen dibandingkan periode yang sama tahun lalu (year-on-year/yoy).
“Meski tumbuh cukup tinggi, tetapi sejatinya ada perlambatan. Pada April 2022, ekspor mampu tumbuh 47,76 persen yoy,” katanya.
Lebih jauh dia menjelaskan, beberapa negara mengalami bencana politik karena hal ini seperti Srilanka dan sederet lagi negara lain dalam antrean menuju bangkrut. Dalam kondisi tersebut, Indonesia nyatanya masih an dan tidak dalam posisi negara menuju bangkrut sebab fondasi ekonomi yang kuat dan rasio hutang Indonesia yang baik.
Meski bisa dikatakan aman, krisis global dinilainya tetap akan terpengaruh karena melambatnya pertumbuhan ekonomi dari beberapa mitra perdagangan Indonesia, seperti Tiongkok, India, USA, Korsel, Thailand. Hal ini secara langsung  tentunya juga mempengaruhi kinerja ekspor komoditas dari Indonesia terutama produk pertanian dan perkebunan, serta bahan tambang.
Acui menilai ada beberapa hal yang perlu diwaspadai dunia usaha berkaitan dengan kondisi global saat ini. Salah satunya adalah naiknya nilai tukar USD yang  bisa menyebabkan perusahaan tertentu dalam posisi sulit. “Namun, secara umum kita juga cukup banyak  produksi dalam negeri untuk memenuhi kebutuhan belanja konsumsi masyarakat, kebiasaan membeli produksi dalam negeri dan juga karena sebagian besar bahan baku industri juga berasal dari dalam negeri maka kita akan baik baik saja,” tambahnya.
Krisis kepercayaan pada rupiah jika terpaut terlalu jauh dari nilai tukar USD juga patut diwaspadai. Selain itu juga manuver politik dari oposisi yang pasti melihat hal seperti ini sebagai peluang. Antisipasi juga penurunan permintaan dari negara tujuan ekspor dan mitra dagang Indonesia karena melambatnya perekonomian di masing masing negara mitra.
Untuk mengantisipasi hal ini, dia menyarankan untuk tetap tingkatkan kebiasaan memakai produk dalam negeri baik untuk konsumsi masyarakat ataupun kebutuhan bahan baku produksi industri dalam negeri. Antisipasi sejak awal ada kemungkinan posisi memanfaatkan resesi global ini untuk melakukan kampanye negatif pada pemerintah Indonesia.
“Terus upayakan sektor industri pengolahan hilir untuk meningkatkan nilai tambah dan juga mengurangi ketergantungan Indonesia dari negara lain yang membeli komoditas mentah sari kita selama ini,” paparnya.
Sebagai pengusaha, pihaknya berharap  langkah antisipasi dari Bank Indonesia terhadap inflasi harus dilakukan secara dinamis dan tidak menimbulkan kekuatiran semua pihak. Indonesia harus berupaya  terus menjaga dan pertahankan pondasi ekonomi yang baik.  Pihaknya juga berharap agar situasi politik Indonesia terus baik dan aman.
“Jika ada gejala kurang baik atau ngangguan keamanan untuk keberlangsungan kehidupan demokrasi di Indonesia, tindakan tegas aparat pengamanan sangat penting untuk menjaga kestabilan ekonomi Indonesia. Jangan biarkan gejolak sekecil apapun muncul dan lakukan langkah antisipasi sejak awal,” pungkasnya. (sti)
Baca Juga :  BRI Micro and SME Index: Vaksinasi dan Penerapan Protokol Kesehatan Jadi Kunci Kebangkitan UMKM

Most Read

Artikel Terbaru

/