alexametrics
30 C
Pontianak
Tuesday, August 16, 2022

Terdongkrak Harga Sawit, Kesejahteraan Petani Kebun Paling Tinggi

PONTIANAK – Petani kelapa sawit di Kalimantan Barat (Kalbar) saat ini tengah menikmati harga tandan buah segar (TBS) yang cukup tinggi. Tak heran jika sub sektor perkebunan, tercatat paling tinggi memberikan kesejahteraan bagi para petani di sektor pertanian.

Naiknya harga TBS di tingkat petani itu pun diakui oleh Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Samuel. Menurutnya, petani sawit dua bulan terkahir, jauh lebih sejahtera jika dibandingkan dengan ketika awal pandemi ckvid-19 melanda. “Agustus September sudah membaik. Posisi harga TBS bulan kemarin berkisar Rp1.900 per kilogram,” ungkap Samuel, kemarin.

Dengan harga tersebut, petani tak hanya cukup untuk memberikan perawatan yang ideal bagi kebun mereka, melainkan bisa untuk ditabung, atau menambah modal untuk pengembangan usaha perkebunannya. Aktivitas ekonomi di sekitar kebun sawit menurutnya juga tampak bergairah. Dia berharap tren kenaikan harga sawit ini terus berlangsung untuk waktu yang akan datang. Apalagi di tengah pendemi covid-19, komoditas ini diharapkan mampu mendorong perekonomian daerah, dan tentu kesejahteraan para petani, serta pekerja yang terkait sektor ini.

Baca Juga :  Dorong Efektivitas dan Efisiensi Pabrik Kelapa Sawit

Kesejahteraan petani Kalbar sektor perkebunan tercermin dari nilai tukar petani (NTP) Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR). Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar mencatat pada September 2020, NTPR sebesar 116,70 poin atau naik 3,57 persen dibanding NTP bulan Agustus 2020 112,68 poin. Tak hanya mengalami kenaikan, NTP subsektor perkebunan rakyat ini juga paling tinggi bila dibandingkan dengan NTP di subsektor lainnya di Kalbar pada September 2020. Secara umum, NTP Kalbar pada September 2020 sebesar 109,52. Jika dilihat dari sub sektornya, NTP Tanaman Padi dan Palawija (NTPP) sebesar 96,42, NTP Hortikultura (NTPH) sebesar 96,89, NTP Peternakan (NTPT) 96,22 poin turun 0,78.

Meningkatnya kesejahteraan pekebun yang tercermin dari naiknya NTP Tanaman Perkebunan Rakyat, seiring dengan bergairahnya harga komoditas perkebunan di Kalbar. Sawit misalnya, harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit saat ini tengah mengalami kenaikan. Catatan Dinas Perkebunan Kalbar, berdasarkan hasil Penetapan Indeks K September 2020 dan Harga TBS Kelapa Sawit Periode II September 2020, harga TBS kelapa sawit umur 10 – 20 tahun Rp1.941,77 per kilogram, atau naik dari harga TBS periode I September sebesar Rp1.873,17 per kilogram.

Baca Juga :  Mengenal Embrio, Strategi BRI Ciptakan Talenta Digital Inovatif dan Tangguh

Menurut Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Heronimus Hero, tren kenaikan harga ada dipengaruhi beberapa faktor. Pertama, kenaikan ini dipengaruhi oleh naiknya penjualan ke negara-negara tujuan ekspor CPO seiring dengan membaiknya ekonomi di negara-negara tersebut. “Kenaikan harga juga faktor bahan baku TBS kelapa sawit yang saat ini terbatas. Hal tersebut disebabkan produksi sedang pada masa turun. Mulai Oktober 2020 baru akan terjadi peningkatan produksi TBS sawit atau panen raya,” katanya.

Faktor kedua, naiknya harga TBS di Kalbar lantaran bergairahnya implementasi biodiesel dalam negeri. Menurutnya, kebijakan pemerintah untuk beralih ke energi terbarukan dengan pemanfaatan hasil sawit sebagai B100 (bio fuel) D100 (diesel) dan J100 (avtur) ikut mendorong tren positif harga komoditas andalan Kalbar itu. (sti)

PONTIANAK – Petani kelapa sawit di Kalimantan Barat (Kalbar) saat ini tengah menikmati harga tandan buah segar (TBS) yang cukup tinggi. Tak heran jika sub sektor perkebunan, tercatat paling tinggi memberikan kesejahteraan bagi para petani di sektor pertanian.

Naiknya harga TBS di tingkat petani itu pun diakui oleh Ketua Asosiasi Petani Kelapa Sawit Indonesia (Apkasindo), Samuel. Menurutnya, petani sawit dua bulan terkahir, jauh lebih sejahtera jika dibandingkan dengan ketika awal pandemi ckvid-19 melanda. “Agustus September sudah membaik. Posisi harga TBS bulan kemarin berkisar Rp1.900 per kilogram,” ungkap Samuel, kemarin.

Dengan harga tersebut, petani tak hanya cukup untuk memberikan perawatan yang ideal bagi kebun mereka, melainkan bisa untuk ditabung, atau menambah modal untuk pengembangan usaha perkebunannya. Aktivitas ekonomi di sekitar kebun sawit menurutnya juga tampak bergairah. Dia berharap tren kenaikan harga sawit ini terus berlangsung untuk waktu yang akan datang. Apalagi di tengah pendemi covid-19, komoditas ini diharapkan mampu mendorong perekonomian daerah, dan tentu kesejahteraan para petani, serta pekerja yang terkait sektor ini.

Baca Juga :  Sekadau Perkuat Kemitraan PKS dan Kelembagaan Pekebun

Kesejahteraan petani Kalbar sektor perkebunan tercermin dari nilai tukar petani (NTP) Tanaman Perkebunan Rakyat (NTPR). Badan Pusat Statistik (BPS) Kalbar mencatat pada September 2020, NTPR sebesar 116,70 poin atau naik 3,57 persen dibanding NTP bulan Agustus 2020 112,68 poin. Tak hanya mengalami kenaikan, NTP subsektor perkebunan rakyat ini juga paling tinggi bila dibandingkan dengan NTP di subsektor lainnya di Kalbar pada September 2020. Secara umum, NTP Kalbar pada September 2020 sebesar 109,52. Jika dilihat dari sub sektornya, NTP Tanaman Padi dan Palawija (NTPP) sebesar 96,42, NTP Hortikultura (NTPH) sebesar 96,89, NTP Peternakan (NTPT) 96,22 poin turun 0,78.

Meningkatnya kesejahteraan pekebun yang tercermin dari naiknya NTP Tanaman Perkebunan Rakyat, seiring dengan bergairahnya harga komoditas perkebunan di Kalbar. Sawit misalnya, harga Tandan Buah Segar (TBS) Sawit saat ini tengah mengalami kenaikan. Catatan Dinas Perkebunan Kalbar, berdasarkan hasil Penetapan Indeks K September 2020 dan Harga TBS Kelapa Sawit Periode II September 2020, harga TBS kelapa sawit umur 10 – 20 tahun Rp1.941,77 per kilogram, atau naik dari harga TBS periode I September sebesar Rp1.873,17 per kilogram.

Baca Juga :  BRI Dorong Poklahsar Bilvie Pasarkan Produk Bandeng Hingga Keluar Negeri

Menurut Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Heronimus Hero, tren kenaikan harga ada dipengaruhi beberapa faktor. Pertama, kenaikan ini dipengaruhi oleh naiknya penjualan ke negara-negara tujuan ekspor CPO seiring dengan membaiknya ekonomi di negara-negara tersebut. “Kenaikan harga juga faktor bahan baku TBS kelapa sawit yang saat ini terbatas. Hal tersebut disebabkan produksi sedang pada masa turun. Mulai Oktober 2020 baru akan terjadi peningkatan produksi TBS sawit atau panen raya,” katanya.

Faktor kedua, naiknya harga TBS di Kalbar lantaran bergairahnya implementasi biodiesel dalam negeri. Menurutnya, kebijakan pemerintah untuk beralih ke energi terbarukan dengan pemanfaatan hasil sawit sebagai B100 (bio fuel) D100 (diesel) dan J100 (avtur) ikut mendorong tren positif harga komoditas andalan Kalbar itu. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/