alexametrics
33 C
Pontianak
Monday, June 27, 2022

Geliat Start Up Lokal di Tengah Gempuran Aplikasi Nasional

Bujang Kurir Tak Patah Arang, Usung Konsep Mitra UKM

Lima tahun sudah Bujang Kurir, penyedia jasa layanan pesan antar untuk barang, makanan, obat dan kebutuhan sehari-hari, berjalan. Aplikasi ini adalah start up lokal pertama di Pontianak yang mengusung konsep personal delivery.

Ramses L Tobing, Pontianak

BUJANG Kurir dibangun oleh Riszky Ramadhan, 18 Juni 2015 lalu. Bersama teman-temannya, Riszky, mengembangkan aplikasi ini dari nol. Idenya pembuatan didapat Riszky setelah dia menyelesaikan studi masternya di Yogyakarta. Pada satu hari, di tengah malam, dia kelaparan dan kesulitan memesan makanan.

Ketika itu belum ada jasa layanan pesan antar makanan di Pontianak. Apalagi sudah lewat tengah malam. Berbanding terbalik dengan di Yogyakarta, bisnis jasa layanan pesan antar tumbuh subur. Dia pun menginginkan hal yang sama tersedia di kota kelahirannya. Bersama dengan Adam dan Reza, dia mulai mengembangkan aplikasi Bujang Kurir.

Nama Bujang Kurir diambilnya dari bahasa Melayu yang berkembang di Pontianak, yang merupakan sebutan bagi laki-laki yang belum menikah. Tagline  yang dipakainya pun menyesuaikan dengan karakter usia para pendiri saat itu: “Adek Pesan, Abang Antar.

Saat ditemui beberapa hari lalu, Riszky menuturkan perjalanannya membangun aplikasi itu. Pertama kali beroperasi, Bujang Kurir masih menggunakan platform pihak ketiga, yakni BBM (blackberry messenger) dan Whatsapp agar terhubung ke pelanggan. Orderan yang masuk pun belum banyak. Sehari hanya masuk 10-15 orderan. Perlahan tapi pasti dengan didukung promosi, orderan yang masuk terus meningkat. Bahkan tembus ratusan order dalam sehari.

Promosi yang dilakukan pun tidak bisa disebut dengan membakar uang karena Bujang Kurir memiliki keterbatasan modal. Promosi yang dilakukan hanya dengan memanfaatkan jaringan, antara lain dengan UMKM yang bermitra dengan Bujang Kurir. Saat awal berdiri pun kerjasama dengan UMKM pun sudah dimulai dijajaki.

Pasang Surut

Tahun 2015-2017 boleh dikata menjadi masa keemasan bagi Bujang Kurir. Sebab ia menjadi satu-satunya startup bergerak di jasa layanan pesan antar. Tepat ditahun 2016, Bujang Kurir juga menjadi startup yang pertama kali membuat aplikasi personal delivery.

Ia mendapat dukungan dari dosen dan mahasiswa Universitas Tanjungpura untuk membangun aplikasi Bujang Kurir. Modal untuk membuat aplikasi itu hanya Rp5 juta. Satu bulan pertama sudah lebih dari 1.000 orang mengunduh. Bulan kedua jumlah pengunduh aplikasi mencapai 5.000 orang.

Baca Juga :  Bersinergi Demi Potensi dan Pengembangan Geowisata

“Setelah menggunakan aplikasi, Dari segi order, progresnya bagus. Orderan itu benar-benar terlihat setelah satu tahun berjalan,” kata Riszky.

Meski demikian tak selamanya bisnis start up lokal berjalan mulus. Akhir 2017 dan menjelang tahun 2018, Bujang Kurir mengalami goncangan ketika aplikasi nasional masuk Pontianak. Perlahan, orderan mulai menyusut.

Saat itu hanya menerima 20-30 order per hari. Jumlah yang tak jauh berbeda saat mulai star tup ini berjalan di tahun 2015. Kondisi itu juga yang membuat driver di Bujang Kurir pindah ke startup-startup nasional.  “Kondisi itu benar-benar sulit dan kami alami selama enam bulan di tahun 2018,” jelas Riszky.

Riszky tak patah arang. Ia tetap optimis dan berpikir positif. Salah satu alasannya adalah banyak yang menggantungkan nasibnya di Bujang Kurir. Meski demikian tak cukup hanya semangat, tapi juga strategi bisnis harus disiapkan agar orderan di Bujang Kurir kembali meningkat.

Bermitra dengan UMKM dan Kawan Bujang

Satu di antara strateginya adalah melirik UMKM untuk dijadikan mitra di Bujang Kurir. Baik yang terdaftar maupun tidak. Kemitraan yang sudah ada pun digenjot agar semakin maksimal. Strategi ini jitu. Perlahan tapi pasti, orderan di Bujang Kurir kembali naik. Per hari bisa mendapat 200-250 orderan. Naik drastis setelah diterpa badai selama enam bulan, yang seharinya hanya bisa dapat 30 orderan.

Sebenarnya kemitraan dengan UMKM ini sudah ada sejak tahun 2017. Ia merasa konsep kerjasama harus dimaksimalkan untuk memastikan Bujang Kurir tetap bertahan. Sebab dalam kondisi itu tak dipungkiri membuat para driver angkat kaki dari Bujang Kurir.

Pada saat yang sama, Bujang Kurir memiliki keterbatasan modal untuk promosi secara besar-besaran, bersaing dengan aplikasi pesan antar nasional. Skema kemitraan bersama UMKM dinilai Riszky adalah cara yang paling tepat. Dalam skema kemitraan itu, UMKM mendapat kesempatan promosi maksimal.

Bujang Kurir bertugas mempromosikan UMKM-UMKM itu di tiga plaform. Facebook, whastapp dan pesan berantai. Bahkan promosi gratis diberikan selama satu bulan. Jika kemitraan berlanjut maka UMKM mendapat prioritas pengantaran dengan menjalin kerjasama berbayar setiap bulannya. Dalam kerjasama itu, Bujang Kurir semakin gencar mempromosikan produk-produk UMKM.

“Jadi promosi UMKM itu kami sambung dengan promo Bujang Kurir di sosial media dan pesan berantai di Bujang Kurir,” kata Riszky.

Baca Juga :  Wali Kota: Lapor SPT Efiling Sangat Mudah!

Menurutnya kerja sama itulah yang membedakan dengan start up lainnya. Meski berbayar setiap bulan, tapi produk yang dijual pelaku UMKM tidak mengalami kenaikan harga. Bujang Kurir hanya mengambil biaya pengantaran saja. Sementara harga jual produk tidak dikenakan biaya cas.

“Bentuk kerjasama ini justru lebih bersaing dengan start up-start up nasional,” kata Riszky.

Menurutnya, skema kerjasama seperti itu yang membuat pelaku UMKM sebagai mitra betah dan bertahan menjalin kemitraan dengan Bujang Kurir. Selain itupun, semangat pelaku UMKM untuk mendukung start up lokal agar tetap eksis.

Meyakini konsep mitra dengan UMKM ini memberikan keuntungan kedua pihak, Riszky memperluas kerja samanya. Kini, Bujang Kurir bermitra dengan Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan melalui Toko Tani Indonesia Center. “Kami memudahkan konsumen berbelanja. Apalagi di tengah pandemi. Pesan barang dan kemudian kami antar,” kata dia.

Salah satu pembeda lainnya adalah mengupayakan agar pesanan makanan tetap dalam kondisi segar ketika sampai ke tangan konsumen. Sebuah kotak cukup besar berwarna kuning-hitam ditempatkan di setiap kendaraan pengantar, yang akan menjamin makanan dalam kondisi panas atau sebaliknya makanan tidak akan mencair ketika diterima konsumen.

Bagi Riszky, kemampuan untuk bertahan itu tak lepas dari kerja tim yang hebat, termasuk mereka yang bertugas mengantar pesanan konsumen. Sedari awal para driver, yang disebut Kawan Bujang, ditempatkan bukan sebagai mitra tapi sebagai pekerja. Komunikasi secara kekeluargaan dibangun dengan para driver sehingga mereka tetap bertahan hingga saat ini.

“Lika-likunya luar biasa. Saya sebagai owner tidak bisa apa-apa tanpa tim yang hebat. Dan itu yang membuat Bujang Kurir bertahan hingga detik ini,” ungkap alumni Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini.

Sebagai sebuah bisnis jasa, para Kawan Bujang juga dilatih untuk menjalin komunikasi yang baik dengan konsumen. Mereka dilatih untuk menerapkan konsep personal delivery.

“Mereka tidak sekadar mengantarkan pesanan, tetapi berbicara dengan konsumen. Ini makanannya, silakan cek dulu, ini nota dan ongkirnya. Ini komunikasi yang dibangun kurir dan pelanggan maupun tempat berbelanja,” kata dia. Riszky meyakini inovasi dan komunikasi adalah hal-hal yang membuat pelanggan Bujang Kurir bertahan dan akan terus berkembang. (*)

Bujang Kurir Tak Patah Arang, Usung Konsep Mitra UKM

Lima tahun sudah Bujang Kurir, penyedia jasa layanan pesan antar untuk barang, makanan, obat dan kebutuhan sehari-hari, berjalan. Aplikasi ini adalah start up lokal pertama di Pontianak yang mengusung konsep personal delivery.

Ramses L Tobing, Pontianak

BUJANG Kurir dibangun oleh Riszky Ramadhan, 18 Juni 2015 lalu. Bersama teman-temannya, Riszky, mengembangkan aplikasi ini dari nol. Idenya pembuatan didapat Riszky setelah dia menyelesaikan studi masternya di Yogyakarta. Pada satu hari, di tengah malam, dia kelaparan dan kesulitan memesan makanan.

Ketika itu belum ada jasa layanan pesan antar makanan di Pontianak. Apalagi sudah lewat tengah malam. Berbanding terbalik dengan di Yogyakarta, bisnis jasa layanan pesan antar tumbuh subur. Dia pun menginginkan hal yang sama tersedia di kota kelahirannya. Bersama dengan Adam dan Reza, dia mulai mengembangkan aplikasi Bujang Kurir.

Nama Bujang Kurir diambilnya dari bahasa Melayu yang berkembang di Pontianak, yang merupakan sebutan bagi laki-laki yang belum menikah. Tagline  yang dipakainya pun menyesuaikan dengan karakter usia para pendiri saat itu: “Adek Pesan, Abang Antar.

Saat ditemui beberapa hari lalu, Riszky menuturkan perjalanannya membangun aplikasi itu. Pertama kali beroperasi, Bujang Kurir masih menggunakan platform pihak ketiga, yakni BBM (blackberry messenger) dan Whatsapp agar terhubung ke pelanggan. Orderan yang masuk pun belum banyak. Sehari hanya masuk 10-15 orderan. Perlahan tapi pasti dengan didukung promosi, orderan yang masuk terus meningkat. Bahkan tembus ratusan order dalam sehari.

Promosi yang dilakukan pun tidak bisa disebut dengan membakar uang karena Bujang Kurir memiliki keterbatasan modal. Promosi yang dilakukan hanya dengan memanfaatkan jaringan, antara lain dengan UMKM yang bermitra dengan Bujang Kurir. Saat awal berdiri pun kerjasama dengan UMKM pun sudah dimulai dijajaki.

Pasang Surut

Tahun 2015-2017 boleh dikata menjadi masa keemasan bagi Bujang Kurir. Sebab ia menjadi satu-satunya startup bergerak di jasa layanan pesan antar. Tepat ditahun 2016, Bujang Kurir juga menjadi startup yang pertama kali membuat aplikasi personal delivery.

Ia mendapat dukungan dari dosen dan mahasiswa Universitas Tanjungpura untuk membangun aplikasi Bujang Kurir. Modal untuk membuat aplikasi itu hanya Rp5 juta. Satu bulan pertama sudah lebih dari 1.000 orang mengunduh. Bulan kedua jumlah pengunduh aplikasi mencapai 5.000 orang.

Baca Juga :  Bujang Kurir, Local Champion Digital Indonesia

“Setelah menggunakan aplikasi, Dari segi order, progresnya bagus. Orderan itu benar-benar terlihat setelah satu tahun berjalan,” kata Riszky.

Meski demikian tak selamanya bisnis start up lokal berjalan mulus. Akhir 2017 dan menjelang tahun 2018, Bujang Kurir mengalami goncangan ketika aplikasi nasional masuk Pontianak. Perlahan, orderan mulai menyusut.

Saat itu hanya menerima 20-30 order per hari. Jumlah yang tak jauh berbeda saat mulai star tup ini berjalan di tahun 2015. Kondisi itu juga yang membuat driver di Bujang Kurir pindah ke startup-startup nasional.  “Kondisi itu benar-benar sulit dan kami alami selama enam bulan di tahun 2018,” jelas Riszky.

Riszky tak patah arang. Ia tetap optimis dan berpikir positif. Salah satu alasannya adalah banyak yang menggantungkan nasibnya di Bujang Kurir. Meski demikian tak cukup hanya semangat, tapi juga strategi bisnis harus disiapkan agar orderan di Bujang Kurir kembali meningkat.

Bermitra dengan UMKM dan Kawan Bujang

Satu di antara strateginya adalah melirik UMKM untuk dijadikan mitra di Bujang Kurir. Baik yang terdaftar maupun tidak. Kemitraan yang sudah ada pun digenjot agar semakin maksimal. Strategi ini jitu. Perlahan tapi pasti, orderan di Bujang Kurir kembali naik. Per hari bisa mendapat 200-250 orderan. Naik drastis setelah diterpa badai selama enam bulan, yang seharinya hanya bisa dapat 30 orderan.

Sebenarnya kemitraan dengan UMKM ini sudah ada sejak tahun 2017. Ia merasa konsep kerjasama harus dimaksimalkan untuk memastikan Bujang Kurir tetap bertahan. Sebab dalam kondisi itu tak dipungkiri membuat para driver angkat kaki dari Bujang Kurir.

Pada saat yang sama, Bujang Kurir memiliki keterbatasan modal untuk promosi secara besar-besaran, bersaing dengan aplikasi pesan antar nasional. Skema kemitraan bersama UMKM dinilai Riszky adalah cara yang paling tepat. Dalam skema kemitraan itu, UMKM mendapat kesempatan promosi maksimal.

Bujang Kurir bertugas mempromosikan UMKM-UMKM itu di tiga plaform. Facebook, whastapp dan pesan berantai. Bahkan promosi gratis diberikan selama satu bulan. Jika kemitraan berlanjut maka UMKM mendapat prioritas pengantaran dengan menjalin kerjasama berbayar setiap bulannya. Dalam kerjasama itu, Bujang Kurir semakin gencar mempromosikan produk-produk UMKM.

“Jadi promosi UMKM itu kami sambung dengan promo Bujang Kurir di sosial media dan pesan berantai di Bujang Kurir,” kata Riszky.

Baca Juga :  Bank Kalbar Salurkan CSR Ambulans ke RSU Yarsi

Menurutnya kerja sama itulah yang membedakan dengan start up lainnya. Meski berbayar setiap bulan, tapi produk yang dijual pelaku UMKM tidak mengalami kenaikan harga. Bujang Kurir hanya mengambil biaya pengantaran saja. Sementara harga jual produk tidak dikenakan biaya cas.

“Bentuk kerjasama ini justru lebih bersaing dengan start up-start up nasional,” kata Riszky.

Menurutnya, skema kerjasama seperti itu yang membuat pelaku UMKM sebagai mitra betah dan bertahan menjalin kemitraan dengan Bujang Kurir. Selain itupun, semangat pelaku UMKM untuk mendukung start up lokal agar tetap eksis.

Meyakini konsep mitra dengan UMKM ini memberikan keuntungan kedua pihak, Riszky memperluas kerja samanya. Kini, Bujang Kurir bermitra dengan Dinas Pangan, Peternakan dan Kesehatan Hewan melalui Toko Tani Indonesia Center. “Kami memudahkan konsumen berbelanja. Apalagi di tengah pandemi. Pesan barang dan kemudian kami antar,” kata dia.

Salah satu pembeda lainnya adalah mengupayakan agar pesanan makanan tetap dalam kondisi segar ketika sampai ke tangan konsumen. Sebuah kotak cukup besar berwarna kuning-hitam ditempatkan di setiap kendaraan pengantar, yang akan menjamin makanan dalam kondisi panas atau sebaliknya makanan tidak akan mencair ketika diterima konsumen.

Bagi Riszky, kemampuan untuk bertahan itu tak lepas dari kerja tim yang hebat, termasuk mereka yang bertugas mengantar pesanan konsumen. Sedari awal para driver, yang disebut Kawan Bujang, ditempatkan bukan sebagai mitra tapi sebagai pekerja. Komunikasi secara kekeluargaan dibangun dengan para driver sehingga mereka tetap bertahan hingga saat ini.

“Lika-likunya luar biasa. Saya sebagai owner tidak bisa apa-apa tanpa tim yang hebat. Dan itu yang membuat Bujang Kurir bertahan hingga detik ini,” ungkap alumni Universitas Gadjah Mada Yogyakarta ini.

Sebagai sebuah bisnis jasa, para Kawan Bujang juga dilatih untuk menjalin komunikasi yang baik dengan konsumen. Mereka dilatih untuk menerapkan konsep personal delivery.

“Mereka tidak sekadar mengantarkan pesanan, tetapi berbicara dengan konsumen. Ini makanannya, silakan cek dulu, ini nota dan ongkirnya. Ini komunikasi yang dibangun kurir dan pelanggan maupun tempat berbelanja,” kata dia. Riszky meyakini inovasi dan komunikasi adalah hal-hal yang membuat pelanggan Bujang Kurir bertahan dan akan terus berkembang. (*)

Most Read

Artikel Terbaru

/