alexametrics
27.8 C
Pontianak
Tuesday, July 5, 2022

Harga Kratom Anjlok, Pelaku Minta Ekspor Distandarisasi

PONTIANAK – Harga kratom terus merosot dari bulan ke bulan. Ketua Perkumpulan Pengusaha Kratom Indonesia (Perkrindo) Yosef menyebut hal ini lantaran suplai yang jauh melebihi permintaan, sehingga mendorong perang harga di tingkat hulu hingga eksportir. Menurutnya, persaingan tidak sehat ini dapat mendorong harga kratom lebih jatuh lagi ke depannya.

Sebelumnya hanya Kabupaten Kapuas Hulu yang dikenal sebagai penghasil kratom. Namun kini para petani dari kabupaten lain juga menanam tumbuhan ini. “Ini karena ada euforia kratom di Kalbar. Karena dulu harganya menarik, maka semakin banyak orang membuka lahan. Sedangkan pertumbuhan demand pasar luar negeri tidak berimbang,” kata dia saat pertemuan antar-pengusaha dan asosiasi kratom di Pontianak, kemarin (21/6).

Perkrindo dan sejumlah asosiasi lain pun mendorong pemerintah untuk mengintervensi dan memberlakukan aturan terkait produksi kratom ekspor. “Kami sangat menyetujui adanya standar produksi yang di tetapkan. Kami sendiri secara internal terus mengedukasi dan mensosialisasikan ke para pelaku usaha perbaikan kualitas produk grade internasional,” jelasnya.

Baca Juga :  Midji: Jangan Buru-Buru Larang Kratom

Eksportir kratom Rudyzar Zaidar Mochtar, mengatakan saat ini harga pasaran internasional kratom tiap kilogram dalam bentuk tepung tinggal empat dolar Amerika Serikat saja. Angka ini hanya sepersepuluh dari harga beberapa bulan lalu. “Dulu untuk powder satu kilogramnya bisa 40 dolar per kg. Di tingkat petani harga daun basah tinggal Rp4.000 dan daun kering remahan sekitar Rp20.000-30.000, tergantung kualitas,” sebut dia.

Selain itu, kata dia, saat ini ekspor kratom sebagian dijalankan via Jakarta. Beberapa penampung di sana memborong kratom Kalbar. Akibatnya, pemerintah daerah tidak mendapatkan pajak ekspor dari pengiriman tumbuhan yang menjadi obat herbal tersebut. Rudyzar berharap ada aturan yang mengatur hal ini. “Ini untuk melindungi petani dan pelaku usaha lokal di bidang kratom ini. Sebaiknya ekspor dilakukan di Pontianak, sehingga pajaknya masuk ke daerah. Gubernur bisa melakukan diskresi untuk hal ini,” ucap dia.

Baca Juga :  Program Relaksasi Tunggakan Iuran

Namun Perda ini jangan sampai menimbulkan praktik monopoli atau oligopoli ekspor. Kendati dia setuju harus ada syarat minimum bagi eksportir yang bisa melakukan ekspor. “Misalnya minimal harus ada gudang seluas 2.000 meter per segi. Eksportir harus punya fasilitas penggilingan dan pengeringan yang standar. Supaya tertib dan teratur. Selain itu daerah juga harus mendapatkan PAD, karena ini adalah salah satu produk unggulan warga Kalbar,” sebutnya.

Dia mencontohkan komoditas kopi dan sejumlah produk lainnya, yang harganya selalu stabil. “Di komoditas kopi misalnya ada kuota ekspor yang diberikan kepada pelaku usaha. Syaratnya mereka harus punya tempat produksi yang standar. Akibatnya jadi lebih terkontrol, kalau ada fluktuasi harga paling hanya tipis saja. tidak seperti kratom yang ekstrem anjloknya,” pungkasnya. (ars)

PONTIANAK – Harga kratom terus merosot dari bulan ke bulan. Ketua Perkumpulan Pengusaha Kratom Indonesia (Perkrindo) Yosef menyebut hal ini lantaran suplai yang jauh melebihi permintaan, sehingga mendorong perang harga di tingkat hulu hingga eksportir. Menurutnya, persaingan tidak sehat ini dapat mendorong harga kratom lebih jatuh lagi ke depannya.

Sebelumnya hanya Kabupaten Kapuas Hulu yang dikenal sebagai penghasil kratom. Namun kini para petani dari kabupaten lain juga menanam tumbuhan ini. “Ini karena ada euforia kratom di Kalbar. Karena dulu harganya menarik, maka semakin banyak orang membuka lahan. Sedangkan pertumbuhan demand pasar luar negeri tidak berimbang,” kata dia saat pertemuan antar-pengusaha dan asosiasi kratom di Pontianak, kemarin (21/6).

Perkrindo dan sejumlah asosiasi lain pun mendorong pemerintah untuk mengintervensi dan memberlakukan aturan terkait produksi kratom ekspor. “Kami sangat menyetujui adanya standar produksi yang di tetapkan. Kami sendiri secara internal terus mengedukasi dan mensosialisasikan ke para pelaku usaha perbaikan kualitas produk grade internasional,” jelasnya.

Baca Juga :  Eprise Sediakan Busana untuk Wanita

Eksportir kratom Rudyzar Zaidar Mochtar, mengatakan saat ini harga pasaran internasional kratom tiap kilogram dalam bentuk tepung tinggal empat dolar Amerika Serikat saja. Angka ini hanya sepersepuluh dari harga beberapa bulan lalu. “Dulu untuk powder satu kilogramnya bisa 40 dolar per kg. Di tingkat petani harga daun basah tinggal Rp4.000 dan daun kering remahan sekitar Rp20.000-30.000, tergantung kualitas,” sebut dia.

Selain itu, kata dia, saat ini ekspor kratom sebagian dijalankan via Jakarta. Beberapa penampung di sana memborong kratom Kalbar. Akibatnya, pemerintah daerah tidak mendapatkan pajak ekspor dari pengiriman tumbuhan yang menjadi obat herbal tersebut. Rudyzar berharap ada aturan yang mengatur hal ini. “Ini untuk melindungi petani dan pelaku usaha lokal di bidang kratom ini. Sebaiknya ekspor dilakukan di Pontianak, sehingga pajaknya masuk ke daerah. Gubernur bisa melakukan diskresi untuk hal ini,” ucap dia.

Baca Juga :  Pegiat Kratom Merasa ‘Dibunuh'

Namun Perda ini jangan sampai menimbulkan praktik monopoli atau oligopoli ekspor. Kendati dia setuju harus ada syarat minimum bagi eksportir yang bisa melakukan ekspor. “Misalnya minimal harus ada gudang seluas 2.000 meter per segi. Eksportir harus punya fasilitas penggilingan dan pengeringan yang standar. Supaya tertib dan teratur. Selain itu daerah juga harus mendapatkan PAD, karena ini adalah salah satu produk unggulan warga Kalbar,” sebutnya.

Dia mencontohkan komoditas kopi dan sejumlah produk lainnya, yang harganya selalu stabil. “Di komoditas kopi misalnya ada kuota ekspor yang diberikan kepada pelaku usaha. Syaratnya mereka harus punya tempat produksi yang standar. Akibatnya jadi lebih terkontrol, kalau ada fluktuasi harga paling hanya tipis saja. tidak seperti kratom yang ekstrem anjloknya,” pungkasnya. (ars)

Most Read

Artikel Terbaru

/