alexametrics
25 C
Pontianak
Friday, August 19, 2022

Harga TBS Terus Naik, Rp1.784 Per Kilogram

PONTIANAK – Sejak beberapa bulan terakhir harga komoditas kelapa sawit di Kalimantan Barat mengalami kenaikan bertahap. Terlebih pada Januari ini. Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Heronimus Hero mengatakan, harga tandan buah sawit berdasarkan indeks dan harga produksi pekebun periode I Januari 2020 rata-rata mencapai Rp1.784 per kilogram. Angka ini naik sekitar 8 persen dibanding Desember.

“Kita melihat dan bersyukur harga TBS yang ditetapkan dua kali dalam sebulan di Kalbar ini mengalami tren kenaikan, sehingga hal itu tentu akan ‘segar’ bagi petani sawit maupun perusahaan sawit,” jelas Hero kepada Pontianak Post, kemarin.

Dia mengatakan, harga TBS sawit per kilogram untuk umur tiga tahun saat ini Rp1.403,39, umur empat tahun Rp1.502,17, umur lima tahun Rp1.607,36, umur enam tahun Rp1.657,82, umur tujuh  tahun Rp1.717,59,  umur delapan tahun Rp1.772,80, dan umur sembilan tahun Rp1.803, 25. Sedangkan harga TBS untuk umur 10 – 20 tahun Rp1.880,60, umur 21 tahun Rp1.846,24, umur 22 tahun Rp1.837, 45, untuk umur 23 Rp1.792,06, umur 24 tahun Rp1.729,73 dan umur 25 tahun Rp1.671,25.

Baca Juga :  Eks Karyawan PTPN XIII Ngabang Tuntut Pesangon

Hero menambahkan bahwa faktor kenaikan harga TBS sawit karena harga minyak sawit mentah dan kernel sawit kian membaik. “Harga CPO dan PKO tentu dipengaruhi harga pasar internasional,” jelas dia.

Kenaikan harga TBS sawit, menurut dia, juga tidak lepas dari dampak penerapan B30 oleh pemerintah yang mendongkrak penyerapan CPO di dalam negeri. “Harga meningkat akan berkorelasi terhadap tingkat kesejahteraan petani. Semoga kondisi ini stabil dan terus meningkat harap dia,” paparnya.

Sebelumnya Ketua Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kalbar, Mukhlis Bentara menyebutkan bahwa kenaikan harga sawit karena adanya sentimen positif terhadap kebijakan B30. “Kemudian sejak akhir 2019 dan memasuki awal 2020 produksi minyak sawit mentah menurun dan dari sisi harga mampu mendongkrak harga sawit,” ujar dia.

Dia menyebutkan sejak akhir 2019 dan memasuki awal 2020 harga sawit terus naik di Kalbar. Salah satunya lantaran adanya sentimen positif terhadap kebijakan penggunaan biodiesel dalam negeri. Dia memprediksi harga sawit pada 2020 ini akan lebih stabil dan akan menguntungkan atau lebih baik dari tahun sebelumnya. “Semoga kondisi harga yang menjanjikan terus berlangsung. Sehingga pendapatan masyarakat akan lebih baik,” kata dia.

Baca Juga :  Harga TBS Terus Menanjak di Tengah Resesi

Sementara itu, guru besar Universitas Tanjungpura Prof Dr Thamrin Usman DEA menyebut Kalbar berpeluang besar untuk menjadi lumbung energi nasional. Pasalnya Kalbar memiliki produksi CPO nomor dua secara nasional. Namun kapasitas produksinya masih bisa ditingkatkan lagi. “Apalagi bila pada 2020 untuk B40 dan 2021 untuk B50,” ujarnya.

Bahkan, kata dia, bila ingin mengembangkan biodiesel B100 sekalipun, itu bisa dilakukan.Hanya saja, sayangnya hingga sekarang, daerah ini tak memiliki satupun pabrik biodiesel, apalagi niat serius untuk menghadirkan Agroindustri sebagai program hilirisasi produk berbasis minyak sawit. “Padahal daerah yang kita tempati saat ini memiliki sumber bahan baku energi masa depan yang luar biasa. Tetapi satupun pabriknya tidak ada. Semoga dengan makin besarnya kebutuhan biodesel dari kebijakan pemerintah, pada tahun ini bisa ada pabrik biodiesel di kita,” pungkasnya. (ars)

PONTIANAK – Sejak beberapa bulan terakhir harga komoditas kelapa sawit di Kalimantan Barat mengalami kenaikan bertahap. Terlebih pada Januari ini. Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Heronimus Hero mengatakan, harga tandan buah sawit berdasarkan indeks dan harga produksi pekebun periode I Januari 2020 rata-rata mencapai Rp1.784 per kilogram. Angka ini naik sekitar 8 persen dibanding Desember.

“Kita melihat dan bersyukur harga TBS yang ditetapkan dua kali dalam sebulan di Kalbar ini mengalami tren kenaikan, sehingga hal itu tentu akan ‘segar’ bagi petani sawit maupun perusahaan sawit,” jelas Hero kepada Pontianak Post, kemarin.

Dia mengatakan, harga TBS sawit per kilogram untuk umur tiga tahun saat ini Rp1.403,39, umur empat tahun Rp1.502,17, umur lima tahun Rp1.607,36, umur enam tahun Rp1.657,82, umur tujuh  tahun Rp1.717,59,  umur delapan tahun Rp1.772,80, dan umur sembilan tahun Rp1.803, 25. Sedangkan harga TBS untuk umur 10 – 20 tahun Rp1.880,60, umur 21 tahun Rp1.846,24, umur 22 tahun Rp1.837, 45, untuk umur 23 Rp1.792,06, umur 24 tahun Rp1.729,73 dan umur 25 tahun Rp1.671,25.

Baca Juga :  Harga dan Ekspor Sawit Naik

Hero menambahkan bahwa faktor kenaikan harga TBS sawit karena harga minyak sawit mentah dan kernel sawit kian membaik. “Harga CPO dan PKO tentu dipengaruhi harga pasar internasional,” jelas dia.

Kenaikan harga TBS sawit, menurut dia, juga tidak lepas dari dampak penerapan B30 oleh pemerintah yang mendongkrak penyerapan CPO di dalam negeri. “Harga meningkat akan berkorelasi terhadap tingkat kesejahteraan petani. Semoga kondisi ini stabil dan terus meningkat harap dia,” paparnya.

Sebelumnya Ketua Gabungan Perusahaan Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) Kalbar, Mukhlis Bentara menyebutkan bahwa kenaikan harga sawit karena adanya sentimen positif terhadap kebijakan B30. “Kemudian sejak akhir 2019 dan memasuki awal 2020 produksi minyak sawit mentah menurun dan dari sisi harga mampu mendongkrak harga sawit,” ujar dia.

Dia menyebutkan sejak akhir 2019 dan memasuki awal 2020 harga sawit terus naik di Kalbar. Salah satunya lantaran adanya sentimen positif terhadap kebijakan penggunaan biodiesel dalam negeri. Dia memprediksi harga sawit pada 2020 ini akan lebih stabil dan akan menguntungkan atau lebih baik dari tahun sebelumnya. “Semoga kondisi harga yang menjanjikan terus berlangsung. Sehingga pendapatan masyarakat akan lebih baik,” kata dia.

Baca Juga :  Spin Off Perbankan Syariah Kurang Efisien

Sementara itu, guru besar Universitas Tanjungpura Prof Dr Thamrin Usman DEA menyebut Kalbar berpeluang besar untuk menjadi lumbung energi nasional. Pasalnya Kalbar memiliki produksi CPO nomor dua secara nasional. Namun kapasitas produksinya masih bisa ditingkatkan lagi. “Apalagi bila pada 2020 untuk B40 dan 2021 untuk B50,” ujarnya.

Bahkan, kata dia, bila ingin mengembangkan biodiesel B100 sekalipun, itu bisa dilakukan.Hanya saja, sayangnya hingga sekarang, daerah ini tak memiliki satupun pabrik biodiesel, apalagi niat serius untuk menghadirkan Agroindustri sebagai program hilirisasi produk berbasis minyak sawit. “Padahal daerah yang kita tempati saat ini memiliki sumber bahan baku energi masa depan yang luar biasa. Tetapi satupun pabriknya tidak ada. Semoga dengan makin besarnya kebutuhan biodesel dari kebijakan pemerintah, pada tahun ini bisa ada pabrik biodiesel di kita,” pungkasnya. (ars)

Most Read

Artikel Terbaru

/