alexametrics
25 C
Pontianak
Tuesday, June 28, 2022

Industri Kopi Bubuk Tertolong Konsumsi Rumah Tangga

PONTIANAK – Pandemi covid-19 tidak hanya berdampak pada usaha warung kopi di Kalimantan Barat. Para produsen bubuk kopi pun turut terimbas. Beruntung selama pembatasan aktivitas, industri kopi tertolong konsumsi rumah tangga, yang membuat omset tak berkurang terlalu lebar.

“Industri kopi bubuk yang terbantu oleh konsumsi rumah tangga yang cukup stabil, mungkin sebagian pelaku ada yg mengalami kenaikan karena peralihan pola konsumsi,” ungkap Owner Kopi Dua Enggang, Andreas Eko, di Pontianak, kemarin.

Dia menjelaskan, secara umum industri kopi mengalami penurunan secara omset sejak Maret 2020, imbas pandemi covid-19. Penurunan itu, khususnya terjadi pada di sektor usaha warung kopi dan cafe. Secara garis besar, hal ini menyebabkan terjadinya penurunan omset sampai 40 persen jika dihitung kombinasi dengan pemakaian rumah tangga.

“Pemakaian kopi bubuk khusus sektor warung kopi dan cafe saat pembatasan aktivitas masyarakat menurun sampai 80 persen,” jelas dia.

Baca Juga :  Pangkas Lemak dengan Kopi Campur Minyak Kelapa Murni

Kesulitan memasarkan bubuk kopi miliknya juga sempat ia rasakan. Itu terjadi karena daerah pemasarannya, yakni di perhuluan sungai Kapuas, beberapa daerah di antaranya menutup akses jalan. “Awalnya terasa karena orang dari pinggiran menutup akses jalan setempat,” kata dia.

Namun kondisi saat ini, sudah jauh lebih baik dari pada saat pengetatan aktivitas masyarakat. Jika sebelumnya, omset turun sekitar 40 persen, saat ini, dikatakan dia, omset yang tercatat hanya minus 20 persen. Hal ini baginya cukup sangat mengembirakan. Dalam kondisi tersebut, pihaknya tidak sama sekali merumahkan karyawan.

“Kami sama sekali tidak merumahkan karyawan. Kecuali karyawan sendiri tidak mau kerja. Sejauh ini, semua karyawan sangat mengerti bahwa kita semua perlu saling menjaga di antara rekan kerja,” kata dia.

Baca Juga :  Menurun pada Triwulan I-2022, DJPb Kalbar Dorong Realisasi Belanja APBN

Selama masa pandemi covid-19, dia mengaku tak mengalami kekurangan pasokan bahan baku berupa biji kopi. Menurutnya stok biji kopi yang didatangkan dari Jawa dan Sumatra cukup aman.

Di masa seperti ini, dirinya berharap ada dukungan dari pemerintah dalam bentuk pembinaan kepada para pelaku usaha, terutama dalam hal penguatan dan perluasan jaringan dengan pemanfaatan Market Place. Dengan pelatihan ini, para pelaku usaha yang bergerak di bidang perkopian, dapat menjangkau pangsa pasar yang lebih luas.

“Agar rumah tangga yang memerlukan kopi yang bagus dapat menjangkau produk lokal melalui market place. Perlu juga melakukan pembinaan kepada warkop agar bisa tetap beroperasi secara aman sesuai SOP pandemi sehingga ekonomi tetap dapat berjalan serta dapat menyerap tenaga kerja dari sektor ini,” pungkas dia. (sti)

PONTIANAK – Pandemi covid-19 tidak hanya berdampak pada usaha warung kopi di Kalimantan Barat. Para produsen bubuk kopi pun turut terimbas. Beruntung selama pembatasan aktivitas, industri kopi tertolong konsumsi rumah tangga, yang membuat omset tak berkurang terlalu lebar.

“Industri kopi bubuk yang terbantu oleh konsumsi rumah tangga yang cukup stabil, mungkin sebagian pelaku ada yg mengalami kenaikan karena peralihan pola konsumsi,” ungkap Owner Kopi Dua Enggang, Andreas Eko, di Pontianak, kemarin.

Dia menjelaskan, secara umum industri kopi mengalami penurunan secara omset sejak Maret 2020, imbas pandemi covid-19. Penurunan itu, khususnya terjadi pada di sektor usaha warung kopi dan cafe. Secara garis besar, hal ini menyebabkan terjadinya penurunan omset sampai 40 persen jika dihitung kombinasi dengan pemakaian rumah tangga.

“Pemakaian kopi bubuk khusus sektor warung kopi dan cafe saat pembatasan aktivitas masyarakat menurun sampai 80 persen,” jelas dia.

Baca Juga :  Dukung UMKM Tembus Pasar Global, BRI Gelar Pameran Virtual BRILIANPRENEUR 2021

Kesulitan memasarkan bubuk kopi miliknya juga sempat ia rasakan. Itu terjadi karena daerah pemasarannya, yakni di perhuluan sungai Kapuas, beberapa daerah di antaranya menutup akses jalan. “Awalnya terasa karena orang dari pinggiran menutup akses jalan setempat,” kata dia.

Namun kondisi saat ini, sudah jauh lebih baik dari pada saat pengetatan aktivitas masyarakat. Jika sebelumnya, omset turun sekitar 40 persen, saat ini, dikatakan dia, omset yang tercatat hanya minus 20 persen. Hal ini baginya cukup sangat mengembirakan. Dalam kondisi tersebut, pihaknya tidak sama sekali merumahkan karyawan.

“Kami sama sekali tidak merumahkan karyawan. Kecuali karyawan sendiri tidak mau kerja. Sejauh ini, semua karyawan sangat mengerti bahwa kita semua perlu saling menjaga di antara rekan kerja,” kata dia.

Baca Juga :  Penelitian Terbaru Ungkap Manfaat Kopi Bagi Gula Darah dan DNA

Selama masa pandemi covid-19, dia mengaku tak mengalami kekurangan pasokan bahan baku berupa biji kopi. Menurutnya stok biji kopi yang didatangkan dari Jawa dan Sumatra cukup aman.

Di masa seperti ini, dirinya berharap ada dukungan dari pemerintah dalam bentuk pembinaan kepada para pelaku usaha, terutama dalam hal penguatan dan perluasan jaringan dengan pemanfaatan Market Place. Dengan pelatihan ini, para pelaku usaha yang bergerak di bidang perkopian, dapat menjangkau pangsa pasar yang lebih luas.

“Agar rumah tangga yang memerlukan kopi yang bagus dapat menjangkau produk lokal melalui market place. Perlu juga melakukan pembinaan kepada warkop agar bisa tetap beroperasi secara aman sesuai SOP pandemi sehingga ekonomi tetap dapat berjalan serta dapat menyerap tenaga kerja dari sektor ini,” pungkas dia. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/