alexametrics
27 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Usaha Kopi Lada Hitam

Ayu Klaim Hanya Dijual di Kalbar

PONTIANAK – Satu-satunya cara agar dapat menaikkan harga sebuah komoditas adalah mengolahnya dengan memberikan nilai tambah. Hal inilah yang dilakukan oleh Owner Mami Ayu, Wahyu Widayati (47), yang meningkatkan nilai ekonomi komoditas kopi. Lewat racikannya, lahirlah produk kopi lada hitam, dan kopi jahe merah.

Usaha itu digeluti Ayu, sapaan akrabnya, sejak tahun 2017 yang lalu. Usahanya itu, ia jalankan di wilayah perbatasan Entikong, Kabupaten Sanggau. Status PNS yang ia sandang saat itu, tak menghalanginya untuk membuka usaha sendiri. Ia melihat ada potensi pengolahan komoditas kopi.  “Awal usaha ini lakukan di Entikong, sebab saat itu kebetulan saya bertugas disana,” ungkap dia, kemarin.

Dipilihnya kopi campuran lada hitam, bukannya tidak beralasan. Selain mempertimbangkan faktor rasa, ia melihat, kondisi harga lada hitam yang masih rendah. Dengan diolah dalam campuran kopi, maka nilai ekonomi lada menjadi lebih baik.

Baca Juga :  Hore Mahasiswa Untan Dapat Kiriman 30GB dari Kampus

Selain kopi lada hitam, dan kopi jahe merah, ia juga menjual kopi original. Di antara tiga produk itu, diakuinya, produk kopi lada hitam paling banyak diminati oleh konsumen. “Kopi lada hitam ini menurut saya sangat khas, bahkan saya yakin kalau kopi ini baru pertama ada dan hanya dijual di Kalbar,” kata dia.

Produk kopi tersebut, ia jual mulai dari harga Rp10-40 ribu per kemasan. Peminatnya, dikatakan dia, didominasi oleh konsumen dari luar Kalbar. “Saya juga sudah ada rekan tetap pembeli kopi ini, seperti dari Cilacap, bahkan ada pula pemesanan dari Thailand,” sebutnya.

Pemasaran secara konvensional juga masih diterapkannya, dengan memasang produknya itu di toko yang berlokasi di Entikong. Ia juga telah melakukan ekspansi bisnis ke Pontianak. Apalagi beberapa  bulan yang lalu, ia pindah tugas di ibukota Kalbar itu. Dengan berada di pusat kota, ia yakin akan lebih memudahkan usahanya. “Saat ini produk kopi ini sudah saya titip di toko oleh-oleh seperti PSP, bandara, Rumah Radakng dan dibeberapa toko lainnya,” tuturnya.

Baca Juga :  Kumi Lebih Disukai  Pelaku Usaha Mikro

Dalam menjalankan usahaya itu, Ayu tak sendiri. Ia juga dibantu oleh beberapa rekannya yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) Batas Negeri. Dalam sekali produksi, ia mampu menghasilkan bubuk kopi sebanyak 3-5 kilogram.

Dia berharap, usaha yang dijalankan ini, membantu meningkatkan perekonomian para pekerjanya. Dia juga tidak menutup kemungkinan terbuka bagi investor yang melirik usahanya, agar lebih besar dan berkembang. Tentu saja, semakin besar usaha, lapangan pekerjaan pun akan semakin besar. Selain itu, dia juga mendorong lahirnya pelaku usaha kopi di Kalbar, terlebih masih banyak potensi yang belum tergali secara maksimal. (sti)

Ayu Klaim Hanya Dijual di Kalbar

PONTIANAK – Satu-satunya cara agar dapat menaikkan harga sebuah komoditas adalah mengolahnya dengan memberikan nilai tambah. Hal inilah yang dilakukan oleh Owner Mami Ayu, Wahyu Widayati (47), yang meningkatkan nilai ekonomi komoditas kopi. Lewat racikannya, lahirlah produk kopi lada hitam, dan kopi jahe merah.

Usaha itu digeluti Ayu, sapaan akrabnya, sejak tahun 2017 yang lalu. Usahanya itu, ia jalankan di wilayah perbatasan Entikong, Kabupaten Sanggau. Status PNS yang ia sandang saat itu, tak menghalanginya untuk membuka usaha sendiri. Ia melihat ada potensi pengolahan komoditas kopi.  “Awal usaha ini lakukan di Entikong, sebab saat itu kebetulan saya bertugas disana,” ungkap dia, kemarin.

Dipilihnya kopi campuran lada hitam, bukannya tidak beralasan. Selain mempertimbangkan faktor rasa, ia melihat, kondisi harga lada hitam yang masih rendah. Dengan diolah dalam campuran kopi, maka nilai ekonomi lada menjadi lebih baik.

Baca Juga :  Hore Mahasiswa Untan Dapat Kiriman 30GB dari Kampus

Selain kopi lada hitam, dan kopi jahe merah, ia juga menjual kopi original. Di antara tiga produk itu, diakuinya, produk kopi lada hitam paling banyak diminati oleh konsumen. “Kopi lada hitam ini menurut saya sangat khas, bahkan saya yakin kalau kopi ini baru pertama ada dan hanya dijual di Kalbar,” kata dia.

Produk kopi tersebut, ia jual mulai dari harga Rp10-40 ribu per kemasan. Peminatnya, dikatakan dia, didominasi oleh konsumen dari luar Kalbar. “Saya juga sudah ada rekan tetap pembeli kopi ini, seperti dari Cilacap, bahkan ada pula pemesanan dari Thailand,” sebutnya.

Pemasaran secara konvensional juga masih diterapkannya, dengan memasang produknya itu di toko yang berlokasi di Entikong. Ia juga telah melakukan ekspansi bisnis ke Pontianak. Apalagi beberapa  bulan yang lalu, ia pindah tugas di ibukota Kalbar itu. Dengan berada di pusat kota, ia yakin akan lebih memudahkan usahanya. “Saat ini produk kopi ini sudah saya titip di toko oleh-oleh seperti PSP, bandara, Rumah Radakng dan dibeberapa toko lainnya,” tuturnya.

Baca Juga :  Kumi Lebih Disukai  Pelaku Usaha Mikro

Dalam menjalankan usahaya itu, Ayu tak sendiri. Ia juga dibantu oleh beberapa rekannya yang tergabung dalam Kelompok Usaha Bersama (KUB) Batas Negeri. Dalam sekali produksi, ia mampu menghasilkan bubuk kopi sebanyak 3-5 kilogram.

Dia berharap, usaha yang dijalankan ini, membantu meningkatkan perekonomian para pekerjanya. Dia juga tidak menutup kemungkinan terbuka bagi investor yang melirik usahanya, agar lebih besar dan berkembang. Tentu saja, semakin besar usaha, lapangan pekerjaan pun akan semakin besar. Selain itu, dia juga mendorong lahirnya pelaku usaha kopi di Kalbar, terlebih masih banyak potensi yang belum tergali secara maksimal. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/