alexametrics
31 C
Pontianak
Sunday, June 26, 2022

Kumi Lebih Disukai  Pelaku Usaha Mikro

PONTIANAK – Kredit Ultra Mikro (Kumi) di Kalbar terus mengalami tren kenaikan dari tahun ke tahun. Pada 2019 lalu penyaluran kredit UMI di Kalbar mencapai Rp10,52 miliar. Program kemandirian usaha yang menyasar usaha mikro yang berada di lapisan terbawah serta belum bisa difasilitasi perbankan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) ini telah dimanfaatkan sebanyak 2.737 debitur.

Pengamat UMKM Universitas Tanjungpura Pontianak, Muhammad Fahmi menyebut tren tersebut bisa menolong ekonomi di tingkat bawah. “Angka realisasi di tahun 2019 itu menunjukkan bahwa pembiayaan model ultra mikro sudah semakin mulai dikenal masyarakat dan dapat membantu kemajuan pelaku usaha di Kalbar,” kata dia.

Banyak dari pelaku UMKM yang mengeluhkan sisi modal yang terbatas. Bahkan sebagian dari UMKM tak berani mengambil kredit usaha lantaran takun membayar cicilan dan bunga yang membengkak. Padahal mulai banyak kredit usaha dengan proses mudah dan beban bunga subsidi pemerintah, seperti Kredit Usaha Rakyat dan Kumi. Hanya saja, menurut Fahmi, kredit Kumi memiliki keunggulan dalam hal kemudahan dan kecepatan. Jumlah pinjamannya juga relatif kecil, sehingga sesuai dengan para pelaku usaha mikro.

Baca Juga :  Kratom dan Tumbuhan Tropis Lain Miliki Senyawa Tangkal Corona

“Kumi ini menurut saya termasuk efektif. Berbeda dengan KUR, debitur kredit Kumi ini wajib mendapatkan pendampingan. Proses pendampingan inilah yang dinilai dia menjadi kunci penting agar usaha menjadi lebih berkembang. Pendampingan saya harus dilakukan secara berkelanjutan agar kredit yang diberikan berkualitas. Artinya penggunaan dana pinjaman itu mampu dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh pelaku usaha untuk meningkatkan usahanya,” ujarnya.

Dia berharap kredit Kumi dapat tersalurkan lebih optimal dengan jumlah debitur dan nilai kredit yang lebih besar. Tetapi yang tidak kalah penting adalah monitoring secara berkelanjutan para pelaku usaha yang saat ini telah menjadi kreditur. Perlu juga adanya basis data debitur kredit Kumi. Database penting dan pendampingan juga penting,” kata dia.

Baca Juga :  Kebakaran Lahan Diduga Disengaja, Udara Pontianak Sudah Tak Sehat

Data dari Kanwil Ditjen Perbendaharaan (DJPb) Kalbar menyebut bahwa, pada tahun 2017 ada 1.913 debitur kredit Umi dengan nilai sebesar Rp4,44 miliar. Angka ini naik menjadi 2124 debitur dengan nilai Rp8,41 miliar pada tahun 2018. Adapun dari 14 kabupaten/kota di Kalbar, pada tahun 2019, Mempawah menjadi pangsa yang paling besar, yaitu sebanyak 1.027 dengan nilai Rp3,57 miliar, disusul Kota Pontianak sebanyak 931 debitur dengan nilai kredit Rp 2,8 miliar.

Untuk lembaga penyalurannya, di Kalbar terdapat enam lembaga. Lembaga penyalur yang paling besar adalah Permodalan Nasional Mandiri (PNM) dengan jumlah debitur sebanyak 1.531, disusul PT Pegadaian 453 debitur. Adapun empat penyalur lainnya, adalah Kantor Cabang KSPPS BMT Bina Ummat Sejahtera Wilayah Kalbar, KSPS BMT UGT Sidogiri, KSPPS Tamzis Bina Utama, serta KSPPS BMT Bina. (ars)

PONTIANAK – Kredit Ultra Mikro (Kumi) di Kalbar terus mengalami tren kenaikan dari tahun ke tahun. Pada 2019 lalu penyaluran kredit UMI di Kalbar mencapai Rp10,52 miliar. Program kemandirian usaha yang menyasar usaha mikro yang berada di lapisan terbawah serta belum bisa difasilitasi perbankan melalui program Kredit Usaha Rakyat (KUR) ini telah dimanfaatkan sebanyak 2.737 debitur.

Pengamat UMKM Universitas Tanjungpura Pontianak, Muhammad Fahmi menyebut tren tersebut bisa menolong ekonomi di tingkat bawah. “Angka realisasi di tahun 2019 itu menunjukkan bahwa pembiayaan model ultra mikro sudah semakin mulai dikenal masyarakat dan dapat membantu kemajuan pelaku usaha di Kalbar,” kata dia.

Banyak dari pelaku UMKM yang mengeluhkan sisi modal yang terbatas. Bahkan sebagian dari UMKM tak berani mengambil kredit usaha lantaran takun membayar cicilan dan bunga yang membengkak. Padahal mulai banyak kredit usaha dengan proses mudah dan beban bunga subsidi pemerintah, seperti Kredit Usaha Rakyat dan Kumi. Hanya saja, menurut Fahmi, kredit Kumi memiliki keunggulan dalam hal kemudahan dan kecepatan. Jumlah pinjamannya juga relatif kecil, sehingga sesuai dengan para pelaku usaha mikro.

Baca Juga :  Boyong Produk UMKM, Laku Terjual

“Kumi ini menurut saya termasuk efektif. Berbeda dengan KUR, debitur kredit Kumi ini wajib mendapatkan pendampingan. Proses pendampingan inilah yang dinilai dia menjadi kunci penting agar usaha menjadi lebih berkembang. Pendampingan saya harus dilakukan secara berkelanjutan agar kredit yang diberikan berkualitas. Artinya penggunaan dana pinjaman itu mampu dimanfaatkan semaksimal mungkin oleh pelaku usaha untuk meningkatkan usahanya,” ujarnya.

Dia berharap kredit Kumi dapat tersalurkan lebih optimal dengan jumlah debitur dan nilai kredit yang lebih besar. Tetapi yang tidak kalah penting adalah monitoring secara berkelanjutan para pelaku usaha yang saat ini telah menjadi kreditur. Perlu juga adanya basis data debitur kredit Kumi. Database penting dan pendampingan juga penting,” kata dia.

Baca Juga :  Gelar Pekan QRIS

Data dari Kanwil Ditjen Perbendaharaan (DJPb) Kalbar menyebut bahwa, pada tahun 2017 ada 1.913 debitur kredit Umi dengan nilai sebesar Rp4,44 miliar. Angka ini naik menjadi 2124 debitur dengan nilai Rp8,41 miliar pada tahun 2018. Adapun dari 14 kabupaten/kota di Kalbar, pada tahun 2019, Mempawah menjadi pangsa yang paling besar, yaitu sebanyak 1.027 dengan nilai Rp3,57 miliar, disusul Kota Pontianak sebanyak 931 debitur dengan nilai kredit Rp 2,8 miliar.

Untuk lembaga penyalurannya, di Kalbar terdapat enam lembaga. Lembaga penyalur yang paling besar adalah Permodalan Nasional Mandiri (PNM) dengan jumlah debitur sebanyak 1.531, disusul PT Pegadaian 453 debitur. Adapun empat penyalur lainnya, adalah Kantor Cabang KSPPS BMT Bina Ummat Sejahtera Wilayah Kalbar, KSPS BMT UGT Sidogiri, KSPPS Tamzis Bina Utama, serta KSPPS BMT Bina. (ars)

Most Read

Artikel Terbaru

/