alexametrics
24 C
Pontianak
Monday, June 27, 2022

Bidik Kawasan Potensial Pertanian Kopi

PONTIANAK – Dinas Perkebunan Kalimantan Barat tengah membidik sejumlah daerah yang berpotensi untuk mengembangkan pertanian komoditas kopi. Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Heronimus Hero menyebut, berdasarkan rencana pembangunan Kalbar, luas kebun kopi ditargetkan sebesar 29 ribu hektare.

“Saat ini terdapat sekitar 11 ribu hektare kebun kopi. Sesuai rencana pembangunan Kalbar, pengembangan kebun kopi ditargetkan sebanyak 29 ribu hektare, berarti masih perlu sekitar 18 ribu hektare lagi,” ungkap dia, Kamis (25/6).

Sebanyak 11 ribu hektare kebun kopi, lanjut dia, tersebar di sejumlah wilayah Kalbar, seperti Sambas Ketapang Kayong dan Kubu Raya. Daerah yang paling luas, tercatat ada di Kubu Raya sebesar lima ribu hektare. Pihaknya saat ini tengah membidik kawasan-kawasan potensial untuk pengembangan komoditas yang satu ini. Beberapa daerah yang sudah dilirik itu, antara lain seperti Kubu Raya, Landak, hingga Ketapang.

Baca Juga :  Pangkas Lemak dengan Kopi Campur Minyak Kelapa Murni

“Sementara untuk di Sambas, sejumlah kebun kopi perlu untuk diremajakan,” kata dia.

Kopi, dikatakan Hero, menjadi salah satu komoditas unggulan Kalbar, selain karet, sawit, kelapa, kakao, dan lada. Komoditas ini menjadi komoditas unggulan lantaran sudah menjadi kebutuhan masyarakat, bahkan sudah menjadi gaya hidup. Pangsa pasarnya, kata dia, juga sangat luas.

Namun di sisi lain, pihaknya masih menghadapi sejumlah persoalan, salah satunya yakni produktivitas kopi yang rendah. Hero menyebut, rata-rata produktivitas kopi segar hanya sekitar tiga ton per hektare. Dari hasil itu, ternyata hanya menghasilkan biji kopi kering tidak sampai satu ton.

Hal lain yang dinilainya perlu menjadi perhatian dalam pengembangan kopi adalah kualitas dari produk olahan kopi. Kualitas inilah yang menurutnya akan menentukan nilai jual sebuah produk kopi, sehingga digemari oleh masyarakat.

Baca Juga :  Nikmati Kopi di Fakultas Kopi Terapkan Protokol Kesehatan 3M

“Biji kering itu harga murah hanya Rp50 ribu per kg. Tetapi kalau sudah di-roasting bisa 250 ribu per kg,” kata dia.

Kalimantan Barat dinilainya masih sangat potensial untuk mengembangkan komoditas ini. Setidaknya ada tiga jenis kopi yang bisa dikembangkan, yakni robusta, arabika dan liberika. Kopi jenis liberika, juga mulai dilirik karena sangat potensial untuk dikembangkan.

“Untuk kopi liberika di Kayong Utara sekitar 600 hektare,” pungkas dia. (sti)

PONTIANAK – Dinas Perkebunan Kalimantan Barat tengah membidik sejumlah daerah yang berpotensi untuk mengembangkan pertanian komoditas kopi. Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Heronimus Hero menyebut, berdasarkan rencana pembangunan Kalbar, luas kebun kopi ditargetkan sebesar 29 ribu hektare.

“Saat ini terdapat sekitar 11 ribu hektare kebun kopi. Sesuai rencana pembangunan Kalbar, pengembangan kebun kopi ditargetkan sebanyak 29 ribu hektare, berarti masih perlu sekitar 18 ribu hektare lagi,” ungkap dia, Kamis (25/6).

Sebanyak 11 ribu hektare kebun kopi, lanjut dia, tersebar di sejumlah wilayah Kalbar, seperti Sambas Ketapang Kayong dan Kubu Raya. Daerah yang paling luas, tercatat ada di Kubu Raya sebesar lima ribu hektare. Pihaknya saat ini tengah membidik kawasan-kawasan potensial untuk pengembangan komoditas yang satu ini. Beberapa daerah yang sudah dilirik itu, antara lain seperti Kubu Raya, Landak, hingga Ketapang.

Baca Juga :  Minuman Berkafein Cegah Obesitas

“Sementara untuk di Sambas, sejumlah kebun kopi perlu untuk diremajakan,” kata dia.

Kopi, dikatakan Hero, menjadi salah satu komoditas unggulan Kalbar, selain karet, sawit, kelapa, kakao, dan lada. Komoditas ini menjadi komoditas unggulan lantaran sudah menjadi kebutuhan masyarakat, bahkan sudah menjadi gaya hidup. Pangsa pasarnya, kata dia, juga sangat luas.

Namun di sisi lain, pihaknya masih menghadapi sejumlah persoalan, salah satunya yakni produktivitas kopi yang rendah. Hero menyebut, rata-rata produktivitas kopi segar hanya sekitar tiga ton per hektare. Dari hasil itu, ternyata hanya menghasilkan biji kopi kering tidak sampai satu ton.

Hal lain yang dinilainya perlu menjadi perhatian dalam pengembangan kopi adalah kualitas dari produk olahan kopi. Kualitas inilah yang menurutnya akan menentukan nilai jual sebuah produk kopi, sehingga digemari oleh masyarakat.

Baca Juga :  Pangkas Lemak dengan Kopi Campur Minyak Kelapa Murni

“Biji kering itu harga murah hanya Rp50 ribu per kg. Tetapi kalau sudah di-roasting bisa 250 ribu per kg,” kata dia.

Kalimantan Barat dinilainya masih sangat potensial untuk mengembangkan komoditas ini. Setidaknya ada tiga jenis kopi yang bisa dikembangkan, yakni robusta, arabika dan liberika. Kopi jenis liberika, juga mulai dilirik karena sangat potensial untuk dikembangkan.

“Untuk kopi liberika di Kayong Utara sekitar 600 hektare,” pungkas dia. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/