alexametrics
30 C
Pontianak
Monday, May 23, 2022

Kelompok Tani Bangun Pengumpul Karet Resmi

PONTIANAK – Sejumlah kelompok tani yang bergerak di komoditas karet di Kalimantan Barat (Kalbar) tengah berikhtiar menyelesaikan berbagai persoalan tata niaga komoditas itu. Mereka membentuk unit pengumpul resmi atau Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB), sebagai unit usaha yang menerima pasokan karet dari petani. Melalui unit usaha ini, mutu karet mereka jaga, dan bermitra langsung dengan pabrikan agar mendapat harga jual yang layak.

Salah satunya adalah Kelompok Tani Buluh Serumpun, di Desa Gapura, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas. Ketua kelompoknya, Ramli mengatakan, unit pengumpul tersebut dibangun pada tahun 2015 dengan harapan meningkatkan kesejahteraan petani karet. Mereka menjalin kerjasama dengan pabrikan, dan menjaga mutu karet yang dijual.”Modalnya adalah kekompakan. Jadi ada persaingan yang sehat antara kami dengan para pengepul atau tengkulak,” ungkap dia.

Semula, unit pengumpul karet ini hanya mampu memasok sebanyak 241 kg per bulan. Namun saat ini, pihaknya mampu menampung dan memasok hingga 2 ton per bulan. Ramli mengakui, sejak kelompok tani ini mendirikan unit pengumpul karet, harga yang diterima petani jauh lebih layak jika dibandingkan ketika mereka menjual karet kepada tengkulak. Selisih harga dari petani ke pabrik tak berbeda jauh.

Baca Juga :  Amankan Pasokan Listrik Selama Pilkada serta Perayaan Natal dan Tahun Baru, PLN Kalbar Siagakan 1.252 Petugas

“Waktu hanya ada tengkulak, selisih harga petani ke pabrik bisa 2800 per kilogram. Kalau untuk sekarang karena ada unit pengumpul, selisihnya paling Rp700-1000 per kilogram. Harganya lebih bersaing, karena tengkulak tidak berani menurunkan harga,” tutur dia.

Hal yang sama juga dirasakan UPPB Sindak Citra. UPPB yang didirikan kelompok tani ini, berupaya memasok karet berkualitas, sekaligus memangkas panjangnya rantai pasok karet dari petani ke pabrikan. “UPPB ini hadir mendampingi, memastikan, dan menjamin serta membeli karet dari anggota atau petani di sini dengan kualitas baik,” ungkap Rustamrin, Ketua UPPB Sindak Citra.

UPPB ini berlokasi di Desa Tengguli, Kecamatan Sajad, Kabupaten Sambas. Berdiri sejak 19 Agustus 2019, unit usaha tersebut hingga kini eksis membantu petani menjual hasil karet kepada pabrik. Rustamrin menceritakan, para petani karet dulunya kerap memperoleh harga jual karet yang rendah.

Namun sejak ada UPPB, mereka memperoleh harga yang lebih layak. Hal ini karena UPPB, secara langsung memasok karet petani ke pabrik tanpa perantara pengumpul atau tengkulak. Ini membuat rantai pasok menjadi lebih sederhana, sehingga ongkos distribusi bisa ditekan.

Dalam memasok karetnya, kedua kelompok pengumpul karet ini menjalin kerjasama dengan PT New Kalbar Processor. Kerjasama yang terjalin tersebut telah dikuatkan dengan penandatanganan kesepakatan (MoU) yang dilakukan pada awal September lalu.

Baca Juga :  Tidak Semua Dapat Keringanan Kredit

Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Heronimus Hero mengatakan, karet merupakan salah satu komoditas unggulan perkebunan di provinsi ini, yang mana sekitar 25 persen atau setara 1,25 Juta penduduk provinsi ini menggantungkan hidupnya pada komoditas ini. Karena itulah pihaknya kini fokus dalam perbaikan tata niaga karet agar para petani serta pihak-pihak yang terlibat dalam industri ini mendapatkan kesejahteraan. Salah satunya terkait permasalahan harga karet yang kerap dianggap murah.

“Harga karet ini sebenarnya tidak rendah. Hanya di tingkat petani yang rendah, karena rantai pasoknya yang terlalu panjang. Nah, rantai pasok yang panjang inilah yang ingin kita pangkas agar lebih sederhana,” kata dia,

Pihaknya telah menggodok strategi tata niaga produk karet melalui Networking Entrepreneurship, yang menjadi alternatif yang sangat relevan dengan kondisi lapangan, sistematis dan berdampak luas kepada masyarakat dan pemerintah daerah. Namun untuk merealisasikan strategi ini, dia menilai penting peran serta pemerintah daerah. Salah satunya dengan mendorong lahirnya kelompok pengumpul resmi, sekaligus memfasilitasi mereka menjalin kerjasama dengan pabrikan. (sti)

 

 

PONTIANAK – Sejumlah kelompok tani yang bergerak di komoditas karet di Kalimantan Barat (Kalbar) tengah berikhtiar menyelesaikan berbagai persoalan tata niaga komoditas itu. Mereka membentuk unit pengumpul resmi atau Unit Pengolahan dan Pemasaran Bokar (UPPB), sebagai unit usaha yang menerima pasokan karet dari petani. Melalui unit usaha ini, mutu karet mereka jaga, dan bermitra langsung dengan pabrikan agar mendapat harga jual yang layak.

Salah satunya adalah Kelompok Tani Buluh Serumpun, di Desa Gapura, Kecamatan Sambas, Kabupaten Sambas. Ketua kelompoknya, Ramli mengatakan, unit pengumpul tersebut dibangun pada tahun 2015 dengan harapan meningkatkan kesejahteraan petani karet. Mereka menjalin kerjasama dengan pabrikan, dan menjaga mutu karet yang dijual.”Modalnya adalah kekompakan. Jadi ada persaingan yang sehat antara kami dengan para pengepul atau tengkulak,” ungkap dia.

Semula, unit pengumpul karet ini hanya mampu memasok sebanyak 241 kg per bulan. Namun saat ini, pihaknya mampu menampung dan memasok hingga 2 ton per bulan. Ramli mengakui, sejak kelompok tani ini mendirikan unit pengumpul karet, harga yang diterima petani jauh lebih layak jika dibandingkan ketika mereka menjual karet kepada tengkulak. Selisih harga dari petani ke pabrik tak berbeda jauh.

Baca Juga :  Harga Karet Tinggi, Pabrik Kekurangan Bokar

“Waktu hanya ada tengkulak, selisih harga petani ke pabrik bisa 2800 per kilogram. Kalau untuk sekarang karena ada unit pengumpul, selisihnya paling Rp700-1000 per kilogram. Harganya lebih bersaing, karena tengkulak tidak berani menurunkan harga,” tutur dia.

Hal yang sama juga dirasakan UPPB Sindak Citra. UPPB yang didirikan kelompok tani ini, berupaya memasok karet berkualitas, sekaligus memangkas panjangnya rantai pasok karet dari petani ke pabrikan. “UPPB ini hadir mendampingi, memastikan, dan menjamin serta membeli karet dari anggota atau petani di sini dengan kualitas baik,” ungkap Rustamrin, Ketua UPPB Sindak Citra.

UPPB ini berlokasi di Desa Tengguli, Kecamatan Sajad, Kabupaten Sambas. Berdiri sejak 19 Agustus 2019, unit usaha tersebut hingga kini eksis membantu petani menjual hasil karet kepada pabrik. Rustamrin menceritakan, para petani karet dulunya kerap memperoleh harga jual karet yang rendah.

Namun sejak ada UPPB, mereka memperoleh harga yang lebih layak. Hal ini karena UPPB, secara langsung memasok karet petani ke pabrik tanpa perantara pengumpul atau tengkulak. Ini membuat rantai pasok menjadi lebih sederhana, sehingga ongkos distribusi bisa ditekan.

Dalam memasok karetnya, kedua kelompok pengumpul karet ini menjalin kerjasama dengan PT New Kalbar Processor. Kerjasama yang terjalin tersebut telah dikuatkan dengan penandatanganan kesepakatan (MoU) yang dilakukan pada awal September lalu.

Baca Juga :  Program CSR Perusahaan Sawit Bisa Naikkan Status Desa

Kepala Dinas Perkebunan Kalbar, Heronimus Hero mengatakan, karet merupakan salah satu komoditas unggulan perkebunan di provinsi ini, yang mana sekitar 25 persen atau setara 1,25 Juta penduduk provinsi ini menggantungkan hidupnya pada komoditas ini. Karena itulah pihaknya kini fokus dalam perbaikan tata niaga karet agar para petani serta pihak-pihak yang terlibat dalam industri ini mendapatkan kesejahteraan. Salah satunya terkait permasalahan harga karet yang kerap dianggap murah.

“Harga karet ini sebenarnya tidak rendah. Hanya di tingkat petani yang rendah, karena rantai pasoknya yang terlalu panjang. Nah, rantai pasok yang panjang inilah yang ingin kita pangkas agar lebih sederhana,” kata dia,

Pihaknya telah menggodok strategi tata niaga produk karet melalui Networking Entrepreneurship, yang menjadi alternatif yang sangat relevan dengan kondisi lapangan, sistematis dan berdampak luas kepada masyarakat dan pemerintah daerah. Namun untuk merealisasikan strategi ini, dia menilai penting peran serta pemerintah daerah. Salah satunya dengan mendorong lahirnya kelompok pengumpul resmi, sekaligus memfasilitasi mereka menjalin kerjasama dengan pabrikan. (sti)

 

 

Most Read

Artikel Terbaru

/