alexametrics
27 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

OJK Kalbar Sebut Porsi Kredit Produktif Mendominasi

*Restrukturisasi Kredit Kalbar Capai 1,3 Triliun

PONTIANAK – Restrukturisasi yang dilakukan oleh lembaga jasa keuangan (LJK) di Kalimantan Barat (Kalbar) sudah mulai direalisasikan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalbar mencatat,  hingga 14 Mei 2020, total nilai restrukturisasi yang dilalukan oleh LJK di provinsi ini mencapai 1,34 Triliun dengan jumlah debitur sebanyak 25.675. Porsi kredit produktif paling mendominasi.

Berdasarkan data dari OJK Kalbar, hingga 14 Mei 2020, nilai restrukturisasi kredit yang dilakukan oleh perusahaan pembiayaan sebesar Rp543,14 miliar dengan jumlah debitur 21.897, serta perbankan sebesar Rp805,65 miliar dengan jumlah debitur 3.778.

Kepala OJK Kalbar, Moch Riezky F Purnomo menerangkan, porsi kredit produktif yang terdiri dari kredit modal kerja dan kredit investasi, lebih besar dibandingkan kredit konsumtif. “Hal ini dikarenakan usaha yang menjadi sumber pendapatan debitur kredit produktif lebih terdampak secara langsung maupun tidak langsung oleh penyebaran Covid-19 sehingga menurunkan kemampuan bayar debitur kredit produktif,” jelas dia, Jumat (29/5).

Baca Juga :  PLN Dorong Pertumbuhan Usaha Pelaku UMKM di Ketapang

Dia menyebut, porsi restrukturisasi berdasarkan jenis penggunaan posisi 30 April 2020 adalah kredit modal kerja sebesar 55,4 persen, Kredit Investasi 32,2 persen dan Kredit Konsumsi 12,4 persen. Kredit konsumtif, jelas dia, sebagian besar diberikan kepada debitur berdasarkan analisa pendapatan tetap yang diperoleh tiap bulan seperti gaji, sehingga tidak terdampak pandemi Covid-19 dan sebagian besar masih memiliki kemampuan membayar angsuran kredit.

Lebih lanjut dia menjelaskan, program restrukturisasi pembiayaan ini diberikan kepada debitur terdampak langsung maupun tidak langsung atas mewabahnya covid-19, baik debitur individu maupun badan usaha. Jika dilihat dari jenis sektornya, sektor kredit yang paling dominan secara nominal adalah sektor perdagangan besar dan eceran, dengan porsi sebesar 51,8 persen, pertanian perburuan dan kehutanan 10,6 persen dan industri pengolahan 7,8 persen.

Baca Juga :  Antrean LPG Mulai Berkurang

Riezky mengatakan, terdapat beberapa pengaduan terkait kebijakan restrukturisasi ini. Pengaduan tersebut umumnya dari masyarakat yang belum memahami sepenuhnya kebijakan stimulus seperti permintaan libur angsuran secara penuh selama setahun, atau adanya indikasi moral hazard dari debitur dimaksud. Pihaknyanya menegaskan bahwa, debitur yang terdampak covid-19, dengan itikad baik secara proaktif menghubungi LJK dengan mematuhi syarat-syarat yang ditentukan maka tidak ada alasan bagi LJK untuk tidak mengabulkan permohonan restrukturisasi.

“OJK terus mendorong agar LJK akomodatif terhadap pelaksanaan stimulus yang telah dikeluarkan, dengan tetap menerapkan manajemen risiko yang baik, sehingga diharapkan mampu mengurangi dampak pandemi covid-19 pada ekonomi masyarakat sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan Indonesia,” pungkas dia. (sti)

*Restrukturisasi Kredit Kalbar Capai 1,3 Triliun

PONTIANAK – Restrukturisasi yang dilakukan oleh lembaga jasa keuangan (LJK) di Kalimantan Barat (Kalbar) sudah mulai direalisasikan. Otoritas Jasa Keuangan (OJK) Kalbar mencatat,  hingga 14 Mei 2020, total nilai restrukturisasi yang dilalukan oleh LJK di provinsi ini mencapai 1,34 Triliun dengan jumlah debitur sebanyak 25.675. Porsi kredit produktif paling mendominasi.

Berdasarkan data dari OJK Kalbar, hingga 14 Mei 2020, nilai restrukturisasi kredit yang dilakukan oleh perusahaan pembiayaan sebesar Rp543,14 miliar dengan jumlah debitur 21.897, serta perbankan sebesar Rp805,65 miliar dengan jumlah debitur 3.778.

Kepala OJK Kalbar, Moch Riezky F Purnomo menerangkan, porsi kredit produktif yang terdiri dari kredit modal kerja dan kredit investasi, lebih besar dibandingkan kredit konsumtif. “Hal ini dikarenakan usaha yang menjadi sumber pendapatan debitur kredit produktif lebih terdampak secara langsung maupun tidak langsung oleh penyebaran Covid-19 sehingga menurunkan kemampuan bayar debitur kredit produktif,” jelas dia, Jumat (29/5).

Baca Juga :  REC PLN Makin Diminati, Perusahaan Tekstil Nikmati Listrik Hijau 1.385 kVA

Dia menyebut, porsi restrukturisasi berdasarkan jenis penggunaan posisi 30 April 2020 adalah kredit modal kerja sebesar 55,4 persen, Kredit Investasi 32,2 persen dan Kredit Konsumsi 12,4 persen. Kredit konsumtif, jelas dia, sebagian besar diberikan kepada debitur berdasarkan analisa pendapatan tetap yang diperoleh tiap bulan seperti gaji, sehingga tidak terdampak pandemi Covid-19 dan sebagian besar masih memiliki kemampuan membayar angsuran kredit.

Lebih lanjut dia menjelaskan, program restrukturisasi pembiayaan ini diberikan kepada debitur terdampak langsung maupun tidak langsung atas mewabahnya covid-19, baik debitur individu maupun badan usaha. Jika dilihat dari jenis sektornya, sektor kredit yang paling dominan secara nominal adalah sektor perdagangan besar dan eceran, dengan porsi sebesar 51,8 persen, pertanian perburuan dan kehutanan 10,6 persen dan industri pengolahan 7,8 persen.

Baca Juga :  Tetap Hemat dan Nyaman, Ini Tips Mudik dan Lebaran ala BRI

Riezky mengatakan, terdapat beberapa pengaduan terkait kebijakan restrukturisasi ini. Pengaduan tersebut umumnya dari masyarakat yang belum memahami sepenuhnya kebijakan stimulus seperti permintaan libur angsuran secara penuh selama setahun, atau adanya indikasi moral hazard dari debitur dimaksud. Pihaknyanya menegaskan bahwa, debitur yang terdampak covid-19, dengan itikad baik secara proaktif menghubungi LJK dengan mematuhi syarat-syarat yang ditentukan maka tidak ada alasan bagi LJK untuk tidak mengabulkan permohonan restrukturisasi.

“OJK terus mendorong agar LJK akomodatif terhadap pelaksanaan stimulus yang telah dikeluarkan, dengan tetap menerapkan manajemen risiko yang baik, sehingga diharapkan mampu mengurangi dampak pandemi covid-19 pada ekonomi masyarakat sekaligus menjaga stabilitas sistem keuangan Indonesia,” pungkas dia. (sti)

Most Read

Artikel Terbaru

/