alexametrics
28 C
Pontianak
Wednesday, June 29, 2022

Minimalkan Penggunaan Uang Non-Rupiah di Kalbar

PONTIANAK – Bank Indonesia terus berupaya meminimalisir penggunaan uang non-rupiah di Kalimantan Barat. Kepala Kantor Perwakilan BI Kalbar Agus Chusaini mengatakan penggunaan Rupiah sangat berkaitan dengan kedaulatan sebuah bangsa. Dia mencontohkan lepasnya Sipadan dan Ligitan yang bermula dari maraknya penggunaan Ringgit di dua daerah tersebut.

“Lepasnya pulau Sipadan dan Ligitan dari NKRI merupakan catatan sejarah penting yang menjadi dasar proses penegakan Rupiah di wilayah Indonesia. Minimnya transaksi dan aktivitas ekonomi yang menggunakan Rupiah di Sipadan dan Ligitan menjadi salah satu pertimbangan dunia internasional atas lepasnya kedua pulau tersebut,” ujarnya saat sosialisasi dan edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah kepada para Pemuka Agama di Kalimantan Barat, Senin (29/3) di Kubu Raya.

Dia memaparkan, Undang-Undang No 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang menegaskan kedudukan Rupiah sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah dalam perekonomian nasional. Belajar dari pengalaman tersebut, menjadi tugas kita bersama sebagai warga negara Indonesia, secara khusus di Provinsi Kalimantan Barat yang beberapa wilayahnya berbatasan dengan negara asing, untuk menjaga kedaulatan Rupiah di wilayah NKRI. Salah satunya diwujudkan melalui kebanggaan masyarakat dalam menggunakan Rupiah.

Baca Juga :  Ekosistem Digital Genjot Penyaluran Kredit untuk UMKM di Kalimantan Barat

Pihaknya berharap banyak kepada para tokoh agaman. “Dalam mensosialisasikan Cinta, Bangga, Paham Rupiah, para pemuka agama memainkan kedudukan dan peranan strategis, sebagai salah satu sumber informasi dan narasumber masyarakat dalam menghadapi atau menyelesaikan permasalahan. Untuk itu, salah satu sasaran dalam kegiatan sosialisasi edukasi Rupiah adalah para pemuka agama, yang diharapkan dapat memberikan multiplier effect diseminasi lebih cepat. Tidak hanya kepada santri, tetapi juga masyarakat sekitarnya,” jelas dia..

Sebagai rangkaian dari kegiatan sosialisasi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat juga menyampaikan bantuan lanjutan peduli Covid-19 kepada pemuka agama di wilayah Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya. Bantuan diberikan mempertimbangkan wabah Covid-19 yang berlangsung sejak awal tahun 2020 telah memberikan dampak pada berbagai aspek kehidupan masyarakat, tidak hanya pada kesehatan tetapi juga ekonomi dan sosial.

Baca Juga :  BI Prediksi Transaksi Digital Banking Capai Rp35.600 Triliun Pada 2021

Sementara itu Wakil Gubernur Kalbar yang juga Ketua Dewan Masjid Indonesia Kalbar, Ria Norsan menyebut tantangan tentang penggunaan Rupiah di Kalbar besar, mengingat luas wilayah provinsi ini. Terlebih lagi letaknya yang berbatasan langsung dengan Malaysia. “Di Kalbar ini di wilayah perbatasan dengan Malaysia, seperti di Badau, masih kita temukan warga pakai Ringgit. Tantangan penggunaan Rupiah sangat besar mengingat wilayah Kalbar yang sangat luas,” ujarnya.

Tantangan lainnya adanya pengguaan cryptocurrency, bahkan ada gerakan untuk kembali ke sistem masa lalu dan menolak kebijakan mata uang yang berlaku. Dia berharap tokoh masyarakat dan pemuka agama juga turut menyukseskan penggunaan Rupiah. “Kalau kita bicara NKRI kan harus cinta tanah air. Cinta tanah itu sebagian dari iman. Kalau cinta tanah air maka kita wajib juga cinta rupiah,” pungkasnya. (ars)

PONTIANAK – Bank Indonesia terus berupaya meminimalisir penggunaan uang non-rupiah di Kalimantan Barat. Kepala Kantor Perwakilan BI Kalbar Agus Chusaini mengatakan penggunaan Rupiah sangat berkaitan dengan kedaulatan sebuah bangsa. Dia mencontohkan lepasnya Sipadan dan Ligitan yang bermula dari maraknya penggunaan Ringgit di dua daerah tersebut.

“Lepasnya pulau Sipadan dan Ligitan dari NKRI merupakan catatan sejarah penting yang menjadi dasar proses penegakan Rupiah di wilayah Indonesia. Minimnya transaksi dan aktivitas ekonomi yang menggunakan Rupiah di Sipadan dan Ligitan menjadi salah satu pertimbangan dunia internasional atas lepasnya kedua pulau tersebut,” ujarnya saat sosialisasi dan edukasi Cinta, Bangga, dan Paham Rupiah kepada para Pemuka Agama di Kalimantan Barat, Senin (29/3) di Kubu Raya.

Dia memaparkan, Undang-Undang No 7 Tahun 2011 tentang Mata Uang menegaskan kedudukan Rupiah sebagai satu-satunya alat pembayaran yang sah dalam perekonomian nasional. Belajar dari pengalaman tersebut, menjadi tugas kita bersama sebagai warga negara Indonesia, secara khusus di Provinsi Kalimantan Barat yang beberapa wilayahnya berbatasan dengan negara asing, untuk menjaga kedaulatan Rupiah di wilayah NKRI. Salah satunya diwujudkan melalui kebanggaan masyarakat dalam menggunakan Rupiah.

Baca Juga :  Pizza Kaya Mozarella itu Hanya di Panties Pizza

Pihaknya berharap banyak kepada para tokoh agaman. “Dalam mensosialisasikan Cinta, Bangga, Paham Rupiah, para pemuka agama memainkan kedudukan dan peranan strategis, sebagai salah satu sumber informasi dan narasumber masyarakat dalam menghadapi atau menyelesaikan permasalahan. Untuk itu, salah satu sasaran dalam kegiatan sosialisasi edukasi Rupiah adalah para pemuka agama, yang diharapkan dapat memberikan multiplier effect diseminasi lebih cepat. Tidak hanya kepada santri, tetapi juga masyarakat sekitarnya,” jelas dia..

Sebagai rangkaian dari kegiatan sosialisasi, Kantor Perwakilan Bank Indonesia Provinsi Kalimantan Barat juga menyampaikan bantuan lanjutan peduli Covid-19 kepada pemuka agama di wilayah Kota Pontianak dan Kabupaten Kubu Raya. Bantuan diberikan mempertimbangkan wabah Covid-19 yang berlangsung sejak awal tahun 2020 telah memberikan dampak pada berbagai aspek kehidupan masyarakat, tidak hanya pada kesehatan tetapi juga ekonomi dan sosial.

Baca Juga :  Laba BNI Tahun Lalu Melonjak 232,2 Persen, Pengguna Mobile Banking Meningkat

Sementara itu Wakil Gubernur Kalbar yang juga Ketua Dewan Masjid Indonesia Kalbar, Ria Norsan menyebut tantangan tentang penggunaan Rupiah di Kalbar besar, mengingat luas wilayah provinsi ini. Terlebih lagi letaknya yang berbatasan langsung dengan Malaysia. “Di Kalbar ini di wilayah perbatasan dengan Malaysia, seperti di Badau, masih kita temukan warga pakai Ringgit. Tantangan penggunaan Rupiah sangat besar mengingat wilayah Kalbar yang sangat luas,” ujarnya.

Tantangan lainnya adanya pengguaan cryptocurrency, bahkan ada gerakan untuk kembali ke sistem masa lalu dan menolak kebijakan mata uang yang berlaku. Dia berharap tokoh masyarakat dan pemuka agama juga turut menyukseskan penggunaan Rupiah. “Kalau kita bicara NKRI kan harus cinta tanah air. Cinta tanah itu sebagian dari iman. Kalau cinta tanah air maka kita wajib juga cinta rupiah,” pungkasnya. (ars)

Most Read

Artikel Terbaru

/