"Tanaman Singkong, Sagu atau sejenisnya dari dulu pemerintah Indonesia dan Kalbar sudah gaungkan itu. Kalau memang itu diwacanakan sangat bagus sekali. Tapi harus serius, jangan seremoni belaka," kata Sueb, Wakil Ketua Komisi 2 DPRD Kalbar belum lama ini.
Menurut politisi Hanura Kalbar ini, tanaman singkong berpotensi bagus dan baik sekali.
"Pertanyaannya kalau dijadikan isu utama di Forum Keamanan Pangan Dunia di Bali kemarin, harusnya diseriusi. Jangan hanya sebatas isu. Sebab isu singkong bukan hal baru," kata Sueb.
Menhan Prabowo sebelumnya mengatakan bahwa krisis pangan dunia terjadi, akibat efek pandemi COVID-19 yang melanda dunia. Itu diperburuk lagi dengan perang Rusia-Ukraina yang menghambat suplai pangan dunia, mengingat kedua negara tersebut penghasil gandum terbesar dunia.
Prabowo melanjutkan bahwa anak bangsa di Tanah Air sudah mampu memproduksinya menjadi berbagai produk makanan siap saji. "Kita sudah mampu produksi pasta, mi instan. Apalagi singkong," ujarnya.
Sueb membalas bahwa tanaman singkong harusnya memang bisa menjadi alternatif pangan penganti di Indonesia dan Kalbar. Nah bicara tingkat dunia, sepertinya mewacanakan singking juga sangat bagus sekali.
"Good ide, disuarakan pada pertemuan ditingkat dunia. Namu jangan hanya dibicarakan sebatas forum saja. Harus ada aksi. Kalbar sangat cocok dan layak menjadi agrobisnis luas untuk tanaman singkong. Kalau memang mau digalakan, ayo kita mulai," ucap dia.
Sueb melanjutkan Kementerian harus serius dengan ide-ide hingga praktek di lapangan. Singkong dapat menjadi tanaman alternatif mengatasi krisis pangan dunia termasuk menjadi tanaman penganti selain padi dan sagu.
"Pertanyaannya lagi siapkah Indonesia memproses proses produksinya secara besar-besar. Kalau dapat diupayakan dalam kerjasama dunia internasional wah sangat bagus sekali," ujar Sueb.
Lebih jauh dikatakan bicara provinsi Kalbar yang berada di antara pulau Kalimantan, sepertinya dapat memberikan sumbangsih besar. Pada tingkat internasional, sudah dibicarakan besar-besaran soal singkong. Ke depan tinggal membangun kesepakatannya seperti apa. Harus ada penyatuan persepsi ke Pemprov atau Pemkab di Kalbar. Sebab mengubah kebiasaan makan masyarakat dunia, juga tidak mudah.
"Misalnya saja, warga eropa terbiasa makanan utamanya dari bahan gandum atau sagu. Kemudian menjadi singkong. Tanaman singkong harus diproses sedemikian rupa. Mungkin saja ditambahkan dengan menu gandum, sagu atau padi. Bisa saja dilakukan," ucapnya.
Namun, lanjutnya, mengubah sesuatu kebiasaan soal makan perlu penyatuan persepsi. Tidak sebatas pemerintah Indonesia yang bersemangat. Harus lintas dan sektor negara membangun kesepahaman dan kerjasama. Sehingga pemikiran singkong sebagai pangan dunia, akan tertanam di warga belahan dunia lain. "Wacana ini, saya pikir sangat baik sekali. Tinggal follow up saja seperti apa. Apalagi olahan singkong banyak fungsi sebagai bahan pangan dan bahan lain," pungkasnya. (den) Editor : Yulfi Asmadi