Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Gunakan Teknik Digital, Roasting Kopi dengan Perangkat Lunak

Misbahul Munir S • Selasa, 6 Juni 2023 | 19:44 WIB
Restu, owner sekaligus roaster kopi 101 Coffee House. Dalam produksi kopinya, Restu menerapkan konsep digital yaitu menggunakan perangkat lunak khusus yang memudahkannya. (Syahriani/Pontianak Post)
Restu, owner sekaligus roaster kopi 101 Coffee House. Dalam produksi kopinya, Restu menerapkan konsep digital yaitu menggunakan perangkat lunak khusus yang memudahkannya. (Syahriani/Pontianak Post)
PONTIANAK - Roasting adalah salah satu cara untuk memasak kopi. Seiring berkembangnya teknologi maka teknik roasting juga menjadi lebih modern. Mengusung teknik secara digital, roasting kopi bisa digunakan menggunakan perangkat lunak. Tidak banyak yang menggunakan di Kalbar, namun 101 Coffee House sudah dari beberapa tahun lalu sebagai penerapan digital. Tidak perlu menggunakan kertas yang bertumpuk, teknik ini jelas mengurangi limbah lingkungan.

Di salah satu ruangan coffee shop-nya, Restu Dharmawan sedang memasak biji kopi di mesin drum miliknya. Mesin drum tersebut berukuran besar yang merupakan alat untuk memasak kopi atau yang dikenal dengan sebutan roaster machine.


Alat tersebut bisa menampung 5 kg biji kopi dalam sekali masak. Dengan menggunakan perlengkapan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3), Restu tampak memantau laptop yang tersambung ke roaster machine. Laptop tersebut telah dilengkapi dengan perangkat lunak (software) khusus untuk mencatat alur masak kopi yang sedang dikerjakannya.


Diakui Restu perangkat digital ini telah digunakannya tiga tahun sejak ia membuka coffee shop miliknya yaitu 101 Coffee House di Jalan Ujung Pandang, Pontianak Selatan. Perangkat lunak tersebut memudahkan Restu dalam memproduksi biji kopi yang akan dipasarkannya.


“Software ini memudahkan saya di bagian pencatatan karena ada grafik perhitungan atau analisanya. Saya nggak capek-capek lagi menghitung tingkat kenaikan suhu. Saya kan harus prediksi nih, misal mau di menit ke-10 katakankan suhunya 175 derajat Celcius, sekarang menit ke 8 masih 150 derajat Celcius. Saya harus ngejar 25 derajat selama 2 menit. Nah dengan perangkat lunak ini bisa terprogram berapa api yang diperlukan, jadi nggak perlu pusing-pusing lagi mencatatn seperti menggunakan metode manual,” jelas Restu yang telah terjun ke dunia perkopian selama sepuluh tahun belakangan.


Sebelumnya Restu tentu memasak kopi (roasting) dengan teknik manual, bahkan pada saat pelatihan di Bandung ia tidak diperkenankan menggunakan metode digital karena harus mengasah feeling, insting dan hitungan dalam memasak biji kopi.


Tahun 2018, di kedai kopi pertamanya di Jalan Pancasila ia me-roasting kopi dengan teknik manual, yang berarti ia menggunakan sistem pencatatan dengan kertas dalam proses memasaknya.


“Sistem pencatatatan manual pakai kertas bertumpun-tumpuk. Sekali roasting menggunaka satu lembar kertas. Kalau sehari me-roasting 20 kali maka jadinya 20 lembar kertas dalam sehari. Sebulan bisa habiskan 500 lembar kertas atau setara satu rim,” jelas Restu.


Bahkan saking bertumpuknya kertas yang digunakan Restu dalam pencatatatan proses roasting kopinya, ia dikira jualan kopi sambil bermain saham.


“Waktu kedai pertama kan proses roating kopi di depan dekan pintu masuk. Jadi banyak orang yang lihat dan dikira saya main saham karena di kertas ada output grafiknya,” imbuhnya.


Tidak menggunakan kertas adalah keunggulan lainnya dalam teknik digital yang digunakan Restu dalam memasak kopi. Ia bisa menghilangkan penggunaan kertas sebanyak satu rim dalam sebulan, dengan kata lain ia bisa mengurangi dampak lingkungan dapi sampah kertas setiap bulannya. (sya)

Editor : Misbahul Munir S
#kopi #UMKM #digital #bri #roasting