
PONTIANAK POST - Aroma dupa kerap menghadirkan suasana tenang dan khusyuk. Namun, di balik penggunaannya yang identik dengan ritual, dupa ternyata memiliki sejarah panjang sekaligus manfaat yang terus dipercaya hingga kini.
Dilansir dari Jawapos, menurut Prof Dr Apt Mangestuti Agil MS, Guru Besar Botani Farmasi dan Farmakognosi Fakultas Farmasi Universitas Airlangga, dupa atau incense telah dikenal sejak sekitar 3.500 tahun sebelum Masehi.
Sejak saat itu, penggunaannya menjadi bagian penting dalam berbagai ritual tradisional di berbagai peradaban dunia, mulai dari suku Aztec, Yunani, Romawi, Mesir, Arab, hingga India.
Secara historis, bahan pembuat dupa berasal dari berbagai tanaman aromatik, seperti kayu, kulit batang, akar, bunga, daun, hingga resin. Hingga kini, bahan-bahan tersebut masih banyak digunakan secara global.
Di antaranya resin benzoin, frankincense, myrr, minyak atsiri, cinnamomi, saffron, sage, agarwood, serta sandalwood.
Dalam praktik turun-temurun, dupa digunakan untuk berbagai tujuan, mulai dari pengusir makhluk halus, pengantar spiritual, penetral bau, hingga pengawet jenazah.
Fungsi-fungsi tersebut menunjukkan bahwa dupa tidak hanya memiliki nilai budaya, tetapi juga dianggap memiliki peran penting dalam kehidupan masyarakat.
Di Yunani dan Romawi kuno, terdapat ramuan dupa yang terdiri dari 16 bahan herbal aromatik. Beberapa di antaranya adalah frankincense, myrr, saffron, cinnamon, sage, dan juniper.
Ahli sejarah Yunani meyakini bahwa ramuan tersebut memiliki manfaat dalam membantu meredakan gangguan mental, menjaga kestabilan emosi, serta mempercepat pemulihan setelah tindakan operasi.
Keyakinan terhadap manfaat dupa juga berkembang dalam tradisi spiritual lainnya.

