
PONTIANAK POST — Jauh sebelum dikenal dengan nama Gerakan Pramuka, kegiatan kepanduan di Indonesia memiliki perjalanan sejarah yang cukup panjang. Salah satu bagian menariknya adalah perubahan istilah dari Padvinders menjadi Pandu.
Perubahan nama tersebut bukan sekadar pergantian istilah. Di baliknya terdapat dinamika antara gerakan kepanduan yang dibawa pemerintah kolonial Belanda dan organisasi-organisasi yang mulai dibentuk tokoh pergerakan nasional.
Kepanduan Masuk Bersama Pemerintah Kolonial
Baca Juga: Dua Pramuka SLB Sintang Tembus Jamnas XII di Cibubur, Jadi Bagian dari 35 Kontingen Daerah
Jejak kepanduan di Indonesia tidak dapat dilepaskan dari perkembangan gerakan kepanduan di Eropa. Di Inggris, Robert Baden-Powell mengembangkan gerakan kepanduan melalui kegiatan yang mendorong kaum muda memiliki keterampilan dan kemampuan bertahan di alam.
Gerakan tersebut kemudian ikut memengaruhi perkembangan kepanduan di wilayah jajahan, termasuk Hindia Belanda.
Pada 1912, organisasi kepanduan yang dibentuk Belanda dikenal sebagai Nederlandsche Padvinders Organisatie (NPO). Dua tahun kemudian, organisasi tersebut berdiri dengan nama Nederland Indische Padvinders Vereeniging (NIPV).
Baca Juga: Hari Merdeka hingga Hymne Pramuka, Ini Lagu-Lagu Nasional Karya Husein Mutahar yang Melegenda
Namun, pada masa itu, kepanduan yang dikelola organisasi kolonial tersebut tidak terbuka secara luas bagi masyarakat Indonesia. Keadaan ini kemudian mendorong munculnya organisasi kepanduan yang dibentuk oleh tokoh-tokoh pergerakan nasional.
Tokoh Pergerakan Mulai Membentuk Kepanduan Sendiri
Kepanduan kemudian berkembang menjadi ruang pendidikan bagi kaum muda Indonesia. Sejumlah organisasi pergerakan membentuk kelompok kepanduan masing-masing.
Baca Juga: Karolin Margret Natasa Lepas Kontingen Pramuka Landak Menuju Jambore Nasional2026 di Cibubur Jakarta
Di antaranya terdapat Javaanse Padvinders Organisatie (JPO), Jong Java Padvindery (JJP), Sarekat Islam Afdeling Padvindery (SIAP), serta kepanduan Muhammadiyah yang kemudian dikenal sebagai Hizbul Wathan.
Menariknya, organisasi-organisasi tersebut masih menggunakan istilah Padvinders yang sebelumnya identik dengan kepanduan Belanda.



