Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Imam Hambali, Imam yang tak Tunduk dengan Pemikiran Penguasa

Syahriani Siregar • Jumat, 2 Agustus 2024 | 23:26 WIB

Imam Hambali.
Imam Hambali.

SIAPA yang tak mengenal Imam Hambali. Salah satu pengemuka mazhab fikih dalam ajaran Islam yang mazhabnya disebut sebagai Mazhab Hambali.

Penganut mazhab ini paling dominan berada di daerah semenanjung Arab dan Arab Saudi.

Kali ini kami tidak akan membahas mengenai mazhab Sang Imam. Mazhab sendiri merupakan penggolongan suatu hukum atau aturan setingkat di bawah firkah, di mana firkah merupakan istilah yang sering dipakai untuk mengganti kata denominasi pada Islam sebagaimana disadur dari situs worldatlas.com.

Yang akan kami bahas adalah bagaimana saat meninggalnya Sang Imam, persis 1.169 tahun yang lalu atau 2 Agustus 855. Imam Hambali meninggal saat berusia 74–75 tahun. Prosesi pemakamannya sendiri berlangsung di di Distrik al-Rusafa, Bagdad, Irak.

Baca Juga: Satu Data Indonesia Berikan Masyarakat Data Pertanahan yang Lebih Baik dan Akurat

Yang menarik di sini, sebagaimana dituliskan Ludwig W. Adamec dalam bukunya berjudul Historical Dictionary of Islam, menggambarkan bagaimana pemakamannya pada saat itu dihadiri 800 ribu pria dan 60 ribu wanita.

Yang lebih menarik lagi, 20 ribu penganut Yahudi dan Nasrani bersahadat tepat pada hari pemakamannya tersebut.

Siapakah sosok mencengangkan ini? Imam Hambali bernama lengkap Ahmad ibn Hanbal Abu ʿAbdullah Ash-Shaybani, lahir di Mary, Turkmenistan, pada 27 November 780.

Muhammad bin ‘Abbas An-Nahwi menggambarkan bahwa Imam Hambali berpostur tak terlalu tinggi, namun tidak juga terlalu pendek, serta berwajah tampan.

Baca Juga: Pemilik K-Gym Minta Polisi Tak Diskriminasi Dirinya

Sosok ini senang berpakaian tebal, berwarna putih dan bersorban serta memakai kain, dengan kulit berwarna coklat.

Dikisahkan bagaimana kokohnya pendirian Imam Hambali yang tidak mau menuruti pemahaman penguasa di zamannya. Saat itu, Khalifah Al Ma’mun berkuasa, para pengusung paham mu'tazilah berhasil masuk ke kekuasaan dan menjadikannya sebagai ajaran resmi negara.

Di antara ajarannya adalah menyatakan bahwa Al Qur’an adalah makhluk. Lalu penguasa pun memaksa seluruh rakyatnya untuk mengatakan pemahaman serupa, terutama para ulamanya.

Digambarkan bagaimana mereka yang menolak dan bersikukuh dengan mengatakan bahwa Al Qur’an adalah kalamullah dan bukan makhluk, akan mencicipi cambukan dan pukulan serta kurungan penjara.

Karena beratnya siksaan dan parahnya penderitaan banyak ulama yang tidak kuat menahannya, akhirnya mereka mengucapkan apa yang dituntut oleh penguasa tersebut, meski cuma dalam lisan saja.

Banyak yang membisiki Imam Hambali untuk sama-sama mencari selamat. Imam Hambali pun menegaskan bahwa dia tidak peduli dengan kurungan penjara.

Dia menganggap penjara dan rumah adalah sesuatu yang sama.

Di saat menghadapi terpaan fitnah yang sangat dahsyat dan deraan siksaan yang luar biasa, Imam Hambi masih berpikir jernih dan tidak emosi.

Dia tetap mengambil pelajaran meski datang dari orang yang lebih rendah ilmunya. Ia mengatakan, “Semenjak terjadinya fitnah, saya belum pernah mendengar suatu kalimat yang lebih mengesankan dari kalimat yang diucapkan oleh seorang Arab Badui kepadaku, “Wahai Ahmad, jika anda terbunuh karena kebenaran maka anda mati syahid, dan jika anda selamat maka anda hidup mulia.” (ote)

Editor : Syahriani Siregar
#arab saudi #firkah #Imam Hambali #Mazhab