Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Dinkes Sambas Ingatkan Risiko Dehidrasi dan Heatstroke Saat Cuaca Panas

F
Penulis: Fahrozi PP❯
dr Ganjar Eko Prabowo
dr Ganjar Eko Prabowo

Advertisement

 

PONTIANAK POST - Cuaca panas yang melanda Kabupaten Sambas tidak hanya meningkatkan potensi kebakaran hutan dan lahan (karhutla), tetapi juga memicu berbagai gangguan kesehatan. Dinas Kesehatan Sambas mengingatkan masyarakat untuk mewaspadai risiko dehidrasi, heatstroke, iritasi kulit, migrain, hingga demam tinggi di tengah meningkatnya suhu udara.

Kepala Dinas Kesehatan Kabupaten Sambas, dr. Ganjar Eko Prabowo, mengatakan paparan cuaca panas dapat menyebabkan tubuh kehilangan banyak cairan. Kondisi tersebut ditandai dengan kelelahan, kulit kering, serta warna urine yang lebih pekat sebagai gejala awal dehidrasi.

Cuaca Panas Picu Berbagai Gangguan Kesehatan

Selain dehidrasi, dr. Ganjar menjelaskan paparan sinar matahari dan polusi berlebih juga dapat memicu sakit kepala sebelah atau migrain.

Advertisement

Cuaca panas juga berpotensi menyebabkan panas dalam, terutama apabila diperburuk oleh pola makan yang kurang tepat, seperti terlalu banyak mengonsumsi makanan berminyak dan pedas.

"Selain itu, demam tinggi juga bisa mengancam, ini akibat paparan sinar matahari, sehingga menyebabkan suhu tubuh meningkat," kata dr. Ganjar, Senin (13/7).

Ia mengimbau masyarakat tetap tenang dengan memperbanyak konsumsi air putih, mengurangi aktivitas di luar ruangan saat cuaca sedang terik, serta segera memeriksakan diri ke fasilitas kesehatan apabila mengalami keluhan akibat cuaca panas.

BMKG Prediksi Puncak Kemarau Terjadi Agustus–September

Sementara itu, Kalimantan Barat diperkirakan memasuki puncak musim kemarau pada Agustus hingga September 2026. Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memperingatkan musim kemarau tahun ini berpotensi lebih kering dan lebih panjang dibandingkan kondisi normal.

Kondisi tersebut meningkatkan risiko kebakaran hutan dan lahan serta krisis air bersih di sejumlah wilayah.

Deputi Bidang Klimatologi BMKG, Ardhasena Sopaheluwakan, mengatakan sebagian wilayah Kalimantan, termasuk Kalimantan Barat, mulai memasuki musim kemarau sejak Juni. Kondisi itu menjadi fase awal menuju periode paling kritis yang diperkirakan berlangsung dalam dua hingga tiga bulan mendatang.

Advertisement

Artikel Terkait

BMKG: Kemarau Panjang Ancam Lebih dari 80 Persen Wilayah Indonesia, Petani Diminta Segera Beradaptasi

BMKG: Kemarau Panjang Ancam Lebih dari 80 Persen Wilayah Indonesia, Petani Diminta Segera Beradaptasi

Kemarau panjang 2026 diperkirakan melanda lebih dari 80 persen wilayah Indonesia. BMKG mengimbau petani beradaptasi untuk cegah puso

Jadi Daerah dengan Titik Panas Tertinggi Kedua di Indonesia, BMKG Catat 478 Hotspot di Kalbar hingga Awal Juni 2026

Jadi Daerah dengan Titik Panas Tertinggi Kedua di Indonesia, BMKG Catat 478 Hotspot di Kalbar hingga Awal Juni 2026

Kalimantan Barat menjadi provinsi dengan jumlah titik panas tertinggi kedua di Indonesia pada 2026. Ancaman karhutla meningkat seiring lonja

BMKG: Puncak Kemarau Kalbar Diprediksi Agustus-September

BMKG: Puncak Kemarau Kalbar Diprediksi Agustus-September

Puncak musim kemarau di Kalbar diperkirakan terjadi Agustus-September 2026. BMKG mengingatkan risiko karhutla, krisis air bersih, dan ganggu

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer