Advertisement
Advertisement
Advertisement
Advertisement

Sepak Bola Berada di Tempat Terbaiknya

A
JUARA SEJATI: Skuad Spanyol berfoto bersama Trofi Piala Dunia FIFA 2026 setelah menaklukkan Argentina 1-0 pada final di Stadion New York New Jersey, Amerika Serikat, Minggu (19/7/2026) waktu setempat.   (Foto: FIFA)
JUARA SEJATI: Skuad Spanyol berfoto bersama Trofi Piala Dunia FIFA 2026 setelah menaklukkan Argentina 1-0 pada final di Stadion New York New Jersey, Amerika Serikat, Minggu (19/7/2026) waktu setempat. (Foto: FIFA)

Advertisement

 

PONTIANAK POST - Umpan yang dilepas anak seorang pekerja bangunan disambut sundulan putra imigran asal Ghana. Bola itu kemudian disambar tanpa kontrol oleh anak yang dibesarkan ibu tunggal. Gol.

Gol kemenangan Spanyol ke gawang Argentina pada final Piala Dunia FIFA 2026 lahir dari rangkaian aksi Pedro Porro, Nico Williams, dan Ferran Torres. Bukan aksi individu yang berdiri sendiri, melainkan kombinasi tiga pemain dengan latar belakang berbeda yang dipersatukan oleh satu gagasan: bermain sebagai tim.

Advertisement

Barangkali itulah mengapa kemenangan La Furia Roja terasa istimewa. Di tengah sepak bola modern yang semakin dipenuhi kultus bintang, Spanyol justru menunjukkan bahwa kolektivitas masih menjadi jalan paling ampuh menuju kemenangan.

Dalam olahraga yang lahir dari lingkungan kelas pekerja, solidaritas selalu menjadi nilai utama. Tokoh gerakan buruh Harry Bridges pernah mengatakan bahwa kata terpenting bagi kelas pekerja adalah solidarity. Nilai itulah yang seolah hidup kembali dalam permainan Spanyol sepanjang turnamen.

Mereka bermain tanpa satu figur yang harus selalu menjadi pusat perhatian. Setiap pemain menjadi bagian dari sistem yang saling melengkapi.

Advertisement

Tim ini juga mencerminkan wajah Spanyol yang semakin beragam. Ada Lamine Yamal, putra keluarga keturunan Maroko dan Guinea Khatulistiwa yang tumbuh di Rocafonda, kawasan multietnis di Catalonia. Ada Nico Williams, anak imigran Ghana. Perbedaan latar belakang tidak menjadi sekat, melainkan kekuatan.

Lebih dari Sekadar Proletar versus Borjuis

Tentu final ini tidak layak dibaca secara hitam-putih sebagai pertarungan kelas sosial.

Argentina juga memiliki banyak kisah perjuangan. Lionel Messi pernah menghadapi keterbatasan biaya pengobatan hormon pertumbuhan ketika kecil. Emiliano Martínez tumbuh dari keluarga sederhana dengan ayah seorang sopir dan ibu yang bekerja sebagai petugas kebersihan.

Sepak bola modern memang telah berubah. Nilai kontrak pemain melonjak, biaya operasional stadion meningkat, dan klub harus dikelola layaknya perusahaan profesional.

Namun, perubahan itu tidak harus menghapus nilai dasar sepak bola: kebersamaan, penghormatan terhadap perbedaan, dan kedekatan dengan komunitas yang melahirkannya.

Advertisement

Artikel Terkait

Hamas Tolak Serahkan Senjata Sebelum Israel Tinggalkan Gaza, Trump Segera Bentuk Pemerintahan Baru Palestina

Hamas Tolak Serahkan Senjata Sebelum Israel Tinggalkan Gaza, Trump Segera Bentuk Pemerintahan Baru Palestina

Hamas menolak menyerahkan senjata sebelum Israel menarik pasukan dari Gaza, menghambat proposal damai AS.

Sugiono dan 7 Menlu Kecam Eskalasi Israel di Masjid Al-Aqsa

Sugiono dan 7 Menlu Kecam Eskalasi Israel di Masjid Al-Aqsa

Sugiono dan tujuh menlu mengecam eskalasi Israel di Masjid Al-Aqsa dan menyerukan penghormatan terhadap status quo tempat suci.

33 Warga Palestina Tewas Ditembak Israel Saat Iduladha, Krisis Kemanusiaan Gaza Kian Memburuk

33 Warga Palestina Tewas Ditembak Israel Saat Iduladha, Krisis Kemanusiaan Gaza Kian Memburuk

33 warga Palestina tewas saat Idul Adha di Gaza. Krisis listrik mengancam penutupan rumah sakit di tengah konflik yang terus berlanjut.

Advertisement

Berita Terkini

Advertisement
Advertisement

Populer