
PONTIANAK POST - Umpan yang dilepas anak seorang pekerja bangunan disambut sundulan putra imigran asal Ghana. Bola itu kemudian disambar tanpa kontrol oleh anak yang dibesarkan ibu tunggal. Gol.
Gol kemenangan Spanyol ke gawang Argentina pada final Piala Dunia FIFA 2026 lahir dari rangkaian aksi Pedro Porro, Nico Williams, dan Ferran Torres. Bukan aksi individu yang berdiri sendiri, melainkan kombinasi tiga pemain dengan latar belakang berbeda yang dipersatukan oleh satu gagasan: bermain sebagai tim.
Barangkali itulah mengapa kemenangan La Furia Roja terasa istimewa. Di tengah sepak bola modern yang semakin dipenuhi kultus bintang, Spanyol justru menunjukkan bahwa kolektivitas masih menjadi jalan paling ampuh menuju kemenangan.
Dalam olahraga yang lahir dari lingkungan kelas pekerja, solidaritas selalu menjadi nilai utama. Tokoh gerakan buruh Harry Bridges pernah mengatakan bahwa kata terpenting bagi kelas pekerja adalah solidarity. Nilai itulah yang seolah hidup kembali dalam permainan Spanyol sepanjang turnamen.
Mereka bermain tanpa satu figur yang harus selalu menjadi pusat perhatian. Setiap pemain menjadi bagian dari sistem yang saling melengkapi.
Tim ini juga mencerminkan wajah Spanyol yang semakin beragam. Ada Lamine Yamal, putra keluarga keturunan Maroko dan Guinea Khatulistiwa yang tumbuh di Rocafonda, kawasan multietnis di Catalonia. Ada Nico Williams, anak imigran Ghana. Perbedaan latar belakang tidak menjadi sekat, melainkan kekuatan.
Lebih dari Sekadar Proletar versus Borjuis
Tentu final ini tidak layak dibaca secara hitam-putih sebagai pertarungan kelas sosial.
Argentina juga memiliki banyak kisah perjuangan. Lionel Messi pernah menghadapi keterbatasan biaya pengobatan hormon pertumbuhan ketika kecil. Emiliano Martínez tumbuh dari keluarga sederhana dengan ayah seorang sopir dan ibu yang bekerja sebagai petugas kebersihan.
Sepak bola modern memang telah berubah. Nilai kontrak pemain melonjak, biaya operasional stadion meningkat, dan klub harus dikelola layaknya perusahaan profesional.
Namun, perubahan itu tidak harus menghapus nilai dasar sepak bola: kebersamaan, penghormatan terhadap perbedaan, dan kedekatan dengan komunitas yang melahirkannya.



