PONTIANAK POST – Tahun 2026 menjadi momentum istimewa bagi masyarakat Kalimantan Barat, khususnya Kota Singkawang. Dua perayaan besar keagamaan, Tahun Baru Imlek yang jatuh Selasa (17/2) dan bulan suci Ramadan (18/19-2), hadir dalam waktu yang berdekatan. Kondisi ini tidak hanya menjadi penanda kalender, tetapi juga cermin nyata bagaimana toleransi dan keharmonisan antarumat beragama terus dijaga dan dipraktikkan dalam kehidupan sehari-hari.
Tokoh pemuda Tionghoa Singkawang, Edhylius Sean, menilai kedekatan dua hari besar ini patut disyukuri sebagai anugerah kebersamaan.
“Singkawang adalah bukti hidup bagaimana kegembiraan menyambut Imlek dan Ramadan bisa berjalan berdampingan. Pemerintah kota bersama masyarakat menghias kota dengan ornamen lampion khas Imlek yang bersanding dengan nuansa Ramadan. Ini bukan sekadar dekorasi, tetapi simbol toleransi yang nyata,” ujarnya.
Ia menambahkan, harmonisasi tersebut diwujudkan melalui berbagai agenda seperti perayaan Imlek, Cap Go Meh, dan Ramadan Fair yang berlangsung beriringan. Menurutnya, masyarakat Singkawang memiliki sejarah panjang dalam merawat kebersamaan lintas etnis dan agama.
“Hubungan harmonis ini bukan hanya di atas kertas. Sejak dulu masyarakat Singkawang saling menghormati dan saling membutuhkan. Ketika ada hari raya masing-masing, kita saling bersilaturahmi,” katanya.
Edhylius yang juga pengurus FKUB Singkawang menegaskan bahwa tidak ada kekhawatiran ibadah terganggu meskipun perayaan berlangsung berdekatan.
“Ketika teman-teman Muslim berpuasa, kami yang tidak berpuasa tetap menjalankan aktivitas seperti biasa, tetapi tetap menjaga sikap agar tidak mengganggu ibadah mereka. Saat ada hidangan, kami paham untuk tidak memancing godaan,” ujarnya.
Ia mencontohkan tradisi silaturahmi dalam keluarganya sendiri, di mana kerabat Muslim tetap datang mengucapkan selamat Imlek meski sedang menjalankan puasa.
“Kalau tidak bisa datang langsung, sekarang bisa lewat WhatsApp atau media sosial. Yang penting semangat persaudaraan tetap terjaga,” ungkapnya.
Sikap saling menghormati ini juga ditegaskan Ketua DPP Majelis Adat Budaya Tionghoa (MABT) Indonesia, Suyanto Tanjung. Ia mengajak masyarakat Tionghoa merayakan Imlek dan Cap Go Meh secara bijaksana karena beririsan dengan Ramadan.
“Tahun ini perayaan Imlek dan Cap Go Meh berdekatan dengan ibadah puasa Ramadan. Kami berharap etnis Tionghoa bisa bijaksana dalam merayakan kemeriahan ini agar tidak mengganggu saudara-saudara kita yang sedang berpuasa,” ujarnya.
Menurut Tanjung, toleransi tidak cukup hanya diucapkan, tetapi harus diwujudkan dalam tindakan konkret. Salah satunya dengan menjaga bentuk hiburan agar tidak berlebihan dan membuka ruang kebersamaan.
“Kalau sudah waktunya berbuka, alangkah indahnya kita undang teman-teman Muslim berbuka di rumah kita. Kita siapkan makanan untuk tetangga, keluarga, sahabat,” katanya.
Tokoh Tionghoa Kalimantan Barat, Sugioto Tan yang akrab disapa Rico, juga menekankan pentingnya menjaga nilai toleransi yang telah mengakar kuat di Kalimantan Barat sejak ratusan tahun lalu. Ia mengajak seluruh elemen masyarakat untuk terus merawat keharmonisan yang sudah menjadi warisan bersama.
“Kalimantan Barat ini sejak dulu hidup dalam keberagaman. Keharmonisan antarumat beragama dan antaretnis sudah terjalin ratusan tahun. Tugas kita sekarang adalah menjaga dan merawatnya agar tidak rusak oleh perbedaan,” ujarnya.
Rico menegaskan, perayaan Imlek dan Ramadan yang berlangsung berdekatan justru menjadi momentum memperkuat persaudaraan, bukan sebaliknya.
“Perbedaan bukan untuk dipertentangkan, tetapi dirawat sebagai kekuatan. Dengan saling menghormati, Kalimantan Barat akan tetap damai dan menjadi contoh toleransi bagi daerah lain,” katanya.
Pandangan serupa disampaikan Sutadi dari Paguyuban Sosial Marga Tionghoa Indonesia (PSMTI) Kalimantan Barat. Ia menekankan bahwa Imlek tidak semata identik dengan lampion dan angpau, melainkan tentang keharmonisan, kebijaksanaan, dan kepedulian.
“Imlek mengajarkan kebijaksanaan, kesederhanaan, dan kepedulian. Jika boleh diumpamakan, seperti dua alat musik yang berbeda. Ketika dimainkan dengan nada yang sama dan tidak merasa lebih tinggi, maka akan terdengar harmonis,” ujar orang yang juga Ketua Matakin Kalbar ini.
Ia mengungkapkan, pada 25 Februari 2026 akan digelar perayaan Imlek di Pendopo dengan tema Menebar Kebaikan, Menuai Keharmonisan dalam Pembangunan.
“Acara berlangsung sore hari dan dibungkus dengan buka puasa bersama umat Islam yang kami undang,” paparnya.
Selain itu, kegiatan tersebut juga dirangkai dengan pembagian paket sembako kepada masyarakat kurang mampu.
“Inilah yang kami maksud dengan menebar kebaikan. Dengan berbuat baik, kita bisa menciptakan keharmonisan dan kebersamaan yang lebih kuat,” tuturnya.
Sutadi menambahkan, Imlek juga menjadi simbol kebersamaan lintas budaya. Tidak hanya umat Konghucu, tetapi masyarakat Tionghoa dari berbagai latar belakang serta warga dari suku dan agama lain turut terlibat dalam pertunjukan naga dan barongsai.
“Pemain naga dan barongsai bukan hanya dari satu etnis. Ini perjumpaan harmonis lintas budaya,” katanya.
Ia juga mengakui bahwa Imlek tahun ini dirayakan dengan kesederhanaan karena adanya berbagai tantangan ekonomi dan musibah yang memengaruhi kehidupan masyarakat.
“Tidak terlalu fokus pada pesta, tetapi lebih pada kemanusiaan dan kebersamaan. Harapannya tahun ini akan lebih baik dari tahun-tahun sebelumnya,” ujarnya.
Menurut para tokoh tersebut, predikat Singkawang sebagai kota toleran bukan sekadar slogan. Nilai toleransi tumbuh dari praktik hidup sehari-hari yang diwariskan lintas generasi.
“Kita tidak hidup dari slogan-slogan, tetapi mengimplementasikannya dalam kehidupan sehari-hari,” kata Edhylius.
Baca Juga: Direktur Poltesa Minta Penelitian Dosen Berorientasi Inovasi untuk Pembangunan Wilayah Perbatasan
Ia berharap perayaan Imlek dan Ramadan yang berlangsung berdekatan ini menjadi contoh nasional bagaimana keberagaman bisa dirawat melalui sikap saling menghormati, berbagi, dan menjaga harmoni sosial. (den/ars/mrd/bar)
Editor : Hanif