PONTIANAK POST – Sehari menjelang puncak Festival Cap Go Meh, ratusan tatung memenuhi kawasan Vihara Tri Dharma Bumi Raya, pusat Kota Singkawang, Senin (2/3). Mereka menggelar ritual cuci jalan, sebuah tradisi sakral yang sekaligus menjadi magnet wisata dan simbol toleransi di kota tersebut.
Ritual ini menyedot perhatian warga lokal hingga wisatawan dari berbagai daerah. Sejak pagi, masyarakat berkerumun di sepanjang jalan untuk menyaksikan prosesi pembersihan jalan menggunakan air sebagai bagian dari persiapan perayaan Cap Go Meh.
Tradisi cuci jalan diyakini sebagai upaya membersihkan lingkungan dari energi negatif serta memohon keselamatan dan keberuntungan menjelang perayaan Cap Go Meh, yang jatuh pada hari ke-15 setelah Tahun Baru Imlek. Ritual ini telah menjadi ciri khas Singkawang dan selalu dinanti setiap tahun.
Selain ritual cuci jalan, rangkaian Cap Go Meh di Singkawang juga dimeriahkan dengan pawai naga, barongsai, serta atraksi tatung yang dikenal ekstrem dan sarat makna spiritual. Anton, wisatawan asal Bandung, mengaku terkesan dengan atraksi yang disuguhkan para tatung.
“Ini baru pertama kali saya ke Singkawang. Biasanya cuma lihat dari berita atau televisi. Ternyata langsung di depan mata jauh lebih luar biasa,” katanya.
Ia datang bersama rekan-rekannya dan menginap di salah satu hotel di Singkawang khusus untuk menyaksikan perayaan Cap Go Meh. “Asli keren, mantap,” ujarnya.
Pengunjung lain, Magdalena asal Kabupaten Sintang, juga mengaku sengaja datang kembali untuk kedua kalinya. “Saya sudah dua kali ke Singkawang untuk nonton Cap Go Meh. Atraksi tatung di sini memang khas,” katanya.
Menurut Magdalena, perayaan Cap Go Meh di Singkawang mencerminkan tingkat toleransi yang tinggi, meski berlangsung bersamaan dengan bulan Ramadan. “Kesannya luar biasa. Toleransinya tinggi banget dan tidak bisa ditemui di tempat lain,” ujarnya.
Ia juga menyebutkan bahwa atraksi tatung Singkawang tidak hanya diminati wisatawan domestik, tetapi juga menarik perhatian wisatawan mancanegara. “Banyak wisatawan dari luar negeri yang ikut menonton,” ungkapnya.
Ritual cuci jalan ini menjadi penanda dimulainya rangkaian puncak Festival Cap Go Meh, yang setiap tahun menjadikan Singkawang sebagai pusat perhatian wisata budaya di Kalimantan Barat. (har)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro