PONTIANAK POST — Dentuman musik tradisional, sorak penonton, dan atraksi tatung yang menantang nalar berpadu di jantung kota Singkawang. Festival Cap Go Meh 2026 kembali membuktikan bahwa budaya bukan sekadar perayaan, melainkan bahasa persatuan yang hidup di tengah keberagaman.
Sejak siang hingga sore, ratusan ribu warga memadati ruas utama kota untuk menyaksikan parade tatung terpanjang tahun ini.
Sebanyak 734 tatung tampil dalam satu rangkaian arak-arakan megah, menjadikan Festival Cap Go Meh Singkawang sebagai magnet budaya nasional sekaligus simbol harmoni Nusantara.
Puncak festival dibuka secara resmi oleh Wakil Ketua MPR RI Bambang Wuryanto bersama Wali Kota Singkawang Tjhai Chui Mie dengan pemukulan loku sebagai tanda dimulainya perayaan.
Sejumlah pejabat tinggi negara turut hadir, di antaranya Menteri Koordinator Bidang Infrastruktur Agus Harimurti Yudhoyono, Menteri Dalam Negeri Tito Karnavian, Menteri Perumahan dan Kawasan Permukiman Maruarar Sirait, Wakil Menteri Ekonomi Kreatif Irene Umar, anggota DPD RI, pimpinan MPR, duta besar, hingga pengamat politik Rocky Gerung.
Atraksi tatung dengan berbagai aksi ekstrem membuat Agus Harimurti Yudhoyono terpukau. Ia mengaku baru pertama kali menyaksikan langsung Festival Cap Go Meh Singkawang.
“Tadi kita disuguhkan atraksi tatung yang luar biasa. Jujur, saya sendiri tidak bisa mencernanya secara logika,” ujarnya.
Menurut AHY, festival ini tidak hanya menampilkan kekayaan tradisi, tetapi juga menyampaikan pesan kuat bahwa keberagaman adalah kekuatan bangsa. Ia berharap energi positif dari Singkawang dapat menyebar ke seluruh Indonesia.
“Apa pun suku, agama, etnis, dan rasnya, kita harus bersatu dan mengekspresikan keberagaman ini untuk kemajuan bersama,” katanya.
Mendagri Tito Karnavian menilai Singkawang sebagai salah satu kota paling berhasil menjaga toleransi di tengah kemajemukan. Ia mengaku terkesan melihat langsung perayaan Cap Go Meh yang memperlihatkan keharmonisan antarumat beragama.
“Saya merasa bangga karena di Indonesia ada kota yang sangat toleran. Di sini semuanya bercampur, benar-benar melting pot,” ujarnya.
Ia menambahkan, masyarakat dari berbagai latar belakang—Tionghoa, Melayu, dan suku lainnya—berbaur tanpa sekat dalam satu perayaan.
Momentum Imlek dan Cap Go Meh menjadi potret nyata kehidupan yang saling menghormati. Tito juga mengapresiasi keterlibatan lintas agama dalam kepanitiaan maupun dukungan terhadap seluruh rangkaian acara.
“Saya berharap suasana toleran di Singkawang ini benar-benar mencerminkan prinsip Bhinneka Tunggal Ika: berbeda-beda tetapi tetap satu Indonesia,” pungkasnya.
Berdampingan dengan Ramadan
Gubernur Kalimantan Barat Ria Norsan menyampaikan apresiasi atas kehadiran pimpinan lembaga negara dan jajaran pemerintah pusat pada puncak Festival Cap Go Meh 2026.
“Suatu kehormatan bagi kami atas kehadiran pimpinan MPR RI, Ketua dan Wakil Ketua DPD RI, para menteri, serta jajaran DPR RI dan DPD RI di Kalimantan Barat,” ujarnya.
Ia menilai kehadiran pemerintah pusat menjadi wujud sinergi nyata antara pusat dan daerah dalam memperkuat pembangunan sekaligus melestarikan budaya bangsa. Festival Cap Go Meh, menurutnya, kini telah berkembang menjadi penggerak sektor pariwisata dan ekonomi daerah.
Ria Norsan juga menyoroti perayaan Imlek tahun ini yang bertepatan dengan bulan suci Ramadan 1447 Hijriah. Momentum tersebut mencerminkan harmoni dan toleransi yang telah mengakar kuat di Kalimantan Barat.
“Kita menyaksikan lampion Imlek berpadu dengan semangat Ramadan. Dua tradisi berjalan berdampingan dalam suasana saling menghormati. Inilah wajah Kalimantan Barat yang penuh kebersamaan,” tuturnya.
Ia menegaskan komitmen Pemerintah Provinsi Kalbar untuk memperkuat infrastruktur, konektivitas antarwilayah, serta fasilitas publik guna menunjang pengembangan pariwisata dan investasi.
“Momentum Cap Go Meh ini harus menjadi penguat persatuan. Harmoni adalah modal utama untuk menarik investasi dan memberi kesan positif bagi setiap tamu yang datang,” katanya.
Parade tahun ini menampilkan total 734 tatung, terdiri atas 258 tatung bertandu, 109 tatung tanpa tandu, 76 miniatur, 15 jelangkung, tiga naga, dua barongsai, dan satu rombongan jalan kaki.
Festival Cap Go Meh Singkawang 2026 kembali menegaskan diri sebagai panggung budaya, toleransi, dan persatuan Indonesia. (har)
Editor : Aristono Edi Kiswantoro