alexametrics
31.7 C
Pontianak
Monday, August 15, 2022

Jangan Ada Pagar Makan Tanaman, BEM Fahutan Galang Dukungan Hutan Kota

PONTIANAK – Kain putih sepanjang belasan meter bertuliskan “Save Arboretum Sylva Untan” terbentang menghiasi Bundaran Tugu Digulis Universitas Tanjungpura, Minggu (21/2) pagi.

Satu persatu warga yang melintas membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk dukungan aksi menyelamatkan kawasan hutan kota yang mulai tergerus akibat pembangunan pagar beton di kawasan itu.

Kawasan Arboretum Sylva Untan merupakan kawasan hutan yang ditetapkan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) berdasarkan Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 2 tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Pontianak.

Luasnya sekitar 3,4 hektare. Di dalamnya terdapat lebih dari 214 jenis pohon termasuk jenis langka dan endemik, 86 jenis anggrek, dan lebih dari 300 jenis tumbuhan bawah termasuk liana, perdu dan paku-pakuan.

Namun, kini status hutan kota itu mulai terusik. Seluas 0,73 hektar telah beralih fungsi. Pagar beton sepanjang kurang lebih 90 meter dengan tinggi sekitar dua meter itu berdiri kokoh berada di dalam kawasan tersebut.

Kondisi itu membuat Badan Eksekutif Mahasiswa Faklutas Kehutanan, alumni, masyarakat dan pengamat lingkutan bereaksi. Kain sepanjang belasan meter bertuliskan “Save Arboretum Sylva Untan” pun dibentangkan di jalan. Aksi tersebut untuk  meminta dukungan masyarakat Kota Pontianak terkait keberadaan Arboretum Slyva Untan. Yakni dengan membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk dukungan.

Baca Juga :  Prodi S2 Kimia Untan Sukses Gelar Program World Class Professor

“Kami mengajak masyarakat untuk perduli sekaligus dukungan terhadap kondisi Arboterum yang berkurang 0,73 hektar,” ujar Koordinasi Aksi, Hendrikus Renonaldi.

Hal senada juga diungkapkan Bendril Sepito, alumni Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Aksi tersebut bertujuan mengajak masyarakat Kota Pontianak untuk peduli dengan hutan kota. Di mana, kata Bendril, hutan kota khususnya Arboretum Untan telah ditetapkan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Menurut Bedril, keberadaan ruang terbuka hijau sangat penting. Selain sebagai penghasil oksigen, penyerapan polutan dan dinikmati sebagai wisata. “Intinya kami menyayangkan adanya pengurangan luasan ruang terbuka hijau ini,” katanya.

Kondisi ini juga menarik perhatian berbagai kalangan, di antaranya aktivis lingkungan Hermayani Putera. Melalui surat terbuka berjudul “Semoga tidak ada pagar makan tanaman” itu Hermayani mengatakan, pembangunan pagar beton pembatas yang menjadi polemik tersebut ternyata pelan-pelan terus kokoh berdiri. Tentu saja ini sangat ironis, di tengah dunia ilmu pengetahuan yang terus berkembang, dan kesadaran pentingnya pemahaman dan integrasi antar disiplin ilmu membuat dinding-dinding pembatas antar keilmuan semakin cair dan runtuh. Sebagaimana dimandatkan oleh UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, proporsi Ruang Terbuka Hijau (RTH)  kota minimal 30 persen dari luas wilayah.

Baca Juga :  Pusat Laboratorium Alam

Pembangunan pagar pembatas ini juga berpotensi melanggar hukum, Perda Nomor 2 tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Pontianak telah menetapkan kawasan Arboretum sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Menurut Hermayani, ada banyak jasa lingkungan yang disediakan oleh Arboretum ini secara gratis. Sebagai RTH, Arboretum memiliki multifungsi: sebagai daerah resapan air, penghasil oksigen, dan penyerap polusi udara. Arboretum juga berfungsi sebagai wahana pendidikan lingkungan hidup yang tepat. (arf)

PONTIANAK – Kain putih sepanjang belasan meter bertuliskan “Save Arboretum Sylva Untan” terbentang menghiasi Bundaran Tugu Digulis Universitas Tanjungpura, Minggu (21/2) pagi.

Satu persatu warga yang melintas membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk dukungan aksi menyelamatkan kawasan hutan kota yang mulai tergerus akibat pembangunan pagar beton di kawasan itu.

Kawasan Arboretum Sylva Untan merupakan kawasan hutan yang ditetapkan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH) berdasarkan Peraturan Daerah Kota Pontianak Nomor 2 tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Pontianak.

Luasnya sekitar 3,4 hektare. Di dalamnya terdapat lebih dari 214 jenis pohon termasuk jenis langka dan endemik, 86 jenis anggrek, dan lebih dari 300 jenis tumbuhan bawah termasuk liana, perdu dan paku-pakuan.

Namun, kini status hutan kota itu mulai terusik. Seluas 0,73 hektar telah beralih fungsi. Pagar beton sepanjang kurang lebih 90 meter dengan tinggi sekitar dua meter itu berdiri kokoh berada di dalam kawasan tersebut.

Kondisi itu membuat Badan Eksekutif Mahasiswa Faklutas Kehutanan, alumni, masyarakat dan pengamat lingkutan bereaksi. Kain sepanjang belasan meter bertuliskan “Save Arboretum Sylva Untan” pun dibentangkan di jalan. Aksi tersebut untuk  meminta dukungan masyarakat Kota Pontianak terkait keberadaan Arboretum Slyva Untan. Yakni dengan membubuhkan tanda tangan sebagai bentuk dukungan.

Baca Juga :  Mahasiswa Untan Ciptakan Mobil Listrik

“Kami mengajak masyarakat untuk perduli sekaligus dukungan terhadap kondisi Arboterum yang berkurang 0,73 hektar,” ujar Koordinasi Aksi, Hendrikus Renonaldi.

Hal senada juga diungkapkan Bendril Sepito, alumni Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura. Aksi tersebut bertujuan mengajak masyarakat Kota Pontianak untuk peduli dengan hutan kota. Di mana, kata Bendril, hutan kota khususnya Arboretum Untan telah ditetapkan sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Menurut Bedril, keberadaan ruang terbuka hijau sangat penting. Selain sebagai penghasil oksigen, penyerapan polutan dan dinikmati sebagai wisata. “Intinya kami menyayangkan adanya pengurangan luasan ruang terbuka hijau ini,” katanya.

Kondisi ini juga menarik perhatian berbagai kalangan, di antaranya aktivis lingkungan Hermayani Putera. Melalui surat terbuka berjudul “Semoga tidak ada pagar makan tanaman” itu Hermayani mengatakan, pembangunan pagar beton pembatas yang menjadi polemik tersebut ternyata pelan-pelan terus kokoh berdiri. Tentu saja ini sangat ironis, di tengah dunia ilmu pengetahuan yang terus berkembang, dan kesadaran pentingnya pemahaman dan integrasi antar disiplin ilmu membuat dinding-dinding pembatas antar keilmuan semakin cair dan runtuh. Sebagaimana dimandatkan oleh UU No. 26 Tahun 2007 tentang Penataan Ruang, proporsi Ruang Terbuka Hijau (RTH)  kota minimal 30 persen dari luas wilayah.

Baca Juga :  Gertak Kayu di Areal Arboretum Dibongkar, Fakultas Kehutanan Melapor ke Polisi

Pembangunan pagar pembatas ini juga berpotensi melanggar hukum, Perda Nomor 2 tahun 2013 tentang Rencana Tata Ruang Wilayah Kota Pontianak telah menetapkan kawasan Arboretum sebagai Ruang Terbuka Hijau (RTH).

Menurut Hermayani, ada banyak jasa lingkungan yang disediakan oleh Arboretum ini secara gratis. Sebagai RTH, Arboretum memiliki multifungsi: sebagai daerah resapan air, penghasil oksigen, dan penyerap polusi udara. Arboretum juga berfungsi sebagai wahana pendidikan lingkungan hidup yang tepat. (arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/