alexametrics
22.8 C
Pontianak
Saturday, August 13, 2022

Gertak Kayu di Areal Arboretum Dibongkar, Fakultas Kehutanan Melapor ke Polisi

PONTIANAK – Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Prof Gusti Hardiyansah  melaporkan adanya dugaan pembongkaran properti berupa jembatan kayu (trail/gertak) di areal Arboretum Sylva Untan oleh pelaksana proyek pembangunan pagar batas Arboretum dengan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura ke Polresta Pontianak.

Laporan itu disampaikan Gusti dalam bentuk surat pengaduan yang dilayangkan pada Jumat, pekan lalu.

“Sehubungan dengan terjadinya tindak pembongkaran properti berupa gertak kayu di dalam areal Arboretum Sylva Untan, akibat pembangunan pagar batas, kami melaporkan tindakan itu ke Polresta Pontianak,” kata Gusti Hardiansyah.

Dikatakan Gusti, jembatan kayu atau geretak tersebut dibangun menggunakan anggaran APBD Kalimantan Barat tahun 2019 oleh Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat.  Di mana properti tersebut, kata Gusti, sudah tercatat sebagai aset negara yang harus dijaga dan dirawat keberadaannya.

Baca Juga :  Mahasiswa Untan Ciptakan Mobil Listrik

“Gertak kayu itu dibangun oleh Disporapar Kalbar menggunakan dana APBD. dan sudah tercatat sebagai asset negara yang wajib dijaga dan dirawat keberadaanya,” tegasnya.

Menurut Gusti, pembongkaran gertak kayu tersebut terjadi pada Selasa, 18 Februari 2021 oleh pekerja dan mandor bangunan yang diperkirakan berjumlah lima orang. “Kami sudah menegur mereka agar tidak membongkarnya. Namun, kata mandor yang mengawasi pekerjaan mengaku hanya menjalankan perintah,” kata Gusti.

Dikatakan Gusti, pihaknya menyayangkan terjadinya pembongkaran properti berupa jembatan kayu (trail/gertak) yang berada dalam areal RTH Kota Pontianak yang berlokasi di Arboretum Sylva Untan tersebut.

“Kami sangat menyayangkan adanya pembokaran gertak kayu itu. Sekali lagi, gertak kayu yang ada di kawasan Arboretum tercatat sebagai asset negara, karena dibangun menggunakan anggaran Disporapar,” bebernya. karena properti tersebut.

Ia berharap, agar aparat kepolisian agar menindaklanjutinya dengan memasang garis polisi agar tidak ada lagi aktivitas pembongkaran aset negara dan menindak tegas oknum pelaku perusakan serta dalang yang menyuruh tindak perusakan tersebut. “Kami siap untuk dimintai keterangan,” kata Gusti.

Baca Juga :  Bunga Bangkai Amorphophallus Paeoniifolius Mekar di Arboretum

Sementara itu Kapolresta Pontianak Kombes Pol Leo Joko Triwibowo mengaku telah menerima surat pengaduan yang dilayangkan oleh Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Prof Gusti Hardiasyah.

“Sudah pengaduan sudah kami terima dan saat ini sedang mengambil keterangan para saksi, Proses tetap berjalan,” kata Leo singkat.

Gertak kayu tersebut dibangun pada 2019 dengan total anggaran sebesar Rp 178. 213.000 yang bersumber dari APBD Kalimantan Barat.

Sedangkan pembangunan pagar batas antara Arboretum Sylva dengan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura dilakukan oleh CV Diamond Semesta dengan nilai kontrak Rp 198.960.000. (arf)

PONTIANAK – Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Prof Gusti Hardiyansah  melaporkan adanya dugaan pembongkaran properti berupa jembatan kayu (trail/gertak) di areal Arboretum Sylva Untan oleh pelaksana proyek pembangunan pagar batas Arboretum dengan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura ke Polresta Pontianak.

Laporan itu disampaikan Gusti dalam bentuk surat pengaduan yang dilayangkan pada Jumat, pekan lalu.

“Sehubungan dengan terjadinya tindak pembongkaran properti berupa gertak kayu di dalam areal Arboretum Sylva Untan, akibat pembangunan pagar batas, kami melaporkan tindakan itu ke Polresta Pontianak,” kata Gusti Hardiansyah.

Dikatakan Gusti, jembatan kayu atau geretak tersebut dibangun menggunakan anggaran APBD Kalimantan Barat tahun 2019 oleh Dinas Kepemudaan Olahraga dan Pariwisata Provinsi Kalimantan Barat.  Di mana properti tersebut, kata Gusti, sudah tercatat sebagai aset negara yang harus dijaga dan dirawat keberadaannya.

Baca Juga :  Raih Doktor, Stivenes Kaji Prestasi Tenaga Penjualan di Sektor Distributor

“Gertak kayu itu dibangun oleh Disporapar Kalbar menggunakan dana APBD. dan sudah tercatat sebagai asset negara yang wajib dijaga dan dirawat keberadaanya,” tegasnya.

Menurut Gusti, pembongkaran gertak kayu tersebut terjadi pada Selasa, 18 Februari 2021 oleh pekerja dan mandor bangunan yang diperkirakan berjumlah lima orang. “Kami sudah menegur mereka agar tidak membongkarnya. Namun, kata mandor yang mengawasi pekerjaan mengaku hanya menjalankan perintah,” kata Gusti.

Dikatakan Gusti, pihaknya menyayangkan terjadinya pembongkaran properti berupa jembatan kayu (trail/gertak) yang berada dalam areal RTH Kota Pontianak yang berlokasi di Arboretum Sylva Untan tersebut.

“Kami sangat menyayangkan adanya pembokaran gertak kayu itu. Sekali lagi, gertak kayu yang ada di kawasan Arboretum tercatat sebagai asset negara, karena dibangun menggunakan anggaran Disporapar,” bebernya. karena properti tersebut.

Ia berharap, agar aparat kepolisian agar menindaklanjutinya dengan memasang garis polisi agar tidak ada lagi aktivitas pembongkaran aset negara dan menindak tegas oknum pelaku perusakan serta dalang yang menyuruh tindak perusakan tersebut. “Kami siap untuk dimintai keterangan,” kata Gusti.

Baca Juga :  Soal Rencana Vaksinasi Covid-19, Perlu Sosialisasi Berkesinambungan

Sementara itu Kapolresta Pontianak Kombes Pol Leo Joko Triwibowo mengaku telah menerima surat pengaduan yang dilayangkan oleh Dekan Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura Prof Gusti Hardiasyah.

“Sudah pengaduan sudah kami terima dan saat ini sedang mengambil keterangan para saksi, Proses tetap berjalan,” kata Leo singkat.

Gertak kayu tersebut dibangun pada 2019 dengan total anggaran sebesar Rp 178. 213.000 yang bersumber dari APBD Kalimantan Barat.

Sedangkan pembangunan pagar batas antara Arboretum Sylva dengan Fakultas Pertanian Universitas Tanjungpura dilakukan oleh CV Diamond Semesta dengan nilai kontrak Rp 198.960.000. (arf)

Most Read

Artikel Terbaru

/