alexametrics
22.8 C
Pontianak
Sunday, August 14, 2022

Durasi 26 Bulan, Hanya Nyampah 1 Kilogram

Gaya hidup mengurangi sampah memang tidak mudah. Keluarga Andhini Miranda sudah membuktikannya. Dia konsisten mengurangi produksi sampah rumah tangganya hingga kini.

RUMAH tangga merupakan penyumbang sampah terbesar di tempat pembuangan akhir (TPA). Apalagi, dengan adanya pandemi, semakin banyak orang yang menghabiskan waktu di rumah saja. Makin banyak pula sampah yang dihasilkan di rumah tangga. Terutama dari produk yang menggunakan material sekali pakai.

Hal itu disadari Andhini Miranda, pegiat lingkungan yang menerapkan gaya hidup minim sampah bersama keluarganya. Gaya hidup tersebut dimulainya sedikit demi sedikit sejak 2012. Tetapi, bagi Andhini, gaya hidup tersebut baru benar-benar efektif dan terasa signifikan dampaknya pada 2018. ”Saat itu kami memutuskan untuk meniadakan tempat sampah di rumah,” jelasnya. Tak cukup hanya mengurangi tempatnya, sampahnya pun ikut dikurangi. Sampah-sampah organik diolah menjadi pupuk organik. Bagaimana dengan sampah nonorganik? ”Bukan dipilah, melainkan dicegah semaksimal mungkin. Jangan sampai ada sampah nonorganik. Kalaupun terpaksa ada, pilah sesuai material dan disetor segera ke pelaku daur ulang yang kredibel,” lanjutnya.

Terhitung sejak November 2018, mereka benar-benar berhenti membuang sampah ke TPA. ”Dan sampah residu yang saya-suami-anak hasilkan sejak November 2018 hingga Desember 2020 hanya sebanyak tiga botol kecil, dengan total berat 1 kilogram,” ujarnya.

Untuk memulai, Andhini menyarankan langkah awal dari menggali informasi. ”Setelah itu, bikin daftar produk sekali pakai yang digunakan sehari-hari, dari bangun hingga tidur,” jelasnya.

Baca Juga :  Sedih Sekaligus Bersyukur Atas Kematian Iron Man

Dari daftar tersebut, kita bisa memilih produk mana yang paling gampang dikurangi atau diganti dengan produk alternatif yang ramah lingkungan.

”Lakukan sembari belajar konsisten. Dari satu produk, tambah ke produk lain, dan begitu terus,” imbuh ibu satu anak tersebut.

Demi memenuhi barang kebutuhan sehari-hari itu, keluarga Andhini mulai belajar berkebun. Tujuan awalnya untuk mengurangi sampah selotip dan stiker yang didapat ketika membeli sayur dan buah. Kegiatan berkebun itu benar-benar dilakoni selama satu setengah tahun terakhir. Setidaknya, ada sepuluh jenis tanaman utama yang mereka budi dayakan.

BERI ALTERNATIF: Andhini sering memberikan workshop, salah satunya mengolah limbah dapur menjadi cairan pembersih cuka jeruk dan cairan eco enzyme.

Salah satunya, blustru yang buah keringnya bisa dijadikan sabut cuci ramah lingkungan. Daunnya juga bisa dijadikan sayur. Kemudian, telang yang bunganya bisa dimanfaatkan untuk minuman dingin dan bisa diolah pula jadi masakan. Lidah buaya digunakan sebagai bahan baku sampo, pasta gigi, hingga gel pereda luka dan gatal.

Mereka juga menanam spear mint untuk bahan teh dan infused water, menthol mint untuk bahan pasta gigi, jintan untuk memasak dan obat pereda sakit tenggorokan, serta sereh dan jeruk lemon untuk pewangi alami dalam membuat cairan pembersih dan sabun.

Keluarga Andhini juga menerapkan belanja terencana. Tujuannya, supaya mereka benar-benar beli yang dibutuhkan saja dan tidak menumpuk sampah dengan barang-barang yang tidak perlu. ”Jika memang butuh, kami cek juga kebutuhan kami, perlu sedikit atau banyak, dipakai untuk sesekali atau sering,” lanjutnya.

Baca Juga :  Tren Media Sosial Berbasis Suara
MINIM SAMPAH: Saat membeli makanan, Andhini selalu membawa tempat makan sendiri.

Daftar belanja tersebut berguna untuk menentukan seberapa banyak wadah atau kantong yang perlu disiapkan serta jenis wadah apa yang perlu dibawa. Misalnya, untuk belanja donat, mereka akan bawa kontainer makanan. Ukurannya disesuaikan mau beli berapa biji donat.

Bukan cuma soal belanja. Urusan kirim paket lewat ekspedisi juga tidak luput dari perhatian Andhini. Apalagi di tengah pandemi, jasa ekspedisi semakin diminati. Namun, karena menyadari potensi sampah yang dihasilkan dari bungkusnya, Andhini sebisabisanya tidak belanja lewat jasa ekspedisi. ”Jika memang perlu mengirim sesuatu, keluarganya meminta jasa kurir instan yang tidak menggunakan bungkus,” katanya.

”Tapi saat darurat dan tidak ada pilihan lain, kami request ke penjual agar paketnya dibungkus dengan sampah seminimal mungkin,” lanjut Andhini. Bagian selotip akan dibuka dengan hati-hati supaya bisa dipakai ulang. Koran atau kardus bekas akan dirapikan dan dipilah untuk kemudian disetor ke pedaur ulang.

Semua bagiannya diupayakan bisa dipakai kembali dan tidak dibuang seperti plastik atau tali rafia. ”Sehingga tidak ada satu pun yang berakhir di TPA,” paparnya. (deb/c13/ai)

Gaya hidup mengurangi sampah memang tidak mudah. Keluarga Andhini Miranda sudah membuktikannya. Dia konsisten mengurangi produksi sampah rumah tangganya hingga kini.

RUMAH tangga merupakan penyumbang sampah terbesar di tempat pembuangan akhir (TPA). Apalagi, dengan adanya pandemi, semakin banyak orang yang menghabiskan waktu di rumah saja. Makin banyak pula sampah yang dihasilkan di rumah tangga. Terutama dari produk yang menggunakan material sekali pakai.

Hal itu disadari Andhini Miranda, pegiat lingkungan yang menerapkan gaya hidup minim sampah bersama keluarganya. Gaya hidup tersebut dimulainya sedikit demi sedikit sejak 2012. Tetapi, bagi Andhini, gaya hidup tersebut baru benar-benar efektif dan terasa signifikan dampaknya pada 2018. ”Saat itu kami memutuskan untuk meniadakan tempat sampah di rumah,” jelasnya. Tak cukup hanya mengurangi tempatnya, sampahnya pun ikut dikurangi. Sampah-sampah organik diolah menjadi pupuk organik. Bagaimana dengan sampah nonorganik? ”Bukan dipilah, melainkan dicegah semaksimal mungkin. Jangan sampai ada sampah nonorganik. Kalaupun terpaksa ada, pilah sesuai material dan disetor segera ke pelaku daur ulang yang kredibel,” lanjutnya.

Terhitung sejak November 2018, mereka benar-benar berhenti membuang sampah ke TPA. ”Dan sampah residu yang saya-suami-anak hasilkan sejak November 2018 hingga Desember 2020 hanya sebanyak tiga botol kecil, dengan total berat 1 kilogram,” ujarnya.

Untuk memulai, Andhini menyarankan langkah awal dari menggali informasi. ”Setelah itu, bikin daftar produk sekali pakai yang digunakan sehari-hari, dari bangun hingga tidur,” jelasnya.

Baca Juga :  Prestige Syndrome di Dunia Film

Dari daftar tersebut, kita bisa memilih produk mana yang paling gampang dikurangi atau diganti dengan produk alternatif yang ramah lingkungan.

”Lakukan sembari belajar konsisten. Dari satu produk, tambah ke produk lain, dan begitu terus,” imbuh ibu satu anak tersebut.

Demi memenuhi barang kebutuhan sehari-hari itu, keluarga Andhini mulai belajar berkebun. Tujuan awalnya untuk mengurangi sampah selotip dan stiker yang didapat ketika membeli sayur dan buah. Kegiatan berkebun itu benar-benar dilakoni selama satu setengah tahun terakhir. Setidaknya, ada sepuluh jenis tanaman utama yang mereka budi dayakan.

BERI ALTERNATIF: Andhini sering memberikan workshop, salah satunya mengolah limbah dapur menjadi cairan pembersih cuka jeruk dan cairan eco enzyme.

Salah satunya, blustru yang buah keringnya bisa dijadikan sabut cuci ramah lingkungan. Daunnya juga bisa dijadikan sayur. Kemudian, telang yang bunganya bisa dimanfaatkan untuk minuman dingin dan bisa diolah pula jadi masakan. Lidah buaya digunakan sebagai bahan baku sampo, pasta gigi, hingga gel pereda luka dan gatal.

Mereka juga menanam spear mint untuk bahan teh dan infused water, menthol mint untuk bahan pasta gigi, jintan untuk memasak dan obat pereda sakit tenggorokan, serta sereh dan jeruk lemon untuk pewangi alami dalam membuat cairan pembersih dan sabun.

Keluarga Andhini juga menerapkan belanja terencana. Tujuannya, supaya mereka benar-benar beli yang dibutuhkan saja dan tidak menumpuk sampah dengan barang-barang yang tidak perlu. ”Jika memang butuh, kami cek juga kebutuhan kami, perlu sedikit atau banyak, dipakai untuk sesekali atau sering,” lanjutnya.

Baca Juga :  Thread Horror, Bikin Takut tapi Penasaran
MINIM SAMPAH: Saat membeli makanan, Andhini selalu membawa tempat makan sendiri.

Daftar belanja tersebut berguna untuk menentukan seberapa banyak wadah atau kantong yang perlu disiapkan serta jenis wadah apa yang perlu dibawa. Misalnya, untuk belanja donat, mereka akan bawa kontainer makanan. Ukurannya disesuaikan mau beli berapa biji donat.

Bukan cuma soal belanja. Urusan kirim paket lewat ekspedisi juga tidak luput dari perhatian Andhini. Apalagi di tengah pandemi, jasa ekspedisi semakin diminati. Namun, karena menyadari potensi sampah yang dihasilkan dari bungkusnya, Andhini sebisabisanya tidak belanja lewat jasa ekspedisi. ”Jika memang perlu mengirim sesuatu, keluarganya meminta jasa kurir instan yang tidak menggunakan bungkus,” katanya.

”Tapi saat darurat dan tidak ada pilihan lain, kami request ke penjual agar paketnya dibungkus dengan sampah seminimal mungkin,” lanjut Andhini. Bagian selotip akan dibuka dengan hati-hati supaya bisa dipakai ulang. Koran atau kardus bekas akan dirapikan dan dipilah untuk kemudian disetor ke pedaur ulang.

Semua bagiannya diupayakan bisa dipakai kembali dan tidak dibuang seperti plastik atau tali rafia. ”Sehingga tidak ada satu pun yang berakhir di TPA,” paparnya. (deb/c13/ai)

Most Read

Artikel Terbaru

/