alexametrics
26.7 C
Pontianak
Monday, May 16, 2022

Dua Tahun Melelahkan

“Dua tahun ini saya belajar banyak sekali, bahkan kalau boleh jujur rasanya dua tahun ini jauh lebih melelahkan dan menantang dibanding pengalaman saya tujuh belas tahun menjadi wartawan karena memang tantangannya lebih variatif.”

Najwa Shihab

Menduduki posisi kedua perempuan paling dikagumi di Indonesia tahun 2019 versi yougov.co.uk, lembaga survei independen di Inggris, Najwa Shihab memang banyak memberi pengaruh. Najwa merupakan repsentatif perempuan Indonesia yang cerdas, tegas dan menginspirasi. Saat kedatangannya ke Pontianak beberapa waktu lalu, kepada For Her Pontianak Post, Najwa bercerita bagaimana dia membangun media baru. Dua tahun yang penuh tantangan. Najwa berani keluar dari zona nyaman.

Oleh: Syahriani Siregar

Dua tahun lalu Najwa Shihab memutuskan hengkang dari stasiun televisi yang membesarkan namanya. Keputusan yang sangat disayangkan sebagian besar orang kala itu. Selama 17 tahun menjadi jurnalis Metro TV, Najwa sudah mengecap banyak pengalaman dan meduduki posisi penting. Mata Najwa merupakan program andalannya, dia pun telah menduduki kursi Wakil Pemimpin Redaksi di stasiun TV nasional tersebut.

Siapa yang tidak tahu Mata Najwa? Dari mahasiswa hingga elit politik memfavoritkan program tersebut. Gaya Najwa yang khas dalam mewawancarai narasumber dengan pertanyaan kritis dan sorot matanya yang tajam memang sangat menarik. Delapan tahun mengudara di Metro TV, Mata Najwa tiba di penghujung cerita. Episode Catatan Tanpa Titik yang tayang pada 30 Agustus 2017 menjadi penanda akhir dari program Mata Najwa, sang tuan rumah pamit mengundurkan diri.

Berhenti dari Metro TV bukan berarti berhenti berkarya. Najwa ternyata sudah mempersiapkan rencana masa depannya. Dia terjun ke industri media kreatif yang berfokus di platform digital. Bersama dua temannya yang juga merupakan jurnalis TV, Catharina Davy dan Dahlia Citra Buana, Najwa membangun media baru yang diberi nama Narasi TV pada September 2017.

“Sebetulnya sejak awal ketertarikan terhadap dunia digital sudah ada, cuma karena kesibukan yang teramat sangat di Metro TV, saat itu selain jadi tuan rumah Mata Najwa, saya juga wapemred yang memang banyak kelola program. Jadi kesempatan untuk menggali potensi digital belum tereskplorasi dengan baik,” jelas perempuan yang akrab disapa Nana ini.

Baca Juga :  Bohong Demi Kencan?

Hingga akhirnya dia sadar kekuatan digital yang berkembang pesat dan bagaimana teknologi memengaruhi cara orang mengonsumsi informasi. Hal itu yang menguatkan tekadnya dan dua temannya untuk mendirikan perusahaan media baru yang berjalan di multi-platform. Program Mata Najwa pun kembali dibawa bersamanya dan tayang lagi pada 10 Januari 2018 hingga kini.
Menurut Najwa, saat ini susah membayangkan jika konten hanya berada di satu medium.

“Karena habbit orang mengonsumsi informasi pun sudah di berbagai medium. Tanpa sadar kita sambil nonton sambil nge-tweet, sambil mengecek komen di Instagram terhadap isu itu. Jadi, ada multi-platform yang kita gunakan,” jelas perempuan kelahiran Makassar, 16 September 1977 ini.

Tak mudah bagi Najwa ketika mulai merintis media barunya. Ada keraguan dan ketakutan di masa awal mendirikan Narasi TV. Walaupun sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, jika melihat rekam jejaknya di dunia media.

Apalagi dia meniti karir benar-benar dari awal. Dari wartawan lapangan dan Mata Najwa juga sudah establish. Banyak orang yang tahu.

“Kalo dipikir-pikir kenapa sih mau memulai segalanya dari baru lagi? Waktu itu kan pertaruhannya adalah meninggalkan semua kenyamanan yang sudah didapatkan, tapi kemudian saya sadar, semakin lama saya menunda keputusan maka semakin cepat saya kehilangan tempat di dunia yang selamanya akan terus bergerak,” tutur perempuan yang memulai liputan pertamanya sebagai wartawan saat bencana tsunami di Aceh ini.

Pendekatan yang dilakukan di media televisi dan digital juga sangat berbeda. Diakui Najwa hal inilah yang membuatnya harus belajar keras. Ada tiga tahap yang dilaluinya yaitu belajar hal baru (learn), membongkar paradigma lama apa yang selama ini telah dikuasainya (unlearn) dan belajar terus menerus (relearn). Dia juga harus terus mencari formula untuk kontennya agar tak hanya menarik, tapi juga memberi dampak dan pengaruh kepada audiences-nya. Bagi Najwa konten berkualitas bukan hanya ikut selera pasar tetapi juga bisa memberi perubahan.

Baca Juga :  SJW, Pahlawan Masa Kini?

“Dua tahun ini saya belajar banyak sekali, bahkan kalau boleh jujur rasanya dua tahun ini jauh lebih melelahkan dan menantang dibanding pengalaman saya tujuh belas tahun menjadi wartawan karena memang tantangannya lebih variatif,” curhat Najwa yang sekarang juga belajar menjadi entrepreneur.

Tak hanya mempertaruhkan karirnya yang sudah nyaman, mencurahkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk belajar hal baru, bahkan trial and error pun pernah dialaminya. Najwa juga harus merogoh kocek pribadinya. Ketakutan tidak bisa menggaji karyawannya pun pernah terlintas di pikirannya saat itu.

Namun, keraguan dan ketakutan itu ditepisnya dengan melihat perkembangan Narasi hingga berjalan dalam kurun waktu dua tahun ini.

“Mungkin saja kalau ada pilihan untuk mengulang waktu saya akan memulai Narasi lebih awal dibandingkan dengan dua tahun lalu. Jadi itu keputusan yang ketika diambil tentu saja berat, tetapi saya tidak pernah menyesali keputusan itu terutama karena melihat bagaimana perkembangan Narasi sekarang,” ujar perempuan 42 tahun ini.

Narasi terus berkembang. Dari hanya bertiga kemudian punya karyawan sepuluh, dua puluh orang hingga kini mencapai 153 karyawan. Dalam waktu dua tahun mereka harus pindah kantor sebanyak tiga kali karena kebutuhan untuk menampung karyawannya yang semakin banyak. Mulai dari bikin 2 konten kini sudah punya 18 konten, dari partner kolaborasi yang bisa dihitung pakai jari, kini perangkat Excel tak cukup menampung banyaknya pihak yang sudah bekerja sama. Pencapaian yang berharga untuk Najwa.

“Semoga keputusan untuk mendirikan media baru yang fokus pada konten, kolaborasi dan komunitas ini keputusan yang insya Allah bukan hanya tepat tapi berkah,” harapnya.

Sebagai putri seorang cendekiawan muslim, Muhammad Quraish Shihab dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang cinta ilmu, Najwa selalu mengingat pesan ayahnya yang dipanggilnya Abi.

“Bahwa kaya itu saat kita memberi banyak namun merasa masih sedikit dan menerima sedikit namun merasa sudah banyak. Nilai-nilai inilah yang menjadi pegangan membangun Narasi,” pungkasnya.**

“Dua tahun ini saya belajar banyak sekali, bahkan kalau boleh jujur rasanya dua tahun ini jauh lebih melelahkan dan menantang dibanding pengalaman saya tujuh belas tahun menjadi wartawan karena memang tantangannya lebih variatif.”

Najwa Shihab

Menduduki posisi kedua perempuan paling dikagumi di Indonesia tahun 2019 versi yougov.co.uk, lembaga survei independen di Inggris, Najwa Shihab memang banyak memberi pengaruh. Najwa merupakan repsentatif perempuan Indonesia yang cerdas, tegas dan menginspirasi. Saat kedatangannya ke Pontianak beberapa waktu lalu, kepada For Her Pontianak Post, Najwa bercerita bagaimana dia membangun media baru. Dua tahun yang penuh tantangan. Najwa berani keluar dari zona nyaman.

Oleh: Syahriani Siregar

Dua tahun lalu Najwa Shihab memutuskan hengkang dari stasiun televisi yang membesarkan namanya. Keputusan yang sangat disayangkan sebagian besar orang kala itu. Selama 17 tahun menjadi jurnalis Metro TV, Najwa sudah mengecap banyak pengalaman dan meduduki posisi penting. Mata Najwa merupakan program andalannya, dia pun telah menduduki kursi Wakil Pemimpin Redaksi di stasiun TV nasional tersebut.

Siapa yang tidak tahu Mata Najwa? Dari mahasiswa hingga elit politik memfavoritkan program tersebut. Gaya Najwa yang khas dalam mewawancarai narasumber dengan pertanyaan kritis dan sorot matanya yang tajam memang sangat menarik. Delapan tahun mengudara di Metro TV, Mata Najwa tiba di penghujung cerita. Episode Catatan Tanpa Titik yang tayang pada 30 Agustus 2017 menjadi penanda akhir dari program Mata Najwa, sang tuan rumah pamit mengundurkan diri.

Berhenti dari Metro TV bukan berarti berhenti berkarya. Najwa ternyata sudah mempersiapkan rencana masa depannya. Dia terjun ke industri media kreatif yang berfokus di platform digital. Bersama dua temannya yang juga merupakan jurnalis TV, Catharina Davy dan Dahlia Citra Buana, Najwa membangun media baru yang diberi nama Narasi TV pada September 2017.

“Sebetulnya sejak awal ketertarikan terhadap dunia digital sudah ada, cuma karena kesibukan yang teramat sangat di Metro TV, saat itu selain jadi tuan rumah Mata Najwa, saya juga wapemred yang memang banyak kelola program. Jadi kesempatan untuk menggali potensi digital belum tereskplorasi dengan baik,” jelas perempuan yang akrab disapa Nana ini.

Baca Juga :  Busana Melayu Klasik, Pakaian Keseharian Tempo Dulu

Hingga akhirnya dia sadar kekuatan digital yang berkembang pesat dan bagaimana teknologi memengaruhi cara orang mengonsumsi informasi. Hal itu yang menguatkan tekadnya dan dua temannya untuk mendirikan perusahaan media baru yang berjalan di multi-platform. Program Mata Najwa pun kembali dibawa bersamanya dan tayang lagi pada 10 Januari 2018 hingga kini.
Menurut Najwa, saat ini susah membayangkan jika konten hanya berada di satu medium.

“Karena habbit orang mengonsumsi informasi pun sudah di berbagai medium. Tanpa sadar kita sambil nonton sambil nge-tweet, sambil mengecek komen di Instagram terhadap isu itu. Jadi, ada multi-platform yang kita gunakan,” jelas perempuan kelahiran Makassar, 16 September 1977 ini.

Tak mudah bagi Najwa ketika mulai merintis media barunya. Ada keraguan dan ketakutan di masa awal mendirikan Narasi TV. Walaupun sebenarnya tidak ada yang perlu dikhawatirkan, jika melihat rekam jejaknya di dunia media.

Apalagi dia meniti karir benar-benar dari awal. Dari wartawan lapangan dan Mata Najwa juga sudah establish. Banyak orang yang tahu.

“Kalo dipikir-pikir kenapa sih mau memulai segalanya dari baru lagi? Waktu itu kan pertaruhannya adalah meninggalkan semua kenyamanan yang sudah didapatkan, tapi kemudian saya sadar, semakin lama saya menunda keputusan maka semakin cepat saya kehilangan tempat di dunia yang selamanya akan terus bergerak,” tutur perempuan yang memulai liputan pertamanya sebagai wartawan saat bencana tsunami di Aceh ini.

Pendekatan yang dilakukan di media televisi dan digital juga sangat berbeda. Diakui Najwa hal inilah yang membuatnya harus belajar keras. Ada tiga tahap yang dilaluinya yaitu belajar hal baru (learn), membongkar paradigma lama apa yang selama ini telah dikuasainya (unlearn) dan belajar terus menerus (relearn). Dia juga harus terus mencari formula untuk kontennya agar tak hanya menarik, tapi juga memberi dampak dan pengaruh kepada audiences-nya. Bagi Najwa konten berkualitas bukan hanya ikut selera pasar tetapi juga bisa memberi perubahan.

Baca Juga :  Zetizen 4th Anniversary

“Dua tahun ini saya belajar banyak sekali, bahkan kalau boleh jujur rasanya dua tahun ini jauh lebih melelahkan dan menantang dibanding pengalaman saya tujuh belas tahun menjadi wartawan karena memang tantangannya lebih variatif,” curhat Najwa yang sekarang juga belajar menjadi entrepreneur.

Tak hanya mempertaruhkan karirnya yang sudah nyaman, mencurahkan waktu, tenaga dan pikirannya untuk belajar hal baru, bahkan trial and error pun pernah dialaminya. Najwa juga harus merogoh kocek pribadinya. Ketakutan tidak bisa menggaji karyawannya pun pernah terlintas di pikirannya saat itu.

Namun, keraguan dan ketakutan itu ditepisnya dengan melihat perkembangan Narasi hingga berjalan dalam kurun waktu dua tahun ini.

“Mungkin saja kalau ada pilihan untuk mengulang waktu saya akan memulai Narasi lebih awal dibandingkan dengan dua tahun lalu. Jadi itu keputusan yang ketika diambil tentu saja berat, tetapi saya tidak pernah menyesali keputusan itu terutama karena melihat bagaimana perkembangan Narasi sekarang,” ujar perempuan 42 tahun ini.

Narasi terus berkembang. Dari hanya bertiga kemudian punya karyawan sepuluh, dua puluh orang hingga kini mencapai 153 karyawan. Dalam waktu dua tahun mereka harus pindah kantor sebanyak tiga kali karena kebutuhan untuk menampung karyawannya yang semakin banyak. Mulai dari bikin 2 konten kini sudah punya 18 konten, dari partner kolaborasi yang bisa dihitung pakai jari, kini perangkat Excel tak cukup menampung banyaknya pihak yang sudah bekerja sama. Pencapaian yang berharga untuk Najwa.

“Semoga keputusan untuk mendirikan media baru yang fokus pada konten, kolaborasi dan komunitas ini keputusan yang insya Allah bukan hanya tepat tapi berkah,” harapnya.

Sebagai putri seorang cendekiawan muslim, Muhammad Quraish Shihab dan dibesarkan di lingkungan keluarga yang cinta ilmu, Najwa selalu mengingat pesan ayahnya yang dipanggilnya Abi.

“Bahwa kaya itu saat kita memberi banyak namun merasa masih sedikit dan menerima sedikit namun merasa sudah banyak. Nilai-nilai inilah yang menjadi pegangan membangun Narasi,” pungkasnya.**

Most Read

Artikel Terbaru

/