
PONTIANAK POST — Akhir September 2026 menjadi periode padat dalam kalender astrologi Barat. Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto mengalami retrograde secara bersamaan ketika Venus mendekati fase retrograde pada awal Oktober.
Komunitas astrologi menjuluki konfigurasi tersebut sebagai collective handbrake atau “rem darurat kolektif”. Periode ini ditafsirkan sebagai dorongan untuk memperlambat langkah, mengevaluasi rencana, dan tidak mengambil keputusan ketika emosi sedang memuncak.
Langit akhir bulan juga diramaikan Bulan Purnama di Aries pada 26 September waktu Indonesia. Mars kemudian memasuki Leo sekitar 27–28 September dan bergerak mendekati oposisi dengan Pluto.
Namun, tafsir tentang kehidupan, emosi, dan nasib tersebut merupakan bagian dari astrologi. Belum ada bukti ilmiah bahwa posisi planet menentukan keputusan, hubungan, atau kepribadian manusia.
Empat Planet Bergerak Mundur
Empat planet yang mengalami retrograde bersamaan adalah Saturnus, Uranus, Neptunus, dan Pluto. Dalam astrologi, planet-planet luar dikaitkan dengan perubahan sosial, struktur hidup, kebebasan, keyakinan, dan transformasi.
Saturnus ditafsirkan mewakili tanggung jawab serta batasan. Uranus diasosiasikan dengan perubahan dan kebebasan, sedangkan Neptunus dikaitkan dengan mimpi, intuisi, serta ilusi.
Pluto dianggap melambangkan kekuasaan, krisis, dan perubahan mendalam. Ketika keempatnya retrograde, astrolog membaca periode ini sebagai waktu meninjau kembali arah hidup dan sistem yang tidak lagi bekerja.
Uranus memulai retrograde di Gemini pada 10 September 2026 dan berlangsung hingga Februari 2027. Peristiwa tersebut disebut sebagai retrograde pertama Uranus di Gemini dalam sekitar 84 tahun.
Bukan Fenomena Langka secara Astronomi
Retrograde bukan berarti planet benar-benar menghentikan orbit lalu bergerak mundur. Fenomena tersebut merupakan gerak semu yang terlihat dari Bumi akibat perbedaan posisi dan kecepatan orbit.

