PONTIANAK POST - Harapan keluarga dan tim penyelamat untuk menemukan Erviani Vidya dalam kondisi hidup harus berakhir duka.
Mahasiswi berusia 18 tahun asal Kabupaten Sambas tersebut ditemukan tak bernyawa pada Senin pagi (7/4/2025) sekitar pukul 06.50 WIB.
Ia ditemukan setelah upaya pencarian tanpa henti selama lebih dari 16 jam di aliran deras Riam Marum, Dusun Dawar, Desa Pisak, Kecamatan Tujuh Belas, Kabupaten Bengkayang.
Jenazah korban ditemukan sekitar 400 meter dari titik awal ia dilaporkan terseret arus, tak jauh dari kawasan wisata tempat ia dan teman-temannya semula menghabiskan waktu akhir pekan.
Saat proses evakuasi berlangsung, suasana di sekitar lokasi menjadi sunyi, diselingi isak tangis keluarga serta warga yang menyaksikan langsung.
Setelah berhasil dievakuasi, jenazah dibawa ke rumah seorang kerabat, Bapak Sudadi, di Dusun Panda, Desa Lembang, Kecamatan Sanggau Ledo, untuk proses visum oleh tim medis dari Puskesmas Sanggau Ledo.
Jenazah kemudian direncanakan diberangkatkan ke kampung halamannya di Sambas menggunakan ambulans guna dimakamkan.
Pencarian dan evakuasi melibatkan tim gabungan dari Polsek Sanggau Ledo, Satsamapta Polres Bengkayang, Basarnas Sintete Sambas, Forkopimcam, serta partisipasi aktif masyarakat sekitar.
Kapolsek Sanggau Ledo AKP Harto Simanjuntak, mengungkapkan belasungkawa atas musibah tersebut.
“Kami semua sangat berduka. Meski bukan hasil yang kita harapkan, kami bersyukur korban berhasil ditemukan. Terima kasih kepada seluruh pihak yang telah bahu-membahu dalam proses pencarian sejak kemarin,” ujar AKP Harto.
Ia menekankan pentingnya kewaspadaan saat berada di lokasi wisata alam. Pihaknya akan berkoordinasi dengan Forkopimcam dan pengelola wisata untuk menambah rambu-rambu peringatan serta meningkatkan pengawasan terhadap pengunjung.
“Tempat wisata alam itu indah, tapi juga menyimpan risiko. Kami harap semua pihak lebih memperhatikan keselamatan pengunjung. Jangan sampai ada korban jiwa lagi,” tegasnya.
Tragedi ini menjadi pengingat bahwa keindahan alam tidak lepas dari bahaya. Derasnya arus air terjun menyimpan risiko yang kerap tak terduga. Kini, Erviani telah kembali pulang—dengan keheningan yang menyayat, namun juga penuh doa dan cinta yang abadi. (mif/r)
Editor : Miftahul Khair