Kisah Lahan Eks-PETI di Bengkayang Sukses Disulap Jadi Ladang Jagung

Aristono Edi Kiswantoro • Dipublikasikan Rabu, 19 Agustus 2026 | 00:12 WIB
PANEN JAGUNG: Suasana panen jagung di lahan eks-PETI seluas dua hektare di Desa Bani Amas, Kecamatan Bengkayang, yang menghasilkan sekitar lima ton jagung.
PANEN JAGUNG: Suasana panen jagung di lahan eks-PETI seluas dua hektare di Desa Bani Amas, Kecamatan Bengkayang, yang menghasilkan sekitar lima ton jagung.

 

PONTIANAK POST – Lahan bekas pertambangan emas tanpa izin (PETI) di Kabupaten Bengkayang yang sebelumnya tidak produktif kini menghasilkan pangan. Di atas lahan eks-PETI seluas sekitar dua hektare, jagung berhasil dipanen dengan hasil mencapai sekitar lima ton.

Panen jagung tersebut digelar Polres Bengkayang melalui Polsek Bengkayang di Demplot Jagung Sentagi Dalam, Desa Bani Amas, Kecamatan Bengkayang, Selasa (18/8/2026) pagi.

Panen dipimpin Kapolres Bengkayang AKBP Syahirul Awab, S.Sos., S.I.K. dan dihadiri Wakapolres Bengkayang Kompol Suparwoto, S.I.P., jajaran pejabat utama Polres Bengkayang, Camat Bengkayang, Kapolsek Bengkayang, unsur TNI, pemerintah desa, kelompok tani, serta para petani.

Transformasi lahan tersebut menjadi ladang jagung menjadi gambaran bahwa bekas lahan pertambangan tidak selamanya harus menjadi lahan mati. Dengan pengelolaan dan pendampingan, lahan yang sebelumnya tidak produktif dapat kembali memberikan manfaat bagi masyarakat.

Jagung yang dipanen merupakan hasil penanaman benih jagung hibrida NK 6172-Bt11xGA21 Perkasa Sakti sebanyak sekitar 25 kilogram. Tanaman tersebut tumbuh baik hingga menghasilkan sekitar lima ton jagung dari lahan seluas dua hektare.

Kapolres Bengkayang mengatakan dirinya bangga melihat perubahan fungsi lahan eks-PETI tersebut.

“Saya turut berbangga karena hari ini kita bisa memanfaatkan lahan eks-PETI untuk ditanam jagung. Hasilnya hari ini bisa kita lihat bersama, jagung yang ditanam dapat tumbuh dengan baik dan kita bisa melaksanakan panen raya,” ujar Syahirul.

Menurutnya, pemanfaatan lahan eks-PETI untuk pertanian merupakan langkah positif dalam mendukung ketahanan pangan sekaligus memberikan nilai ekonomi bagi masyarakat.

Karena itu, ia mengajak masyarakat, kelompok tani, dan instansi pemerintah tidak membiarkan lahan kosong tanpa manfaat. Lahan yang tersedia, kata dia, dapat dioptimalkan untuk kegiatan produktif sesuai potensi wilayah.

“Apabila Bapak dan Ibu memiliki lahan kosong yang tidak terpakai, silakan dimanfaatkan dengan sebaik mungkin. Saya mengajak masyarakat, kelompok tani dan instansi pemerintah untuk terus mengoptimalkan lahan produktif maupun lahan tidur agar berdampak positif terhadap ekonomi warga,” katanya.

Polisi Ikut Bertani

Keterlibatan Polri dalam kegiatan tersebut tidak berhenti pada pendampingan. Personel kepolisian turut terlibat dalam proses penanaman hingga panen sebagai bagian dari dukungan terhadap program ketahanan pangan pemerintah.

“Tugas pokok Polri selain melindungi, mengayomi dan melayani masyarakat, Polri juga turun ke lapangan sebagai petani jagung untuk menanam jagung guna menyukseskan program ketahanan pangan,” tegas Syahirul.

Ia menyebut keberhasilan panen tersebut merupakan hasil kerja bersama antara Polri, pemerintah daerah, TNI, kelompok tani, dan masyarakat.

“Program penanaman dan panen jagung ini merupakan wujud nyata dukungan aktif Polri bersama pemerintah daerah dan masyarakat dalam memperkuat ketahanan serta swasembada pangan nasional,” ujarnya.

Selain panen, Polres Bengkayang juga menyerahkan alat penyemprot atau sprayer kepada Kelompok Tani Panca Bengkayang. Bantuan tersebut diharapkan dapat menunjang kegiatan budidaya dan membantu petani meningkatkan produktivitas tanaman.

Menurut Syahirul, jagung memiliki peran penting dalam menjaga ketersediaan pangan sekaligus mendukung peningkatan kesejahteraan petani lokal.

Pemilik lahan turut mengapresiasi pendampingan Polres Bengkayang dalam mengembangkan lahan tersebut. Ia berharap pemanfaatan lahan eks-PETI dapat terus dikembangkan dan menjadi pemicu bagi masyarakat sekitar untuk mengelola lahan kosong menjadi sumber penghasilan.

Panen lima ton jagung dari lahan eks-PETI itu pun memberikan pesan bahwa lahan yang pernah rusak akibat aktivitas pertambangan masih dapat diarahkan menjadi ruang produktif.

Bagi masyarakat Bengkayang, perubahan tersebut bukan sekadar soal hasil panen. Lahan yang sebelumnya identik dengan aktivitas pertambangan tanpa izin kini mulai memberi hasil melalui kegiatan pertanian.

Polres Bengkayang berharap model pemanfaatan lahan tersebut dapat terus dikembangkan, tidak hanya untuk meningkatkan produktivitas pertanian lokal, tetapi juga memperkuat ketahanan pangan di Kabupaten Bengkayang dan mendukung target swasembada pangan nasional. (*)



Editor : Aristono Edi Kiswantoro
bengkayang peti Swasembada Pangan panen jagung ketahanan pangan