PONTIANAK POST – Keterbatasan sumber air menjadi salah satu persoalan dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di Kabupaten Bengkayang, Kalimantan Barat. Untuk mempercepat pemadaman, Polres Bengkayang merencanakan pembangunan 29 titik sumur bor di wilayah yang dinilai membutuhkan sumber air.
Rencana tersebut disampaikan Kapolres Bengkayang AKBP Syahirul Awab saat menghadiri sosialisasi penanganan karhutla dari Mabes TNI di Pansuma Resto, Desa Sungai Duri, Kecamatan Sungai Raya, Rabu (26/8/2026).
“Kapolsek jajaran sudah kita perintahkan untuk memetakan lokasi yang membutuhkan sumur bor. Saat ini ada 29 titik yang direncanakan untuk pembangunan dan sudah dilaporkan kepada Polda Kalbar,” kata Syahirul.
Sumber Air Jadi Kebutuhan Mendesak
Pembangunan sumur bor diarahkan untuk wilayah rawan kebakaran yang memiliki keterbatasan akses terhadap sumber air. Selain sumur bor, polisi menyiapkan hidran dan mesin pompa air untuk mendukung proses pemadaman.
Langkah tersebut diharapkan tidak hanya membantu petugas, tetapi juga masyarakat ketika api muncul di lokasi yang sulit mendapatkan air.
Dandim 1209 Bengkayang Letkol Inf. Aprianda mengatakan pembangunan sumber air menjadi bagian dari penguatan kesiapsiagaan menghadapi karhutla. Secara keseluruhan, direncanakan pembangunan sekitar 100 titik sumur bor di lokasi yang mudah diakses dan rawan kebakaran.
Karhutla Mengancam Wilayah Gambut
Kesiapsiagaan menjadi penting karena Bengkayang memiliki kawasan gambut yang cukup luas. Data yang dipaparkan dalam kegiatan tersebut mencatat sekitar 39.583,04 hektare lahan gambut tersebar di enam kecamatan dengan ketebalan 50 hingga 200 sentimeter.
Kawasan gambut terluas berada di Kecamatan Jagoi Babang dengan 14.160,60 hektare, disusul Sungai Raya Kepulauan 9.027,67 hektare dan Seluas 6.904,78 hektare.
Kondisi gambut membuat pencegahan dan deteksi dini menjadi penting agar api tidak berkembang dan sulit dikendalikan.
Respons Cepat Disiapkan
Polres Bengkayang membagi wilayah penanganan karhutla dalam tiga rayonisasi berdasarkan jarak dan akses dari Polres. Strategi tersebut ditujukan untuk mempercepat mobilisasi ketika kebakaran terjadi.
Sejumlah peralatan juga disiapkan melalui Satlak Damkarhutla. Di antaranya kendaraan roda dua dan roda empat, mobil water cannon, mesin pompa, selang pemadam, APAR, perlengkapan keselamatan, alat komunikasi, GPS, drone, hingga genset.
Polres Bengkayang juga mendapat dukungan 30 personel BKO Brimob Mabes Polri yang ditempatkan di tiga rayon.
“Dengan rayonisasi ini, kita ingin mempercepat respons apabila terjadi kebakaran. Karena jarak menuju beberapa wilayah cukup jauh, kesiapsiagaan dan kecepatan menjadi sangat penting,” ujar Syahirul.
Pencegahan Dimulai dari Desa
Selain menyiapkan peralatan, pencegahan dilakukan melalui sosialisasi kepada masyarakat, kampanye publik, pembentukan desa tanggap bencana, serta patroli terpadu di darat dan udara menggunakan drone.
Posko tanggap darurat juga disiapkan di wilayah rayonisasi. Bhabinkamtibmas diarahkan melakukan patroli rutin untuk mengantisipasi munculnya titik api maupun kemungkinan api merembet dari wilayah lain.
Brigjen TNI Togu Parmonangan mengingatkan masyarakat agar tidak membuka atau membersihkan lahan dengan cara membakar. Menurutnya, karhutla dapat menimbulkan kerusakan lingkungan, gangguan kesehatan, kerugian ekonomi, hingga mengganggu transportasi.
“Penanganan karhutla bukan hanya tugas TNI, Polri maupun pemerintah, tetapi menjadi tanggung jawab kita bersama.”
Koordinasi Lintas Wilayah
Camat Sungai Raya Muhammad Jamil mengajak kepala desa, masyarakat, pemilik lahan, serta seluruh unsur terkait meningkatkan kewaspadaan dan segera melaporkan apabila menemukan titik api.
Perwakilan Manggala Agni juga menekankan pentingnya koordinasi lintas wilayah karena kebakaran dapat merembet dari daerah sekitar.
Kapolres Bengkayang mengatakan pihaknya akan berkoordinasi dengan kepolisian di wilayah tetangga, termasuk Polres Mempawah, untuk memperkuat pencegahan.
“Kita akan berkoordinasi dengan Kapolres Mempawah agar upaya pencegahan dapat diteruskan kepada pihak-pihak terkait,” ujarnya.
Bagi warga di kawasan rawan, keberadaan sumber air di dekat lokasi kebakaran dapat menjadi penentu kecepatan respons ketika api mulai muncul. Namun, kesiapsiagaan tersebut tetap harus berjalan bersama pencegahan agar kebakaran tidak terjadi sejak awal.
Editor : Aristono Edi Kiswantoro