PONTIANAK POST - Mengelola emosi bukan hanya soal menahan amarah, tapi juga memastikan perasaan buruk tidak berdampak pada orang lain.
Pesan ini disampaikan oleh KH Ahmad Bahauddin Nursalim atau yang akrab disapa Gus Baha saat mengaji bersama santri di Banyuwangi.
Dalam sebuah kajian yang disiarkan melalui kanal YouTube Pemerintah Kabupaten Banyuwangi, Gus Baha membagikan panduan sederhana namun mendalam tentang bagaimana Islam mengajarkan pengendalian emosi.
Baca Juga: Gus Baha Ungkap Bahagia Tak Harus Jadi Pejabat atau Kaya, Ini Makna Sebenarnya
Uzlah sebagai Cara Bijak Mengendalikan Emosi agar Tak Merugikan Orang Lain
Menurutnya, saat seseorang sedang diliputi rasa penat, sumpek, atau emosi, langkah terbaik justru bukan berinteraksi dengan banyak orang. Ia menekankan pentingnya uzlah atau menyepi sementara waktu.
“Islam menyarankan uzlah saat penat. Kalau sedang emosional, sebaiknya jangan berada di tengah-tengah manusia. Karena dalam ajaran Islam, kita dianjurkan untuk tetap tersenyum dan menunjukkan wajah ceria,” ujar Gus Baha.
Dalam penjelasannya, Gus Baha merujuk pada Sahih Muslim, salah satu kitab hadis paling otoritatif yang menjadi rujukan ulama Ahlussunah wal Jamaah di seluruh dunia.
Ia menyebut, dalam ajaran Nabi terdapat prinsip dasar bahwa kualitas keislaman seseorang bisa dilihat dari kemampuannya menahan diri agar keburukannya tidak merugikan orang lain.
“Kalau belum bisa berbuat baik, minimal jangan sampai keburukan kita berdampak pada orang lain,” jelasnya.
Gus Baha juga menegaskan bahwa rujukan langsung pada kitab hadis penting untuk menghindari subjektivitas dalam menyampaikan ajaran agama. Ia ingin memastikan bahwa apa yang disampaikan benar-benar bersumber dari ajaran Nabi, bukan sekadar pendapat pribadi.
Hindari Menularkan Emosi Negatif, Menyepi Jadi Pilihan Bijak Saat Galau
Lebih lanjut, ia memberikan contoh sederhana dalam kehidupan sehari-hari. Saat seseorang sedang galau atau sumpek, sebaiknya tidak mendatangi teman atau orang lain yang sedang bekerja, belajar, atau beraktivitas, karena berpotensi menularkan emosi negatif.
“Kadang ada kondisi di mana kita bertemu orang lalu ingin berkata tidak enak. Dalam situasi seperti itu, lebih baik menyepi saja,” katanya.
Ia menambahkan, dalam kondisi tertentu seperti tekanan keluarga, beban utang, atau masalah pribadi lainnya, emosi bisa menjadi tidak terkendali.
Dalam situasi itu, menyendiri justru menjadi pilihan bijak agar tidak melukai orang lain.
Jangan Ambil Keputusan Saat Emosi, Ini Pesan Penting Gus Baha untuk Semua Kalangan
Gus Baha juga mengingatkan pesan Nabi agar seseorang tidak mengambil keputusan saat sedang marah, lapar, terlalu kenyang, atau dalam kondisi sangat sibuk.
Hal ini berlaku bagi semua kalangan, termasuk pejabat, kiai, dan tokoh masyarakat, karena kondisi emosional dapat memengaruhi kejernihan berpikir.
“Jangan sampai kita merugikan diri sendiri dan orang lain. Ini sebenarnya bentuk ibadah yang mulai banyak ditinggalkan,” pungkasnya. (*)
Editor : Miftahul Khair