Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Kriteria Ulama Menurut Gus Dhofir: Bukan Sekadar Simbol Tapi Ilmu, Akhlak, dan Kasih Sayang

Khoiril Arif Ya'qob • Jumat, 10 April 2026 | 14:00 WIB
Ilustrasi Ulama yang mempelajari ilmu bukan sekadar simbol. (FREEPIK/Khoiril)
Ilustrasi Ulama yang mempelajari ilmu bukan sekadar simbol. (FREEPIK/Khoiril)

 

PONTIANAK POST - Di tengah maraknya figur keagamaan di era digital, pertanyaan tentang siapa yang layak disebut ulama kembali mencuat.

Ach Dhofir Zuhry melalui kanal YouTube NU Online, menegaskan bahwa ukuran ulama tidak bisa hanya dilihat dari simbol lahiriah seperti pakaian atau gelar, melainkan dari kedalaman ilmu, akhlak, dan kepedulian terhadap umat.

Simbol Bukan Penentu Ulama

Gus Dhofir mengkritik cara pandang masyarakat modern yang kerap menilai ulama dari tampilan luar semata.

Baca Juga: Waspada Ulama Palsu! Gus Dhofir Ungkap Ciri-cirinya, Dampaknya Bisa Rusak Umat

“Kalau cuma simbol, dicolokkan pakai sorban ya, banyak kok yang pakai begitu, masa langsung dipercaya,” ujarnya.

Menurutnya, simbol seperti sorban, jubah, atau atribut keagamaan lainnya tidak otomatis menjadikan seseorang sebagai ulama. Bahkan, ia menyindir dengan analogi unik.

“Selain Abu Jahal, Abu Lahab, banyak juga yang pakai sorban begitu,” tambahnya.

Baca Juga: Kapan Waktu Terbaik Bayar Zakat Fitrah? Ini Dalil dan Penjelasan Ulama

Pesan ini menegaskan bahwa simbol tidak selalu mencerminkan kualitas keilmuan dan integritas seseorang.

Ulama Adalah Orang yang Terus Belajar

Salah satu indikator utama ulama, kata Gus Dhofir, adalah komitmen pada proses belajar sepanjang hayat.

“Ciri orang pintar itu kalau tetap ngaji. Kalau dia berhenti ngaji, berhenti belajar, mulailah dia bodoh,” jelas Gus Dhofir.

Ia menegaskan bahwa dalam Islam, belajar adalah kewajiban seumur hidup. Bahkan, hingga setelah kematian pun manusia tetap belajar melalui pertanyaan malaikat.

Ilmu Harus Melahirkan Ketakwaan

Mengutip pandangan ulama klasik seperti Al-Ghazali, Gus Dhofir menjelaskan bahwa ulama sejati adalah mereka yang ilmunya melahirkan rasa takut kepada Allah.

“Orang yang tidak takut kepada Allah, itu tidak disebut alim, meskipun gelarnya banyak,” timpalnya.

Baca Juga: Apakah Air Hujan yang Tak Sengaja Tertelan Membatalkan Puasa? Ini Penjelasan Ulama Fikih

Ia menambahkan, semakin tinggi ilmu seseorang, seharusnya semakin besar pula ketakwaannya.

Ulama Sejati Penuh Kasih Sayang

Kriteria lain yang sangat penting adalah sikap welas asih terhadap umat.

“Ulama itu memandang umat dengan kacamata cinta kasih,” ujarnya.

Baca Juga: Bagaimana Hukum Tarawih Sebelum Salat Isya, Sah atau Tidak? Ini Penjelasan Ulama

Menurutnya, ulama bukan hanya menyampaikan ilmu, tetapi juga membimbing dengan empati, bukan dengan kebencian atau kepentingan tertentu.

Gus Dhofir mengingatkan masyarakat agar lebih kritis dalam memilih panutan. Ulama sejati bukanlah yang sekadar tampil religius, tetapi yang memiliki ilmu mendalam, akhlak mulia, dan kepedulian terhadap umat. (*)

Editor : Miftahul Khair
#kriteria ulama #ciri ulama sejati dalam Islam #Gus Dhofir Zuhry