PONTIANAK POST – Hari Raya Idulfitri identik dengan suasana kegembiraan yang dirasakan umat Muslim setelah sebulan penuh menjalani ibadah puasa Ramadan. Takbir berkumandang, keluarga berkumpul, dan tradisi saling memaafkan menjadi bagian dari kebahagiaan yang dirayakan setiap tahunnya.
Namun, kegembiraan Idulfitri dalam pandangan Islam tidak berhenti pada euforia lahiriah semata. Ada makna kebahagiaan yang lebih dalam, berkaitan dengan kondisi hati dan hubungan seorang hamba dengan Allah Subhanahuwata’ala.
Dalil tentang Kegembiraan
Kegembiraan dalam Islam juga disebutkan dari hadis Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam. Dalam sebuah hadis dikatakan orang yang berpuasa memiliki dua kebahagiaan, yaitu saat berbuka dan saat bertemu dengan Rabb-nya. Hal ini menunjukkan kegembiraan seorang Muslim bukan hanya bersifat duniawi, tetapi juga bernilai ibadah.
“Bagi orang yang berpuasa ada dua kebahagiaan: kebahagiaan ketika berbuka dan kebahagiaan ketika ia bertemu dengan Tuhannya.” (HR. Bukhari dan Muslim)
Hadis ini memperkuat kegembiraan di hari Idulfitri merupakan bagian dari rasa syukur atas nikmat ibadah yang telah dijalani selama Ramadan. Namun, kegembiraan tersebut tetap berada dalam koridor keimanan, bukan berlebihan hingga melalaikan nilai-nilai syariat.
Kegembiraan Setelah Latihan Spiritual
Ustadz Khalid Basalamah menjelaskan Idulfitri bukan sekadar perayaan biasa. Secara bahasa,‘Id al-Fiṭr berarti kembali berbuka setelah berakhirnya puasa Ramadan.
Kegembiraan sejati di hari Idulfitri lahir dari keberhasilan seorang Muslim setelah berhasil melewati latihan spiritual selama satu bulan penuh di bulan Ramadan.
Kegembiraan itu bukan sekadar karena makanan, pakaian baru, atau tradisi berkumpul, melainkan karena mampu menahan hawa nafsu, menjaga diri dari maksiat, serta memperbaiki akhlak.
Dengan kata lain, kebahagiaan Idulfitri adalah kebahagiaan iman, yakni ketika seseorang merasakan perubahan dalam dirinya menjadi lebih taat kepada Allah Subhanahuwata’ala.
Kegembiraan tersebut juga tercermin dari tekad untuk tetap istiqamah setelah Ramadan, bukan justru kembali pada kebiasaan lama yang jauh dari nilai-nilai ibadah.
Kegembiraan yang Menguatkan Iman
Idulfitri sejatinya menjadi momentum untuk mengevaluasi diri. Apakah Ramadan benar-benar membawa perubahan dalam kehidupan seorang Muslim, atau justru berlalu tanpa bekas.
Seorang mukmin dianjurkan untuk menjaga amal ibadah yang telah dibangun, seperti salat tepat waktu, membaca Al-Qur’an, serta menjaga lisan dan perilaku dalam kehidupan sehari-hari.
Dari sinilah muncul kegembiraan yang lebih dalam dan bermakna, yakni ketika seseorang mampu mempertahankan kualitas keimanan setelah Ramadan.
Kekeliruan dalam Memaknai Idulfitri
Namun, di balik suasana kegembiraan yang menyelimuti Hari Raya Idulfitri, penting bagi umat Muslim untuk memahami kebahagiaan tersebut untuk tidak boleh lepas dari tuntunan syariat.
Ustadz Khalid Basalamah juga mengatakan di tengah masyarakat, masih terdapat sejumlah kekeliruan dalam memaknai Idulfitri yang diselimuti kegembiraan.
Pertama, anggapan bahwa semua orang otomatis kembali suci dan seluruh dosanya telah diampuni. Padahal, hal tersebut bergantung pada diterima atau tidaknya amal ibadah seseorang.
Kedua, mengkhususkan ziarah kubur hanya pada hari raya. Dalam Islam, ziarah kubur memang dianjurkan, namun tidak dikhususkan pada momen tertentu seperti Idulfitri.
Ketiga, munculnya berbagai pelanggaran syariat, seperti ikhtilat (campur baur laki-laki dan perempuan tanpa batas), tabarruj (berhias berlebihan), hingga bersalaman dengan yang bukan mahram.
Alih-alih menghadirkan kegiatan yang bernilai ibadah, hal-hal tersebut justru dapat mengurangi makna kesucian dan ketaatan yang seharusnya dijaga.
Penutup
Dengan pemahaman yang tepat, kegembiraan dan perayaan Idulfitri tidak lagi dimaknai secara seremonial semata. Lebih dari itu, hari raya ini menjadi momen kebahagiaan spiritual karena berhasil mendekatkan diri kepada Allah Subhanahuwata’ala.
Semoga Allah Subhanahuwa ta’ala menerima amal ibadah kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita termasuk orang-orang yang kembali kepada-Nya dengan hati yang bersih. Āamīn.
Wallāhua‘lam bishawāb.
Editor : Silvina