Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Gus Kautsar Kritik Fenomena ‘Keramat’: Jangan Cari Sensasi, Jadilah Kiai yang Bermanfaat

Khoiril Arif Ya'qob • Jumat, 24 April 2026 | 13:39 WIB
KH. Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar menjelaskan kepada para santri dan kiai agar tidak terjebak dalam pencitraan keramat yang berlebihan. (YOUTUBE)
KH. Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar menjelaskan kepada para santri dan kiai agar tidak terjebak dalam pencitraan keramat yang berlebihan. (YOUTUBE)

 

PONTIANAK POST - KH. Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar atau Gus Kautsar mengingatkan para santri dan kiai agar tidak terjebak dalam pencitraan keramat yang berlebihan.

Menurutnya, sikap tersebut justru bisa menyesatkan dan mengaburkan esensi utama seorang ulama, yakni memberi manfaat melalui ilmu dan akhlak.

KH. Muhammad Abdurrahman Al-Kautsar, yang akrab disapa Gus Kautsar, menyampaikan kritik tajam terhadap fenomena pencitraan keramat di kalangan tokoh agama.

Baca Juga: Gus Yahya Buka-bukaan Soal Kasus Gus Yaqut: “Saya Tak Akan Libatkan NU untuk Urusan Adik Saya”

Dalam ceramahnya di kanal YouTube Alfalah Sukaraja Nuban  pada (11/4), ia menegaskan bahwa menjadi sosok bermanfaat jauh lebih penting dibanding menampilkan hal-hal yang terkesan luar biasa atau mistis.

“Jadilah orang yang bermanfaat, tapi jangan sampai tampil seolah-olah keramat. Keramat itu urusan Allah,” tegasnya.

Ia menyoroti kecenderungan sebagian orang yang berusaha menunjukkan kelebihan secara berlebihan, bahkan melalui tindakan yang tidak masuk akal.

Baca Juga: Benarkah Membaca 'Allahu Akbar' dengan Hamzah Panjang, Bisa Batalkan Salat? Simak Penjelasan Lengkap Gus Baha

Gus Kautsar menilai, hal tersebut tidak perlu dilakukan karena justru berpotensi menimbulkan kesalahpahaman di tengah masyarakat.

“Tidak usah aneh-aneh, tidak usah membuat atraksi. Kita ini seharusnya memberi contoh, bukan mencari sensasi,” ujarnya.

Menurutnya, peran utama seorang kiai adalah menjaga amanah keilmuan dan mendidik santri dengan baik.

Ia mengingatkan bahwa gelar kiai bukan sekadar status sosial, melainkan tanggung jawab besar untuk meneruskan estafet ilmu dari para ulama terdahulu.

“Di tangan kitalah tanggung jawab pendidikan itu. Hak-hak santri harus dipenuhi, termasuk memberikan pengajaran yang benar,” ucapnya.

Gus Kautsar juga mengajak para santri untuk tetap fokus pada proses belajar dan mengajar, bukan mencari jalan pintas demi popularitas.

Baca Juga: Ribuan Aktivis Ditangkap di Era Prabowo-Gibran, GUSDURian Soroti Ancaman Kebebasan Sipil dan Ajak Solidaritas

Ia bahkan mengingatkan agar tidak menciptakan metode atau gaya sendiri yang menyimpang dari tradisi para ulama.

“Jangan membuat metodologi sendiri, jangan membuat atraksi sendiri. Ikuti apa yang sudah diajarkan para masyayikh,” ujarnya.

Lebih lanjut, ia menekankan pentingnya sikap rendah hati, baik kepada guru maupun kepada murid. Menurutnya, kesombongan dalam berilmu justru dapat merusak reputasi ulama dan lembaga yang menaunginya.

Baca Juga: 3 Kriteria Ulama Sejati Menurut Gus Dhofir: Rabbani, Ahludz Dzikr, dan Berbasis Ilmu

Ia juga mengingatkan bahwa kesalahan kecil seorang tokoh agama bisa berdampak besar, bukan hanya pada dirinya sendiri, tetapi juga pada nama baik para guru dan pesantren.

“Kalau kamu melakukan kesalahan, bukan hanya kamu yang jatuh, tapi juga nama besar guru-gurumu,” katanya.

Dalam pesannya, Gus Kautsar mengajak seluruh santri untuk terus belajar, memperdalam ilmu, dan mengamalkannya dengan bijaksana.

Ia menegaskan bahwa ilmu harus berjalan beriringan dengan kedewasaan dan kebijaksanaan.

“Teruslah belajar, teruslah mengaji, dan sertai dengan kebijaksanaan. Ilmu tanpa sikap yang baik tidak akan membawa manfaat,” tuturnya.

Di akhir ceramah, ia berharap para santri mampu menjaga amanah ilmu, tetap rendah hati, dan berkontribusi positif di tengah masyarakat tanpa perlu menampilkan hal-hal yang berlebihan. (*)

Editor : Miftahul Khair
#gus kautsar #fenomena keramat #santri #ulama