PONTIANAK POST– Puasa Arafah menjadi salah satu ibadah sunnah paling utama yang dianjurkan pada bulan Dzulhijjah. Ibadah yang dilaksanakan setiap 9 Dzulhijjah itu memiliki keutamaan besar sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.
Narasumber dari laman Konsultasi Syariah, Ustadz Ahmad Anshori, Lc menjelaskan, Rasulullah pernah menerangkan keutamaan puasa Arafah dalam hadis riwayat Muslim dari sahabat Abu Qatadah.
Dalam hadis tersebut Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda puasa Arafah diharapkan dapat menghapus dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun sesudahnya. Sementara puasa Asyura diharapkan menghapus dosa satu tahun sebelumnya.
Baca Juga: Hari Arafah, Hari Paling Utama Sepanjang Tahun yang Sayang Disia-siakan
Hadis itu sering dipahami secara umum oleh sebagian orang, seolah seluruh dosa akan otomatis terhapus hanya dengan menjalankan puasa Arafah.
Dosa yang Diampuni Hanya Dosa Kecil
Menurut penjelasan Imam Nawawi dalam kitab Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim, yang dimaksud dosa yang dihapus melalui puasa Arafah adalah dosa-dosa kecil. “Para ulama mengatakan, maksud dosa yang terhapus adalah dosa kecil,” terang alumni Universitas Islam Madinah ini mengutip penjelasan Imam Nawawi.
Baca Juga: Gubernur Kalbar Ingatkan Jemaah Haji Siapkan Fisik Prima Jelang Wukuf di Arafah
Apabila seseorang tidak memiliki dosa kecil, maka puasa tersebut diharapkan dapat meringankan dosa besar. Jika tidak memiliki dosa besar, maka puasa Arafah akan menjadi sebab naiknya derajat seorang hamba di sisi Allah Subhanahuata’ala.
Karena itu, puasa Arafah tidak bisa dijadikan alasan untuk merasa aman terus melakukan maksiat atau dosa besar.
Dosa Besar Harus Disertai Taubat
Baca Juga: Jelang Fase Puncak Ibadah Haji Armuzna: Bus Selawat Dihentikan, Jemaah Diminta Fokus Jaga Kesehatan
Ahmad Anshori menegaskan, dosa besar hanya bisa diampuni dengan taubat yang sungguh-sungguh kepada Allah Subhanahuwata’ala.
Taubat itu meliputi penyesalan, memohon ampun, dan tekad kuat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut.
Ia juga mengingatkan dosa kecil yang dilakukan terus-menerus bisa berubah menjadi dosa besar. Hal itu sebagaimana perkataan sahabat Nabi, Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu.
Baca Juga: Pengaturan Tenda Jemaah Berbasis Nama dan Daerah, Jelang Puncak Haji di Armuzna
“Tidak ada dosa besar bila disertai istighfar, dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus,” demikian nasihat Ibnu Abbas.
Amal Saleh Tidak Otomatis Menghapus Dosa
Dalam penjelasannya, Ahmad Anshori juga mengutip firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 31 yang menerangkan, penghapusan dosa kecil berlaku bagi mereka yang menjauhi dosa-dosa besar.
Baca Juga: Sejak Kapan Ibadah Haji Disyariatkan? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya
Ayat tersebut menegaskan amal saleh, termasuk puasa Arafah, tidak otomatis menjadi penghapus dosa kecil apabila seseorang masih terus menikmati dosa besar tanpa taubat.
Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam juga menyebut salat lima waktu, Jumat ke Jumat, dan Ramadan ke Ramadan dapat menghapus dosa-dosa kecil selama dosa besar dijauhi.
Ulama Ingatkan Agar Tidak Salah Memahami Hadis
Baca Juga: Kemenhaj Umumkan Jemaah Haji Indonesia yang Hilang Ditemukan Wafat di Makkah
Ulama besar seperti Ibnul Qayyim turut mengingatkan agar umat Islam tidak salah memahami hadis tentang puasa Arafah dan puasa Asyura.
Menurutnya, sangat mustahil puasa sunnah sehari dapat menghapus seluruh dosa besar sementara pelakunya masih terus-menerus melakukan kemaksiatan tanpa taubat.
Pendapat senada juga disampaikan ulama hadis Madinah, Syaikh Abdulmuhsin Al-Abbad. Ia menjelaskan penghapusan dosa kecil tidak akan didapat apabila seseorang masih terus mempertahankan dosa besar dalam hidupnya.
Baca Juga: Jangan Sampai Dilakukan, Ini Larangan Penting Saat Menjalankan Ibadah Haji
Karena itu, puasa Arafah seharusnya menjadi momentum memperbanyak amal saleh sekaligus memperbaiki diri dengan meninggalkan dosa dan memperbanyak taubat kepada Allah Subhanahuwata’ala.
Wallahua’lam bishawab.
Editor : Silvina