Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman Cek Fakta For Her Jelita Bursa Properti

Puasa Arafah Bisa Hapus Dosa Dua Tahun, Begini Cara Memahaminya

Silvina • Senin, 25 Mei 2026 | 15:47 WIB
MOMEN KONTEMPLASI: Umat Islam dari berbagai negara berdoa menjelang pelaksanaan wukuf di Jabal Rahmah, Arafah, Makkah, Sabtu (15/6). (DOK JAWA POS)
MOMEN KONTEMPLASI: Umat Islam dari berbagai negara berdoa menjelang pelaksanaan wukuf di Jabal Rahmah, Arafah, Makkah, Sabtu (15/6). (DOK JAWA POS)

 

PONTIANAK POST– Puasa Arafah menjadi salah satu ibadah sunnah paling utama yang dianjurkan pada bulan Dzulhijjah. Ibadah yang dilaksanakan setiap 9 Dzulhijjah itu memiliki keutamaan besar sebagaimana dijelaskan dalam hadis Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam.

Narasumber dari laman Konsultasi Syariah, Ustadz Ahmad Anshori, Lc menjelaskan, Rasulullah pernah menerangkan keutamaan puasa Arafah dalam hadis riwayat Muslim dari sahabat Abu Qatadah.

Dalam hadis tersebut Nabi Shallallahu’alaihi wasallam bersabda puasa Arafah diharapkan dapat menghapus dosa satu tahun sebelumnya dan satu tahun sesudahnya. Sementara puasa Asyura diharapkan menghapus dosa satu tahun sebelumnya.

Baca Juga: Hari Arafah, Hari Paling Utama Sepanjang Tahun yang Sayang Disia-siakan

Hadis itu sering dipahami secara umum oleh sebagian orang, seolah seluruh dosa akan otomatis terhapus hanya dengan menjalankan puasa Arafah.

Dosa yang Diampuni Hanya Dosa Kecil

Menurut penjelasan Imam Nawawi dalam kitab Al-Minhaj Syarah Shahih Muslim, yang dimaksud dosa yang dihapus melalui puasa Arafah adalah dosa-dosa kecil. “Para ulama mengatakan, maksud dosa yang terhapus adalah dosa kecil,” terang alumni Universitas Islam Madinah ini  mengutip penjelasan Imam Nawawi.

Baca Juga: Gubernur Kalbar Ingatkan Jemaah Haji Siapkan Fisik Prima Jelang Wukuf di Arafah

Apabila seseorang tidak memiliki dosa kecil, maka puasa tersebut diharapkan dapat meringankan dosa besar. Jika tidak memiliki dosa besar, maka puasa Arafah akan menjadi sebab naiknya derajat seorang hamba di sisi Allah Subhanahuata’ala.

Karena itu, puasa Arafah tidak bisa dijadikan alasan untuk merasa aman terus melakukan maksiat atau dosa besar.

Dosa Besar Harus Disertai Taubat

Baca Juga: Jelang Fase Puncak Ibadah Haji Armuzna: Bus Selawat Dihentikan, Jemaah Diminta Fokus Jaga Kesehatan

Ahmad Anshori menegaskan, dosa besar hanya bisa diampuni dengan taubat yang sungguh-sungguh kepada Allah Subhanahuwata’ala.

Taubat itu meliputi penyesalan, memohon ampun, dan tekad kuat untuk tidak mengulangi perbuatan dosa tersebut.

Ia juga mengingatkan  dosa kecil yang dilakukan terus-menerus bisa berubah menjadi dosa besar. Hal itu sebagaimana perkataan sahabat Nabi, Ibnu Abbas radhiyallahu’anhu.

Baca Juga: Pengaturan Tenda Jemaah Berbasis Nama dan Daerah, Jelang Puncak Haji di Armuzna

“Tidak ada dosa besar bila disertai istighfar, dan tidak ada dosa kecil jika dilakukan terus-menerus,” demikian nasihat Ibnu Abbas.

Amal Saleh Tidak Otomatis Menghapus Dosa

Dalam penjelasannya, Ahmad Anshori juga mengutip firman Allah dalam Surah An-Nisa ayat 31 yang menerangkan, penghapusan dosa kecil berlaku bagi mereka yang menjauhi dosa-dosa besar.

Baca Juga: Sejak Kapan Ibadah Haji Disyariatkan? Ini Penjelasan Ulama dan Dalilnya

Ayat tersebut menegaskan amal saleh, termasuk puasa Arafah, tidak otomatis menjadi penghapus dosa kecil apabila seseorang masih terus menikmati dosa besar tanpa taubat.

Rasulullah shallallahu’alaihi wasallam juga menyebut salat lima waktu, Jumat ke Jumat, dan Ramadan ke Ramadan dapat menghapus dosa-dosa kecil selama dosa besar dijauhi.

Ulama Ingatkan Agar Tidak Salah Memahami Hadis

Baca Juga: Kemenhaj Umumkan Jemaah Haji Indonesia yang Hilang Ditemukan Wafat di Makkah

Ulama besar seperti Ibnul Qayyim turut mengingatkan agar umat Islam tidak salah memahami hadis tentang puasa Arafah dan puasa Asyura.

Menurutnya, sangat mustahil puasa sunnah sehari dapat menghapus seluruh dosa besar sementara pelakunya masih terus-menerus melakukan kemaksiatan tanpa taubat.

Pendapat senada juga disampaikan ulama hadis Madinah, Syaikh Abdulmuhsin Al-Abbad. Ia menjelaskan  penghapusan dosa kecil tidak akan didapat apabila seseorang masih terus mempertahankan dosa besar dalam hidupnya.

Baca Juga: Jangan Sampai Dilakukan, Ini Larangan Penting Saat Menjalankan Ibadah Haji

Karena itu, puasa Arafah seharusnya menjadi momentum memperbanyak amal saleh sekaligus memperbaiki diri dengan meninggalkan dosa dan memperbanyak taubat kepada Allah Subhanahuwata’ala.

 

Wallahua’lam bishawab.

Editor : Silvina
#puasa arafah #hari arafah #doa dua tahun #wukuf di arafah #cara memahami