PONTIANAK POST – Menunaikan ibadah haji merupakan impian besar setiap muslim. Namun bagi mereka yang telah mendapat kesempatan menjadi tamu Allah di Tanah Suci, harapan terbesar bukan hanya menyelesaikan seluruh rangkaian manasik, melainkan meraih predikat haji mabrur.
Predikat ini begitu istimewa karena Rasulullah Shallallahu‘alaihi wasallam menyebut balasannya tidak lain adalah surga. Karena itu, pertanyaan tentang apa sebenarnya tanda-tanda haji mabrur selalu menjadi perhatian umat Islam dari masa ke masa.
Haji Mabrur dan Janji Surga
Baca Juga: Gus Mus Jelaskan Arti Haji Mabrur: Bukan Soal Cium Hajar Aswad, tapi Sikap kepada Sesama
Keutamaan haji mabrur ditegaskan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam dalam sebuah hadis yang sangat masyhur:
الْحَجُّ الْمَبْرُورُ لَيْسَ لَهُ جَزَاءٌ إِلَّا الْجَنَّةَ
"Haji mabrur tidak ada balasan baginya kecuali surga."
Baca Juga: Gus Baha Sentil Orang yang Minta Doa Haji Mabrur Tanpa Memahami Rukun Haji
Hadis ini menunjukkan betapa tingginya kedudukan haji mabrur di sisi Allah Subhanahuwata’ala .Tidak semua haji otomatis mencapai derajat tersebut. Kemabruran menuntut keikhlasan, ketundukan, kesabaran, dan kesungguhan dalam menjalankan seluruh ketentuan ibadah.
Allah Subhanahuwata’ala juga berfirman:
"Dan sempurnakanlah ibadah haji dan umrah karena Allah."
(QS. Al-Baqarah: 196)
Baca Juga: Haji Pakai Uang Korupsi Apakah Sah? Ini Penjelasan Ulama soal Syarat Haji Mabrur
Ayat ini menegaskan haji harus dilakukan dengan penuh kesungguhan dan semata-mata mengharap ridha Allah.
Tanda Haji Mabrur Menurut Rasulullah
Para sahabat pernah bertanya kepada Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam mengenai tanda-tanda haji mabrur. Dalam riwayat Imam Ahmad disebutkan:
Baca Juga: Wakaf 220 Tahun dari Tokoh Aceh Ini Masih Mengalir, Ribuan Jemaah Haji Terima Rp9,2 Juta
"Mereka bertanya, 'Wahai Nabi Allah, apa tanda kebaikan haji mabrur itu?' Beliau menjawab, memberi makan dan menyebarkan salam."
Dalam riwayat lain yang diriwayatkan Imam At-Thabrani, Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda:
"Memberi makan dan berkata baik."
Baca Juga: Jemaah Apresiasi Pelayanan Haji: Ibadah Haji dapat Berjalan Tenang, Nyaman, dan Damai
Dari dua hadis tersebut terlihat kemabruran haji tidak hanya tercermin saat berada di Tanah Suci, tetapi juga dalam perilaku sosial setelah pulang ke kampung halaman.
Orang yang hajinya mabrur akan lebih peduli kepada sesama, mudah membantu orang lain, menjaga lisannya, serta menghadirkan manfaat bagi lingkungan sekitarnya.
Menjauhi Dosa Selama Menunaikan Haji
Allah Subhanahuwata’ala berfirman:
"Maka barang siapa yang menetapkan niatnya dalam bulan itu akan mengerjakan haji, maka tidak boleh rafats, berbuat fasik dan berbantah-bantahan dalam masa mengerjakan haji." (QS. Al-Baqarah: 197)
Ayat ini menjadi landasan penting bagi para ulama dalam menjelaskan hakikat haji mabrur.
Imam Al-Qurthubi menjelaskan haji mabrur adalah haji yang tidak diiringi kemaksiatan selama pelaksanaannya. Sejak berihram hingga seluruh rangkaian ibadah selesai, seorang jamaah menjaga dirinya dari pertengkaran, kezaliman, perkataan buruk, maupun pelanggaran syariat.
Dengan kata lain, haji bukan hanya perjalanan fisik menuju Makkah, tetapi juga perjalanan spiritual untuk membersihkan hati dan memperbaiki akhlak.
Pulang dengan Hati yang Berubah
Salah satu penjelasan paling mendalam tentang haji mabrur datang dari ulama generasi salaf, Hasan Al-Bashri.
Beliau mengatakan haji mabrur adalah ketika seseorang pulang dalam keadaan lebih mencintai akhirat dan tidak lagi terlalu terikat dengan gemerlap dunia.
Pandangan serupa juga disampaikan Imam Al-Ghazali. Menurut beliau, tanda kemabruran adalah ketika seseorang kembali dari Tanah Suci dengan hati yang lebih dekat kepada Allah dan semakin siap menghadapi kehidupan akhirat.
Baca Juga: Kisah Muslim Haji Bustami, Jagal Kurban Pontianak Hampir TIga Dekade
Perubahan inilah yang menjadi salah satu ukuran utama diterimanya ibadah haji.
Ukuran Kemabruran Dimulai Setelah Pulang
Banyak orang mengira kemabruran selesai saat thawaf terakhir atau ketika pesawat mendarat kembali di tanah air. Padahal, para ulama menjelaskan ukuran kemabruran justru mulai terlihat setelah seseorang kembali menjalani kehidupan sehari-hari.
Imam Al-Munawi menyebutkan tanda diterimanya haji adalah ketika seseorang menjadi lebih baik dari sebelumnya dan tidak kembali mengulangi kemaksiatan yang pernah dilakukan.
Baca Juga: Kubu Raya Jadi Pusat Pemotongan Dam Haji Kalbar, Seribu Hewan Mulai Disalurkan
Perubahan itu bisa terlihat dalam berbagai aspek kehidupan, seperti: lebih menjaga shalat, lebih jujur dalam bekerjal, lebih sabar menghadapi masalah, lebih lembut kepada keluarga, lebih peduli terhadap sesama, lebih berhati-hati dalam menjaga lisan. Dan semakin menjauhi perbuatan dosa.
Jika perubahan-perubahan tersebut terus tumbuh setelah pulang dari Tanah Suci, maka itu menjadi pertanda baik bagi kemabruran hajinya.
Haji Mabrur Bukan Gelar Sosial
Baca Juga: Jemaah Haji Mempawah Siap Wukuf di Arafah, Kondisi Seluruh Peserta Sehat
Haji mabrur bukanlah gelar yang diberikan manusia. Kemabruran tidak terletak pada panggilan "Pak Haji" atau "Bu Hajjah", melainkan pada perubahan diri yang nyata.
Allah Subhanahuwata’ala berfirman:
"Sesungguhnya orang yang paling mulia di sisi Allah adalah orang yang paling bertakwa." (QS. Al-Hujurat: 13)
Baca Juga: Jemaah Haji Asal Pontianak Meninggal di Mekkah, Sempat Dirawat di RS Al Noor
Karena itu, ukuran haji mabrur bukanlah seberapa sering seseorang disebut sebagai haji, melainkan seberapa besar ketakwaannya bertambah setelah kembali dari Tanah Suci.
Jika ibadah hajinya membuat dirinya semakin dekat kepada Allah, semakin baik akhlaknya, dan semakin bermanfaat bagi manusia, maka di situlah cahaya haji mabrur mulai tampak.
Wallahua'lam bishawab
Editor : Silvina