PONTIANAK POST – Zikir merupakan salah satu amalan yang sangat dianjurkan dalam Islam. Melalui zikir, seorang hamba mengingat Allah Subhanahuwata’ala, mendekatkan diri kepada-Nya, sekaligus memperoleh ketenangan hati. Namun, tidak banyak yang mengetahui dalam kondisi tertentu seorang muslim justru disunnahkan menghentikan zikirnya untuk sementara waktu.
Hal tersebut dijelaskan Jaenuri, Dosen Fakultas Agama Islam Universitas Nahdlatul Ulama (UNU) Surakarta, yang tayang di laman NU Online. Menurutnya, meskipun zikir merupakan amalan mulia, ada beberapa keadaan yang membuat seseorang lebih dianjurkan melakukan amalan atau kewajiban lain sebelum kembali melanjutkan zikir.
Zikir adalah Perintah Allah Subhanahuwata’ala
Baca Juga: Zikir Ini Ringan di Lisan Tapi Berat di Timbangan Amal, Yuk Rutinkan
Secara bahasa, zikir berasal dari kata dzakara-yadzkuru-dzikran yang berarti menyebut atau mengingat. Dalam praktiknya, zikir dapat dilakukan dengan lisan, hati, atau keduanya sekaligus.
Allah Subhanahuwata’ala berfirman dalam Alquran :
وَاذْكُرِ اسْمَ رَبِّكَ بُكْرَةً وَأَصِيلاً
Baca Juga: Inilah Keutamaan dan Manfaat Besar yang Dirasakan dari Zikir
"Dan sebutlah nama Tuhanmu pada waktu pagi dan petang." (QS Al-Insan: 25)
Ayat tersebut menunjukkan mengingat Allah merupakan perintah yang dapat dilakukan kapan saja dan di mana saja. Bahkan, zikir berjamaah memiliki keutamaan yang sangat besar.
Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda:
Baca Juga: Ingin Bebas dari Neraka? Bacalah Selalu Zikir Ini dan Buktikan Melalui Amal
لَا يَقْعُدُ قَوْمٌ يَذْكُرُونَ اللَّهَ تَعَالَى إِلَّا حَفَّتْهُمُ الْمَلَائِكَةُ وَغَشِيَتْهُمُ الرَّحْمَةُ
"Tidaklah suatu kaum berkumpul untuk berzikir kepada Allah kecuali mereka dikelilingi malaikat, diliputi rahmat, diberikan ketenangan, dan Allah menyebut mereka di hadapan makhluk yang ada di sisi-Nya." (HR Muslim)
Kapan Zikir Perlu Dihentikan?
Baca Juga: Keutamaan Zikir Pagi dan Petang, Amalan Ringan dengan Manfaat Luar Biasa
Dalam kitab Al-Adzkar, Imam Nawawi menjelaskan ada beberapa kondisi ketika seseorang yang sedang berzikir disunnahkan menghentikan zikirnya terlebih dahulu, lalu melanjutkannya kembali setelah kebutuhan tersebut selesai.
1. Ketika Ada Orang Mengucapkan Salam
Menurut Imam Nawawi, menjawab salam merupakan kewajiban. Karena itu, apabila seseorang sedang berzikir lalu ada orang yang mengucapkan salam kepadanya, maka ia dianjurkan menghentikan zikirnya sejenak untuk menjawab salam tersebut.Setelah itu, ia dapat kembali melanjutkan dzikir sebagaimana sebelumnya.
Baca Juga: Jangan Langsung Main HP, Ini Enam Fadhilah Zikir Setelah Salat Fardhu
2. Saat Mendengar Orang Bersin
Kondisi kedua adalah ketika ada orang yang bersin. Dalam Islam, seseorang dianjurkan mendoakan orang yang bersin dengan mengucapkan doa yang diajarkan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam.
Mendoakan orang bersin termasuk bagian dari adab sosial yang sangat dianjurkan dalam Islam dan memiliki dasar yang kuat dalam hadis-hadis Nabi.
Baca Juga: Ini Bacaan Zikir Setelah Salat Fardhu yang Dianjurkan Rasulullah
3. Ketika Khatib Sedang Berkhutbah
Imam Nawawi juga menjelaskan seseorang yang mendengar khutbah Jumat sebaiknya menghentikan zikirnya dan fokus mendengarkan khutbah.
Hal ini sejalan dengan firman Allah Subhanahuwata’ala:
Baca Juga: Bolehkah Mengeraskan Suara Saat Zikir Setelah Salat? Ini Penjelasan Ulama
وَإِذَا قُرِئَ الْقُرْآنُ فَاسْتَمِعُوا لَهُ وَأَنْصِتُوا لَعَلَّكُمْ تُرْحَمُونَ
"Apabila dibacakan Alquran, maka dengarkanlah baik-baik dan perhatikanlah dengan tenang agar kamu mendapat rahmat." (QS Al-A'raf: 204)
Mendengarkan khutbah menjadi bagian penting dari ibadah Jumat yang tidak sepatutnya diabaikan.
Baca Juga: Perbedaan Salat Laki-Laki dan Perempuan, Ini Penjelasan Lengkapnya
4. Saat Mendengar Azan dan Iqamah
Ketika mendengar azan atau iqamah, seorang muslim juga dianjurkan menghentikan zikirnya untuk menjawab lafal adzan sebagaimana yang diucapkan muadzin.
Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam bersabda:
Baca Juga: Ingin Khusyuk Ketika Salat ? Simak Tipsnya dari Ustadz Abdul Somad
إِذَا سَمِعْتُمُ النِّدَاءَ فَقُولُوا مِثْلَ مَا يَقُولُ الْمُؤَذِّنُ
"Apabila kalian mendengar azan, maka ucapkanlah seperti yang diucapkan muadzin." (HR Bukhari dan Muslim)
Setelah selesai menjawab azan, seseorang dapat kembali melanjutkan zikirnya.
Baca Juga: Lebih Utama Salat Id di Masjid atau Lapangan? Ini Penjelasan Ulama dan Sunnah Nabi
5. Saat Harus Mencegah Kemungkaran dan Menolong Sesama
Islam mengajarkan keseimbangan antara hubungan dengan Allah dan hubungan dengan sesama manusia.
Karena itu, apabila seseorang sedang berzikir lalu melihat kemungkaran yang harus dicegah, atau ada orang yang membutuhkan bantuan dan petunjuk, maka ia dianjurkan menghentikan zikirnya terlebih dahulu.
Baca Juga: Mengapa Salat Harus Menghadap Kiblat ? Ini Penjelasan Ulama
Menurut Jaenuri, membantu sesama dan mencegah kemungkaran pada hakikatnya juga merupakan bagian dari ketaatan kepada Allah Subhanahuwata’ala.
6. Ketika Sangat Mengantuk
Kondisi terakhir adalah ketika seseorang berada dalam keadaan sangat mengantuk. Dalam keadaan seperti itu, dikhawatirkan bacaan zikir yang dilafalkan menjadi tidak benar atau bahkan tidak disadari oleh yang mengucapkannya.
Baca Juga: Tak Hanya Pahala Berlipat, Ini Istimewa Lain Salat Berjamaah Menurut Hadis
Karena itu, lebih baik beristirahat sejenak hingga kesadaran kembali pulih, kemudian melanjutkan zikir dengan lebih khusyuk dan penuh penghayatan.
Mengutamakan yang Lebih Penting
Penjelasan Imam Nawawi menunjukkan Islam mengajarkan kebijaksanaan dalam beribadah. Zikir memang amalan yang sangat utama, tetapi ada keadaan tertentu ketika kewajiban, adab, atau kemaslahatan yang lebih besar perlu didahulukan.
Baca Juga: Hukum Sutrah atau Pembatas Salat, Wajib atau Sunnah? Simak Penjelasannya
Dengan memahami hal ini, seorang muslim dapat menempatkan ibadah secara proporsional tanpa mengurangi semangat untuk terus berzikir dan mengingat Allah Subhanahuwata’ala dalam kehidupan sehari-hari.
Tujuan zikir bukan sekadar melafalkan kalimat-kalimat tertentu, melainkan menghadirkan kesadaran kepada Allah Subhanahuwata’ala yang tercermin dalam sikap, akhlak, dan kepedulian terhadap sesama.
Wallahua'lam bishawab
Editor : Silvina