PONTIANAK POST – Banyak orang merasa dirinya terlalu banyak dosa sehingga menganggap sudah jauh dari rahmat Allah Subhanahuwata’ala. Padahal dalam Islam, seseorang tidak otomatis kehilangan kecintaan Allah hanya karena pernah berbuat salah. Yang paling dicintai Allah justru adalah hamba yang mau mengakui kesalahannya dan terus kembali kepada-Nya melalui taubat.
Pesan inilah yang disampaikan Syaikh Sa'ad bin Turki Al-Khotslan dalam kajian yang disiarkan melalui kanal YouTube AssunnahMelayu. Menurut beliau, manusia memang tidak luput dari kesalahan. Namun, pintu kasih sayang Allah selalu terbuka bagi siapa saja yang bersungguh-sungguh bertaubat.
Allah Mencintai Orang yang Selalu Kembali kepada-Nya
Baca Juga: Hati-Hati, Ada Dua Dosa yang Balasannya Disegerakan Allah Saat Masih Hidup di Dunia
Syaikh Sa'ad menjelaskan manusia selain para nabi tidak akan pernah terbebas dari dosa dan kekhilafan. Kesalahan merupakan bagian dari sifat manusia.
Karena itu, ukuran kemuliaan seorang muslim bukan terletak pada apakah ia pernah berbuat dosa atau tidak, melainkan pada kesungguhannya untuk segera kembali kepada Allah setiap kali terjatuh dalam kesalahan.
Beliau mengutip firman Allah Subhanahuwata’ala:
Baca Juga: Membaca Yasin di Malam Jumat, Benarkah Diampuni Dosa? Simak Kajian Muhammadiyah
إِنَّ اللَّهَ يُحِبُّ التَّوَّابِينَ وَيُحِبُّ الْمُتَطَهِّرِينَ
"Sesungguhnya Allah mencintai orang-orang yang banyak bertaubat dan mencintai orang-orang yang menyucikan diri." (QS Al-Baqarah: 222).
Menurut Syaikh Sa'ad, kata at-tawwabîn menunjukkan orang yang berkali-kali kembali kepada Allah melalui taubat. Artinya, Allah tidak hanya mencintai orang yang pernah bertaubat sekali, tetapi mereka yang terus memperbaiki diri setiap kali melakukan kesalahan.
Baca Juga: Puasa Arafah Bisa Hapus Dosa Dua Tahun, Begini Cara Memahaminya
Jangan Berputus Asa Karena Dosa
Beliau juga menjelaskan hadis yang sangat dikenal di kalangan umat Islam:
كُلُّ ابْنِ آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Baca Juga: Waspada Syirik, Dosa Besar Paling Besar yang Menghapus Amal
Artinya:"Setiap anak Adam pasti pernah berbuat salah, dan sebaik-baik orang yang bersalah adalah mereka yang bertaubat."
Hadis tersebut diriwayatkan oleh At-Tirmidzi, Ahmad, dan Ibnu Majah. Meskipun Imam Ahmad memberikan catatan terhadap sanadnya, Syaikh Sa'ad menegaskan makna hadis tersebut sahih dan sesuai dengan ajaran Islam secara umum.
Menurut beliau, pesan hadis ini adalah agar seorang muslim tidak tenggelam dalam keputusasaan ketika melakukan dosa. Sebaliknya, ia harus segera kembali kepada Allah dengan penuh penyesalan.
Baca Juga: Ustadz Syafiq Riza Basalamah Sebut Dosa Meninggalkan Salat Lebih Berat dari Zina
Rasulullah Mengajarkan Amalan Setelah Berbuat Dosa
Syaikh Sa'ad kemudian menjelaskan amalan yang dianjurkan Rasulullah Shallallahu’alaihiwasallam ketika seseorang terjatuh dalam dosa.
Beliau menyebutkan hadis sahih yang menerangkan apabila seorang hamba melakukan dosa, kemudian berwudu, melaksanakan salat dua rakaat, lalu memohon ampun kepada Allah dengan tulus, maka Allah akan mengampuninya.
Baca Juga: Fadhilah Istighfar yang Jarang Disadari, Amalan Sederhana dengan Keutamaan Besar
Menurut beliau, amalan ini seharusnya menjadi kebiasaan setiap muslim sepanjang hidupnya. Setiap kali melakukan kesalahan, jangan menunda taubat, tetapi segeralah kembali kepada Allah dengan istigfar, salat, dan penyesalan yang tulus.
Taubat adalah Jalan Menjadi Kekasih Allah
Syaikh Sa'ad mengutip firman Allah Subhanahuwata’ala dalam Surah Ali Imran ayat 135 yang menjelaskan orang-orang bertakwa bukanlah mereka yang tidak pernah bersalah, melainkan mereka yang segera mengingat Allah dan memohon ampun ketika melakukan dosa.
Baca Juga: Jangan Lewatkan, Ini Tujuh Amalan Sunnah di Hari Jumat yang Penuh Berkah
Hal itu menunjukkan bahwa Allah menghendaki hamba-Nya untuk terus kembali kepada-Nya, bukan larut dalam rasa putus asa.
Karena itu, siapa pun yang menjadikan taubat sebagai kebiasaan dalam hidupnya akan termasuk golongan at-tawwabîn, yakni orang-orang yang dicintai Allah Subhanahuwata’ala.
Dengan demikian, banyaknya dosa bukanlah alasan untuk menjauh dari Allah. Sebaliknya, setiap kesalahan hendaknya menjadi pengingat agar seorang hamba semakin sering mengetuk pintu ampunan-Nya, karena Allah mencintai mereka yang senantiasa kembali kepada-Nya.
Wallahua'lam bishawab
Editor : Silvina