Dalam video tersebut, dokter Agung menyampaikan bahwa vaksin dirancang sebelum penyakit muncul, sehingga dianggap berpotensi membahayakan kesehatan generasi masa depan dengan efek yang bisa menyebabkan kebodohan atau kemandulan.
Berikut kutipan langsung dari pernyataan dokter Agung dalam video itu:
“Bisa jadi anak cucu kita jadi orang yang bego karena diracuni tanpa kita tahu, atau mungkin generasi mendatang tidak akan terlahir karena kita dibuat mandul. Akan disiapkan vaksinnya sebelum penyakitnya ada. Itu kenyataan, itu bukan membual, karena kita menghadapi kenyataan”
Sampai Jumat (30/5/2025), video tersebut telah memperoleh lebih dari 1.000 likes, 98 komentar, dan dibagikan sebanyak 1.400 kali.
Hasil Cek Fakta
Dilansir dari cekfakta.com, Tim Cek Fakta Tempo melakukan verifikasi terhadap klaim tersebut dengan memanfaatkan Google Lens dan melakukan wawancara dengan para ahli.
Mereka menemukan bahwa video yang tersebar di media sosial sebenarnya berasal dari unggahan akun YouTube Refly Harun pada Oktober 2024 dengan judul "Live Dokter Agung Sapta Adi: Kesehatan yang Sakit! Intervensi Global di Balik Menteri Kesehatan RI!".
Video ini direkam jauh sebelum kunjungan Bill Gates ke Indonesia pada Mei 2025.
Menurut Dicky Budiman, seorang epidemiolog dari Griffith University, klaim yang menyatakan bahwa vaksin dibuat sebelum munculnya penyakit dan oleh karenanya merupakan rekayasa, adalah salah paham.
Dalam konsep intervensi kesehatan masyarakat, tindakan pencegahan adalah hal yang sangat penting dan menjadi fokus utama.
Salah satu penyakit yang mendesak untuk divaksinasi adalah tuberkulosis (TBC).
Berdasarkan data dari Kementerian Kesehatan RI dan Laporan Global Tuberculosis 2024, Indonesia menempati peringkat kedua dunia dalam hal jumlah kasus TBC setelah India.
Diperkirakan ada sekitar 1.090.000 kasus TBC setiap tahun dengan 125.000 kematian, yang berarti rata-rata terjadi 14 kematian setiap jam.
Kesimpulan
Konten yang mengklaim bahwa vaksin adalah hasil rekayasa yang berpotensi membahayakan masa depan generasi selanjutnya tergolong sebagai informasi yang menyesatkan. (sya)
Editor : Syahriani Siregar