Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Sastra Sufistik Berkelanjutan

A'an • Selasa, 5 November 2024 | 10:13 WIB
Ilustrasi
Ilustrasi

 

Oleh: Khairul Fuad

 

Ekspresi spiritualitas, baik secara eksoteris maupun esoteris tetap menunjukkan grafik sebagai kesadaran bagian dari kosmos. Ekspresi tersebut tidak akan pudar sepanjang kehidupan, baik terbatas dalam hidup manusia maupun nirbatas pada kehidupan. Bahkan, atheis sekalipundapat dikategorikan sebagai sebuah ekspresi apalagi theis tentunya dapat dinilai sebagai ekspresi tersebut yang berwujud dalam berbagai ragam kemanusiaan.

Ekspresi spiritualitas terdapatbanyak wujud ungkapan demi menunjukkan keberadaan dan kedekatan, bahkan kesatuan. Meskipun, wujud kesatuan berdampak kontroversial sehingga timbul istilah mujassimah, kesatuan ini lebih kepada upaya kesamaan melalui citra yang melampaui batas ruang dan waktu. Pada saat yang sama, upaya ini untuk tetap pada koridor pengakuan eksistensi entitas masing-masing, seperti diutarakan Annamarie Schimmel.

Pada gilirannya, sastra sufistik merupakan ekspresi spiritualitas pada tingkatan tertentu dalam wacana seni. Sastra di satu sisi dan sufistik di sisi lain sebagai ruang dan waktu berbeda yang diperinci (breakdown) dalam kesatuan melalui kesamaan citra. Memang pada dasarnya, keduanya memiliki citra yang relatif sama, tidak tertuju langsung kepada realitas nyata, tetapi terhubung dengan realitas imaji sehingga terbangun genre sastra sufistik.

Sebagai nirbatas kehidupan, sastra sufistik dapat dipastikan berkelindan, sedangkan terbatas dalam hidup manusia, dapat dimungkinkan berkelanjutan. Imajinasi kreatifnya dapat tetap berkembang sesuai kontekstual yang berlangsung, seperti ekologi sastra atau kritik sosial pada lingkup pertama. Pada lingkup kedua, dapat dimungkinkan sebagai pijakan untuk membangun sastra sufistik sekaligus proses keberlanjutan demi kebutuhan pengetahuan.

Kalimantan Barat bagian kesastraan-keindonesiaan, menyimpan khazanah-khazanah terkait sastra sufistik meskipun tidak menyentuh langsung ruang sastra pada awalnya. Saat masa Arab Melayu, sufisme bagian dari tamaddun Melayu Kalimantan Barat dengan ketokohan Ahmad Khatib Sambas, misalnya. Pemikiran sufistiknya tertuang dalam tulisan Arab Melayu, seperti Fathul Arifin. Kemudian, tokoh-tokoh selainnya, seperti Ismail Mundu juga memiliki pemikiran sufistik, termasuk Muhammad Basuni Imran. Ketiga ulama ini memiliki uslub penafsiran sufistik di dalam karya-karyanya (Syarif: 2020).

Kemudian, masa post-Arab Melayu, sastra sufistik terasa langsung dalam lingkup Kalimantan Barat. Dalam artian, wacana sufistik Kalimantan Barat hakikatnya berkelindan meskipun dalam panorama berbeda, yaitu imajinasi kreatif yang tertuang dalam tulisan latin (bahasa Indonesia). Tentunya, dalam masa ini dapat disebut Odhys dengan metamorfosa kreatif dari sastra pop ke sastra serius, khususnya sufistik. Antologi Sang Guru Sufi merupakan wujud kreativitas sufistiknya, berupa puisi.

Syadza Kayung, penulis Ketapang ikut menyemarakkan dunia sastra sufistik, artinya ikut serta memberlanjutkan di Kalimantan Barat. Menurut Agus Kurniawan, pemerhati budaya Ketapang, Syadza Kayung pernah memublikasikan cerpen berjudul Hu, identik pemikiran sufistik, di media mainstreams ini, Pontianak Post, dan juga puisi. Imajinasi kreatif berupa puisi lazim ditemui saat membentang dalam wacana sastra sufistik karena efektif dalam membangun ungkapan yang berisi realitas imaji sebagai titik relasi antara sastra dan sufistik.

Jangkauan lain dipastikan masih dapat dijumpai melalui kajian sastra sebagai sebuah keberlanjutan. Secara instrinsik, sastra sufistik menjadi fokus imajinasi kreatif merupakan keberlanjutan ranah kepenulisan. Sederhananya, pascaprofanistik penulis yang bergelut di dunia sastra, biasanya menuju perubahan ke arah sufistik, alih-alih keagamaan. Keberlanjutan ini kemungkinan dipicu oleh faktor usia yang semakin beranjak sehingga sisi ketuhanan semakin mengemuka. Keuntungannya, sebagai sastrawan dapat mengeksplorasi situasi tersebut melalui kontekstual spiritual di antaranya melalui sastra sufistik.

Sastra sufistik perlu unsur-unsur untuk diperhatikan dan dipertimbangkan agar konstruksi imajinasi kreatif tidak melampaui kepatutan dan kelayakan koridor agama. Misalnya, Akhmad Aran menyadari terhadap puisinya yang dapat diapresiasi pembaca sebagai karya yang tidak sesuai koridor agama. Puisinya memang menyaran kepada ajaran sufisrik, sedangkan ajaran tersebut tidak semua dipahami khalayak atau perlu kedewasaan beragama (religious maturity). 

Oleh karena itu, sastra sufistik berkelanjutan perlu proses realitas normatif dan imajinasi kreatif. Pemahaman keagamaan seutuhnya sebagai realitas normatif demi koridor agama dengan sesungguhnya. Daya ungkapan sejelinya sebagai imajinasi kreatif demi relasi apik dengan realitas normatif yang dibungkusnya. Sastra sufistik semacam tingkatan atau level lebih tinggi karena perlu pemikiran radiks sekaligus keindahan yang mumpuni.

Keberlanjutan tersebut tampaknya telah diupayakan oleh beberapa penulis sastra Kalimantan Barat. Satu di antaranya ditengarai telah berproses dalam kreativitas sastra sehingga pernah menulis sastra berbasis sufistik apalagi pernah bersemuka dengan Odhys yang dekat dengan sastra sufistik. Satu lagi lainnyatetap terbuka peluang mendedikasikan karya sastranya berbasis sufistik meskipun perlu konsekuensi yang tidak ringan. Keberlanjutan sastra sufistik Kalimantan Barat bukan sebuah artifisial yang lebih kepada asesoris sastra semata, melainkan memiliki basis historis, baik era Arab Melayu maupun post-Arab Melayu.(*)

 

*Penulis adalah civitas BRIN Organisasi Riset Arkeologi, Bahasa, dan Sastra (OR Arbastra) Pusat Riset Manuskrip, Literatur, dan Tradisi Lisan.

Editor : A'an
#Sastra sufistik #Ekspresi spiritualitas