Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

Cinta di Titik Nol Khatulistiwa

A'an • Minggu, 9 Maret 2025 | 12:03 WIB
Ilustrasi Cerpen.
Ilustrasi Cerpen.

Oleh: Priyo Setioko

 

Tak ada yang aneh dengan diriku, selain seorang pemalu, takut dengan perempuan, dan tak bisa mengendarai sepeda, motor, apalagi mobil. Namaku Salehanto, tapi semua orang memanggilku Saleh.

Aku bekerja sebagai staf marketing di perusahaan jajanan snack "Jakarta Logos." Suatu hari, Pak Wahyu, atasan kami, menugaskanku dan tim untuk menghadiri Festival Titik Kulminasi di Kota Pontianak guna mempromosikan produk.

Aku ingin menolak, tapi bagaimana bisa?

 

***

Pontianak menyambut kami dengan sungainya yang luas dan dialek Melayu yang khas. Kami akan bekerja sama dengan Alya, seorang selebgram lokal. Dia terkenal dengan akun “Pontianak Ngenyan” dan pembawaannya yang ceria.

Kami pertama kali bertemu di warung kopi legendaris. Ketika Setyo dan Aris menyapanya dengan ramah, aku hanya tersenyum canggung. Saat Alya mengulurkan tangan, aku malah membalasnya dengan anggukan kecil.

"Oke, no handshake, noted," gumamnya sambil tertawa kecil.

Hari-hari berikutnya penuh tantangan. Alya ingin membuat promosi di lokasi ikonik seperti Tugu Khatulistiwa, pasar tradisional, dan Kapuas Waterfront. Sementara itu, aku hanya fokus mencatat data, menghindari percakapan atau keramaian.

"Bang Saleh, ngape diam jak?" tanya Alya suatu hari.

Aku hanya tersenyum kecil, bingung harus menjawab apa. Setyo dan Aris malah sibuk menyusun strategi untuk promosi. Dalam hati, aku mengeluh—kenapa mereka seakan sengaja mempertemukanku dengan Alya?

 

***

Hari puncak festival tiba. Setyo dan Aris pergi lebih dulu, meninggalkanku berdua dengan Alya di booth. Aku curiga mereka merencanakan sesuatu.

Setelah promosi berjalan sukses, Alya menatapku dengan ekspresi berbeda.

"Bang Saleh, kenapa sih kamu kayak nutup diri?" tanyanya serius.

Aku menghela napas. "Aku nggak pandai bersosialisasi, terutama dengan perempuan."

Alya tersenyum kecil. "Aku dulu juga minder. Banyak yang bilang aku cuma modal tampang dan gaya. Tapi aku belajar buat membuktikan kalau aku bisa. Kamu juga pasti bisa!"

Aku terdiam, merasa ada sesuatu yang berubah dalam diriku.

Sore harinya, Aris dan Setyo kembali dengan sesuatu di tangan mereka. "Saleh, ini buat loe," kata Aris sambil menyerahkan sebuah helm.

Aku menatap mereka bingung.

"Mulai besok, loe belajar naik motor," kata Setyo.

Aku menoleh ke Alya yang tersenyum penuh arti. "Aku bilang ke mereka kalau kamu bisa berubah, Bang," katanya.

Aku menatap helm itu, lalu mereka bertiga. Untuk pertama kalinya, aku merasa didukung.

 

***

Keesokan harinya, Alya mengajakku ke lapangan kosong untuk belajar motor. Awalnya aku menolak, tapi dia tidak menyerah.

"Kalau jatuh, aku ada buat nolongin," katanya santai.

Aku sempat hampir menyerah, tapi setiap kali ragu, Alya selalu berkata, "Lihat aku aja, kamu pasti bisa."

Hari ketika aku akhirnya berhasil mengendarai motor, Alya bertepuk tangan dengan wajah berseri. "Bang Saleh, kamu keren banget hari ini!" katanya.

Sejak saat itu, aku mulai lebih percaya diri. Kami pun semakin dekat.

Saat berjalan bersama, Alya sering menggandeng tanganku santai. Jika dulu aku panik, kini aku mulai terbiasa. "Bang, kok nggak canggung lagi?" tanyanya sambil tersenyum menggoda.

Aku tersenyum kecil. "Entah ya… kayaknya aku mulai terbiasa."

Dia tertawa sambil mencubit lenganku pelan. "Mulai terbiasa apa? Sama aku?"

Aku tersipu. "Mungkin."

 

***

Di hari terakhir kami di Pontianak, Alya mengajakku ke Tugu Khatulistiwa saat matahari terbenam. "Aku bakal kangen suasana ini," katanya pelan.

Aku menoleh. "Suasana Pontianak? Atau… kita di sini?" tanyaku memberanikan diri.

Alya tersenyum lembut. "Dua-duanya, mungkin."

Aku merasa dadaku berdebar, tapi aku tak ingin lagi ragu. "Aku suka sama kamu, Alya. Aku nggak tahu kapan tepatnya, tapi aku yakin sekarang."

Alya terdiam sejenak, lalu tersenyum. "Aku nunggu kamu bilang itu sejak lama."

Aku menatapnya tak percaya. "Serius?"

Dia mengangguk. "Iya. Aku juga suka sama kamu. Tapi aku mau kamu duluan yang bilang, biar aku tahu kamu serius." Saat matahari tenggelam, aku menggenggam tangannya lebih erat. Untuk pertama kalinya, aku benar-benar merasa berani.

 

***

Setelah kembali ke Jakarta, hubungan jarak jauh terasa menyiksa. "Alya, aku nggak kuat LDR seperti ini," kataku suatu malam di telepon.

Dia tertawa pelan, meskipun terdengar sendu. "Bang, sabar ya. Kita udah janji saling percaya."

Aku menghela napas. "Tapi aku nggak mau terus begini. Aku mau ada di dekat kamu."

Dua bulan kemudian, aku kembali ke Pontianak. Bukan untuk kerja, melainkan untuk sesuatu yang lebih penting.

Aku mengajaknya bertemu di Tugu Khatulistiwa, tempat semuanya bermula.

"Bang Saleh? Kamu nggak bilang mau ke sini! Ada apa?" tanyanya terkejut.

Aku tersenyum. "Aku cuma… kangen."

Kami berbicara sebentar sampai akhirnya aku menarik napas dalam-dalam.

"Alya, ada sesuatu yang mau aku sampaikan."

Dia menatapku penuh tanya.

Aku mengeluarkan sebuah kotak kecil dari saku. Cincin sederhana di dalamnya berkilau tertimpa cahaya senja.

"Alya, aku bukan pria sempurna. Tapi kamu membuatku merasa cukup. Aku nggak mau ada jarak lagi di antara kita. Jadi… maukah kamu menikah denganku?"

Matanya berkaca-kaca. Sejenak dia terdiam, lalu tersenyum.

"Bang Saleh… aku udah nunggu ini sejak lama. Iya, aku mau!"

Aku menyematkan cincin itu di jarinya, merasa lega dan bahagia sekaligus.

Pernikahan kami diadakan di Pontianak Convention Center (PCC). Aku terkejut ketika tahu bahwa seluruh biaya ditanggung oleh Pak Wahyu.

"Waktu saya kirim kamu ke Pontianak, saya tahu kamu bukan orang yang suka keramaian," kata Pak Wahyu sambil menepuk pundakku. "Tapi saya lihat ada sesuatu antara kamu dan Alya. Jadi saya biarkan alam bekerja. Dan lihat sekarang? Kamu bahkan berani melamarnya!"

Aku terkekeh. "Terima kasih, Pak Wahyu. Saya nggak tahu harus bilang apa."

Dia mengangkat gelasnya. "Cukup bilang 'saya akan jadi suami yang baik.'"

Aku menoleh ke Alya yang berdiri di sampingku, tersenyum penuh cinta.

Hari itu, aku menyadari sesuatu—hidup bukan tentang seberapa besar ketakutan kita, tetapi seberapa berani kita melawannya. Dan untuk pertama kalinya, aku tak takut lagi.(*)

Editor : A'an
#cinta #Khatulistiwa