Oleh: Beddy
Sore ini ibu tidak memasak, sama seperti kemarin dan selumbari. Bukan hanya tiga hari belakangan ini ibu tidak memasak, dan aku sudah lupa kapan terakhir kali ibu memasak.
Di dapur, cuma ada satu kompor gas. Berkarat dan penuh sisa makanan yang sudah mengering dan menyatu dengan besi-besi keropos itu. Tabungnya juga sudah lama kosong dan berkarat.
Di rumah -sebaiknya kutulis rumah saja meski tak layak disebut rumah- kami berempat. Ibu, aku, dan dua adik laki-lakiku. Tak ada Bapak di rumah. Sosok Bapak sudah lama kami lupakan. Wajahnya mulai asing juga diingatan. Jika ada satu benda yang mengingatkan kami pada sosok lelaki itu, barangkali itu selembar foto usang yang lusuh dan luntur karena lembab, di tempel di lemari yang hanya menampakkan sesosok tubuh dan di bagian kepala robek.
Kami semua berpuasa. Meski dua adikku sebenarnya belum wajib berpuasa. Tapi kami semua sudah terbiasa berpuasa, menahan lapar juga dahaga, meski bukan bulan puasa.
Awalnya, adik-adikku akan menangis memecah keheningan tempat tinggal kami yang jauh dari rumah-rumah warga lainnya. Aku berusaha menenangkannya dengan berbagai cara. Laparnya hanya diganjal dengan air hujan yang ditampung, tanpa dimasak.
Lama kelamaan, mereka pun mulai terbiasa. Tak ada lagi suara tangisan karena kelaparan. Adik-adikku mulai tenang di kasur. Hari demi hari.
Matahari mulai menyatu dengan cakrawala di barat, berwarna jingga dan memudar. Kedua adikku masih di tempatnya, di kasur lantai tipis. Apek dan lembab yang menyatu dengan spanduk politisi yang dijadikan alas agar kasur tak langsung menyentuh tanah.
Ibu masih di dapur tapi kami tahu jika ibu tidak memasak apapun. Setiap kali aku ingin bertanya pada ibu, makan apa kita saat berbuka, suara itu selalu tertahan di kerongkongan. Tubuh ibu yang mematung di dapur mulai dihinggapi lalat-lalat yang nakal.
Kami lapar. Itu pasti. Tapi kami terlalu miskin untuk memiliki apa-apa, termasuk sesuatu untuk dimakan. Dari kejauhan azan magrib berkumandang dan terdengar sayup-sayup. Tak ada buka puasa hari ini.
***
Sudah hampir seminggu aku tak melihat bocah itu di masjid. Saat tarawih malam pertama dan kedua, aku masih melihatnya bersama dua adiknya. Biasanya, dia akan menuntun dua adiknya dan dengan sabar, sesekali meletakkan jari telunjuknya di depan bibir sebagai tanda untuk tak berisik dan mengikuti gerakan salat orang. Sementara, anak-anak seusianya bermain di pekarangan masjid.
Pagi ini, bocah itu, juga ibunya dan kedua adiknya ditemukan membusuk dan nyaris mengering di gubuknya yang jauh dari pemukiman warga. Aku mendengar kabar duka itu dari tetangga.
“Ibunya ditemukan di dapur, ketiga bocah itu di atas kasur.”
“Kemarin kupikircuma bau bangkai binatang yang mati kena racun atau terjerat perangkap.”
Begitulah aku mendengar percakapan tetangga. Bagiku, kabar duka bukan sekadar berita yang lalu-lalang di televisi. Melainkan sebuah kabar buruk, kegagalan kami sebagai tetangga dan kealpaan negara atas rakyatnya. Mengapa tak ada seorang pun dari kami di kampung ini menyadari ketidakhadirannya? Terkutuk!
“Bagaimana cara kita mengurus jenazahnya yang tak utuh dan membusuk itu, Ustaz?”
Aku cukup lama terdiam sebelum menjawab pertanyaan itu. Mengurus jenazah adalah kewajiban satu kampung.
“Ini kondisi darurat, kalau ada bagian tubuhnya yang masih utuh itu yang kita siram untuk dimandikan, lalu kita kafani seperti biasanya.”
Kita terlalu lalai dan sibuk dengan diri sendiri. Tidak peduli pada tetangga dan lingkungan kita. Barangkali kita pada sore hari sibuk mau berbuka dengan menu apa sementara ada tetangga tak punya pilihan apapun.
Kita terlalu kenyang dan hanya memikirkan diri sendiri. Acapkali makanan-makanan kita tersisa dan berakhir di tempat sampah.
Namun, yang membuat bergidik kesimpulan polisi yang menyebut kalau orang-orang di gubuk itu meninggal sekitar dua minggu yang lalu, yang artinya seminggu sebelum bulan puasa.
Lalu, siapa tiga bocah yang kulihat saat malam pertama dan kedua tarawih di masjid. Rasa-rasanya, semua makanan yang kumakan saat sahur tadi ingin meloncat keluar lewat mulut. []
Editor : A'an