Oleh: Lalang Prasetyo
Rumah itu berdiri menghadap laut. Tua, sepi, dan miring ke kanan seperti sedang mengintip masa lalu. Di dinding kayunya yang mengelupas, garam laut menempel seperti rahasia yang tak ingin dibersihkan. Arya, 32 tahun, arsitek urban yang kelelahan hidup di Jakarta, baru saja membelinya lewat lelang online tanpa melihat lokasi. Ia mencari senyap, sebuah antitesis dari hiruk-pikuk kota yang telah mengikis jiwanya perlahan. Ia membayangkan hari-hari yang sunyi, hanya ditemani deru ombak dan aroma laut yang menenangkan. Namun, ekspektasinya itu segera berbenturan dengan realitas yang lebih absurd dari yang bisa ia bayangkan.
Sialnya, baru malam pertama, rumah itu sudah bicara.
“Laut tak hanya menyimpan garam, Nak. Tapi juga dendam.”
Arya tersedak kopi. Panasnya cairan itu membakar tenggorokannya, tapi keterkejutannya jauh lebih membakar indranya. Ia menatap ke arah jendela yang gelap, lalu ke teko kopi yang tadi dibuat sendiri. Tak ada siapa-siapa. Hanya suara ombak yang memecah pantai di kejauhan dan bau kayu lapuk yang menusuk hidung. Namun, suara tadi sangat nyata, dalam dan menggema, seolah keluar dari dalam tembok-tembok yang mengelilinginya.
“Siapa... siapa di situ?” Arya bertanya, sambil menenteng sapu seperti tentara angkatan darurat yang siap menghadapi musuh tak kasat mata. Jantungnya berdebar kencang, antara takut dan bingung.
“Aku hanya rumah, Arya. Jangan panik. Kau yang datang ke tubuhku, bukan aku ke hatimu.”
“Ini rumah atau pujangga pensiunan?” gerutu Arya, napasnya masih terengah. Ia mengusap wajahnya, mencoba meyakinkan diri bahwa ini hanya kelelahan atau efek kafein berlebihan. “Rumah kok bisa ngomong... ini pasti kopi sachet kedaluwarsa!”
Suara itu terdengar lagi, kali ini diselingi semacam tawa yang garing, seperti daun kering yang diinjak. “Kopi hanya mempercepat detak jantungmu, Nak. Yang kusediakan adalah cermin bagi jiwamu yang terburu-buru.”
Arya hanya bisa mematung. Ia meletakkan sapu, lalu melangkah pelan menuju jendela, menatap kegelapan di luar. Lautan membentang luas, hitam dan misterius. Ia merasa seolah rumah ini, dengan segala keanehannya, adalah perpanjangan dari samudra itu sendiri—dalam, tak terduga, dan penuh rahasia.
Esoknya, Arya mencoba mengabaikan suara-suara itu. Ia memulai proyek renovasinya dengan semangat seorang arsitek yang terbiasa menaklukkan struktur kaku kota. Ia mulai mendesain ulang rumah, mengganti ventilasi yang buruk dengan jendela-jendela besar untuk sirkulasi udara yang lebih baik, mengecat ulang dinding dengan cat tahan garam berwarna cerah, dan menanam tanaman kelapa mini yang katanya bisa mengurangi panas. Ia berusaha menerapkan semua teori desain tropis yang ia pelajari.
Tapi suara rumah tak berhenti. Ia menjadi komentator setia setiap gerak-gerik Arya.
“Cat itu hanya lapisan, Nak. Yang busuk tetap di dalam.”
Arya menghentikan kuasnya, napasnya memburu. “Aku tahu! Tapi setidaknya ini memperbaiki tampilan luarnya!”
“Tampilan luar menipu, Arya. Seperti senyum di wajah orang yang menyimpan luka di hati.” Suara itu terdengar sabar, namun menusuk. “Kayu ini bukan sembarang kayu, tapi saksi mata badai 1967. Jangan remehkan kenangan. Setiap retakannya adalah jejak cerita, setiap serpihannya adalah kepingan waktu.”
Arya mencoba memasang paku stainless untuk menguatkan rangka jendela. “Paku stainless tetap akan karat kalau hatimu korosi oleh ambisi, Arya.”
Arya membanting palu ke lantai kayu yang lapuk. Suaranya bergema. “Kau rumah atau motivator spiritual?” Ia mengacak rambutnya frustrasi.
“Aku adalah kediaman yang ditinggalkan oleh akal sehat. Seperti kau yang tinggalkan Jakarta demi keheningan, yang nyatanya lebih gaduh daripada kemacetan di jalan Sudirman.” Suara itu terdengar mengejek, namun ada kebenaran pahit di dalamnya. Keheningan yang ia cari ternyata jauh lebih bising daripada klakson dan deru mesin di kota. Itu adalah kebisingan dari dalam dirinya sendiri, yang selama ini tertutupi oleh keramaian.
Malam itu, dalam keputusasaan, Arya mengundang tetangga satu-satunya, Pak Ramin, nelayan tua yang tinggal seratus meter dari sana. Pak Ramin adalah sosok yang tenang, kulitnya gelap terbakar matahari, dan matanya selalu memancarkan kebijaksanaan yang mendalam. Mereka duduk di beranda, memandang laut yang tenang, sambil makan kacang rebus dan menyesap teh hangat.
"Aku pikir kau cuma stres, Mas Arya," kata Pak Ramin setelah mendengar cerita Arya. "Tapi kalau rumah ini ngomong? Wah, itu masalah tingkat kelautan."
“Lautan?” Arya tertawa getir, merasa perkataan Pak Ramin aneh dan menggelikan di tengah masalah seriusnya.
“Ya. Level di mana logika sudah tenggelam, tapi batin belum berenang. Di lautan itu, Mas, batas antara nyata dan tak nyata menjadi kabur. Seperti ombak yang datang dan pergi, kau tak bisa membedakan mana yang awal dan mana yang akhir.”
Arya memandang langit yang bertaburan bintang. “Tapi rumah ini... terasa hidup. Ada yang marah di dalamnya. Ada energi yang sangat kuat.”
Pak Ramin menyesap tehnya perlahan. “Rumah dekat laut itu bukan sekadar bangunan, Mas. Ia juga menyimpan gelombang jiwa yang pernah berlindung di bawah atapnya. Setiap tawa, setiap tangis, setiap bisikan, semuanya meresap ke dalam pori-pori kayunya, ke dalam fondasi batunya. Dan kau tahu, rumah ini dulu milik seorang wanita feng shui.”
“Feng shui? Ah... teori arah-arahan itu?” Arya mengangkat alis, sedikit skeptis. Sebagai arsitek, ia lebih percaya pada perhitungan dan material.
“Dia bilang, rumah yang hadap laut membawa keberuntungan. Tapi dia lupa, laut juga tempat semua makhluk kehilangan arah. Ia bisa memberi, ia juga bisa mengambil. Keberuntungan itu seringkali adalah kemampuan kita untuk menerima apa pun yang datang dari laut, baik atau buruk.”
Pak Ramin menghela napas. “Dia adalah wanita yang mencari harmoni, tapi hidupnya sendiri penuh gejolak. Mungkin jiwanya masih berlabuh di sini, mencoba menyelesaikan apa yang belum selesai.”
Kata-kata Pak Ramin membuka sudut pandang baru bagi Arya. Bukan sekadar suara, melainkan jejak jiwa.
Malam selanjutnya, suara-suara itu berubah menjadi dialog internal. Arya mulai berbicara dengan dirinya sendiri—atau ia pikir, dengan bagian dirinya yang dikendalikan rumah. Atau mungkin, dengan jiwa yang bersemayam di dalamnya.
“Aku cuma mau tenang. Udah capek di kota. Aku butuh damai,” bisiknya pada dinding.
“Tenang tak berarti diam, Arya. Kadang sunyi malah memperkuat suara luka yang selama ini kau kubur. Damai itu bukan ketiadaan masalah, tapi kemampuanmu untuk berdansa di tengah badai.”
“Aku arsitek. Aku tahu struktur. Aku bisa perbaiki rumah ini. Aku bisa membuat semuanya sempurna,” kata Arya, mencoba meyakinkan dirinya sendiri dan entitas yang mengganggunya.
“Struktur bisa kau bangun, tapi fondasi jiwamu? Retak sejak sebelum kau tiba. Kau mencoba menutupi keretakan itu dengan cat baru, dengan jendela besar. Tapi kau harus menggali lebih dalam, Arya, untuk menemukan akar masalahnya.”
Arya bangkit dari ranjang dan menatap cermin di sudut kamar. Ia melihat pantulan dirinya, namun ada sesuatu yang berbeda. Bayangan di cermin tak menirukan geraknya dengan sempurna; ada jeda tipis, seolah ia adalah entitas terpisah.
"Sudah kuduga," desisnya. "Kaca ini pasti bukan tempered glass... tapi dimensi lain!"
Dari dalam cermin, bayangannya bicara, suaranya lebih jelas dan menusuk. “Kau tak bisa merancang ulang masa lalu hanya dengan mengganti genteng, Arya. Masa lalu itu ada di sini, di setiap serat kayu ini, di setiap butir pasir di pantai ini. Dan itu adalah bagian dari dirimu juga.”
Arya mundur selangkah, jantungnya berdebar. Ia merasa seperti sedang berbicara dengan dirinya di masa depan, atau mungkin dengan dirinya yang lebih tua dan bijaksana. Dialog ini bukan lagi sekadar suara aneh, melainkan sebuah konfrontasi dengan bagian terdalam dari dirinya yang selama ini ia abaikan.
Hari kelima, Arya bangun karena mendengar suara... nyanyian dangdut yang sumbang, disusul dengan dentuman-dentuman aneh. Ia turun ke dapur dan melihat—dinding bergoyang, seolah ada pesta di baliknya.
“Ya ampun... rumahku kerasukan hajatan?” katanya, tak percaya.
Dinding bergetar lebih kencang, lalu perlahan, muncul wujud bayangan perempuan berambut panjang yang dikuncir asal, mengenakan daster batik. Wajahnya cemberut, tangannya berkacak pinggang.
"Nih rumah jangan diganggu, Mas! Ini rumah udah sesuai feng shui! Kenapa kamu ubah-ubah lagi?!"
Arya melongo. Ia mengenali suara itu, suara yang cerewet dan penuh emosi. “Kau... hantu feng shui?!”
“Aku Bu Sumarni, mantan pemilik rumah ini. Arsitek spiritual. Rumah ini hadap timur laut, Mas. Cocok buat karier dan ketenangan batin. Ini sudah saya hitung matang-matang pakai ilmu gaib dan kalkulator Jawa! Tapi kok kamu malah bikin layout ulang, pindahin kamar mandi ke barat daya? Itu kutukan rejeki, Mas! Semua energi positif bakal tersedot!”
Arya gemetar, antara takut dan ingin tertawa melihat hantu yang begitu... praktis. “Tapi... saya cuma mau renovasi sesuai iklim tropis. Ventilasi, pencahayaan, taman, itu kan penting untuk kesehatan dan kenyamanan!”
"Taman boleh. Tapi jangan cabut pohon ketapang depan rumah! Itu penangkal bala, Mas! Akar-akarnya menahan rumah ini dari abrasi! Kalau dicabut, nanti rumah ini bisa ambruk!"
“Pohon itu udah lapuk, Bu. Akarnya juga sudah tak sekuat dulu,” Arya mencoba berargumen, seperti berbicara dengan klien yang keras kepala.
“Lapuk bukan berarti mati, Mas! Sama kayak pernikahan saya dulu. Bertahan karena akar yang kuat, meskipun batangnya sudah tak seindah dulu!” Bu Sumarni cemberut. “Kamu itu arsitek, kan? Harusnya tahu, setiap material, setiap tumbuhan, punya rohnya sendiri. Roh yang harus dihormati!”
Konflik batin Arya memuncak. Ia tidak hanya melawan gangguan fisik dari lingkungan laut, tetapi juga gangguan metafisik dari penghuni tak kasat mata. Ia merasa terjebak di antara logika arsitekturnya dan kearifan lokal yang mistis.
Di tengah malam, ia duduk menghadap laut, di bawah pohon ketapang terakhir yang tak jadi ditebang—berkat ancaman Bu Sumarni. Air laut berkilauan di bawah cahaya rembulan, ombak berderu perlahan, seperti bisikan rahasia dari alam semesta.
“Apa aku salah pindah ke sini? Apa rumah ini terlalu penuh kenangan yang tak bisa kubersihkan?” gumam Arya pada dirinya sendiri, pada pohon, pada laut. Ia merasa putus asa.
Suara ombak menjawab, perlahan seperti ibu yang menimang anaknya di malam hari. “Yang salah bukan laut, Arya, tapi ekspektasi. Kau kira damai itu datang dari tempat, padahal ia tumbuh dari penerimaan. Kau ingin mengatur segalanya, tapi hidup ini adalah tentang melepaskan kendali. Kau mencari kerapian, tapi keindahan sejati ada dalam kekacauan yang teratur.”
Arya memejamkan mata. Ia mulai mengerti. Rumah ini bukan cuma tempat tinggal, tapi ruang belajar, sebuah perguruan tinggi kehidupan yang tak tercantum dalam silabus mana pun. Dari dindingnya yang lapuk, ia belajar tentang merawat; dari ombaknya yang bising, ia belajar mendengar suara hati yang selama ini teredam. Dari Bu Sumarni yang cerewet, ia belajar bahwa bahkan arwah pun butuh validasi desain interior, dan bahwa tradisi memiliki kekuatan yang tak bisa diabaikan.
Ia menyadari bahwa ia tidak hanya mencoba merenovasi sebuah bangunan, tetapi juga merenovasi dirinya sendiri. Membuang kebiasaan lama, membuka diri pada hal-hal baru, dan menerima ketidaksempurnaan. Ia belajar bahwa keberanian sejati bukanlah melawan, tetapi memahami dan beradaptasi.
Tiga bulan kemudian, rumah itu tetap berdiri miring, namun sekarang penuh warna dan kehidupan. Arya tidak memaksakan renovasi total. Ia memperbaiki struktur utama yang krusial, seperti fondasi dan atap yang bocor, namun membiarkan banyak bagian orisinal tetap ada, mengikis beberapa bagian yang terlalu lapuk, tapi membiarkan jejak sejarah tetap terlihat. Ia juga menanam pohon-pohon baru di halaman belakang, sesuai saran Bu Sumarni—yang kini jadi “konsultan metafisik tetap” baginya. Arya bahkan sesekali menyapa pohon ketapang lama, seolah ia adalah penjaga rumah.
Suara-suara masih muncul, tapi sudah seperti teman ngobrol, seperti bagian dari rutinitas paginya.
"Arya, cat ruang tamu kebanyakan abu-abu. Kurang ceria!" Suara Bu Sumarni terdengar dari dinding ruang tamu.
“Bu Sumarni, itu konsep minimalis! Biar tenang! Ini ruang kerja saya, Bu!” jawab Arya sambil meletakkan cangkir kopi di meja.
“Minimalis bukan berarti depresif, Mas! Tambahkan sentuhan oranye atau kuning! Biar rejeki masuk!”
Arya hanya menggelengkan kepala sambil tersenyum. Ia tidak lagi takut, malah kadang merindukan celotehan mereka jika terlalu sunyi.
Malam-malam, Arya duduk di beranda, menyeruput kopi, memandangi bintang yang tak terhitung jumlahnya. Kadang ia ngobrol dengan Pak Ramin yang sesekali mampir untuk berbagi cerita nelayan, kadang dengan hantu rumahnya yang memberinya saran desain nyeleneh, kadang hanya dengan laut, yang kini ia pahami sebagai cerminan dari alam bawah sadarnya.
Ia tidak lagi mencari ketenangan dalam diam, melainkan dalam penerimaan segala suara, segala getaran, dan segala energi di sekitarnya. Ia telah menemukan sebuah harmoni baru.
Dan setiap malam, ia merasa rumah itu... hidup. Tapi bukan hidup yang menakutkan, yang mengancam. Melainkan hidup yang menerima: garam yang mengikis, karat yang merayap, ombak yang berderu tak henti, dan semua kekurangan manusia yang menetap di dalamnya. Arya kini tahu, rumah ini bukan hanya tempat ia tinggal, tetapi tempat ia menemukan rumah sejati di dalam dirinya sendiri. (*)
Editor : Hanif