Pernah disangka gila. Bahkan dicurigai kepala adat dan kepala desa saat singgah ke daerah perbatasan Kalbar. Bermodalkan sepeda, semangat John Maynard tak pernah surut. Pontianak Post ngobrol panjang lebar, ketika John singgah ke Kantor Bupati Sintang.
FIRDAUS DARKATNI – SINTANG
JOHN Maynard, lelaki paruh baya berusia 61 tahun, karib dengan sepeda. Sepedanya yang berisi penuh dengan barang-barang, di parkirnya di halaman kantor Bupati Sintang. Kepada Pontianak Post, dia bercerita mengenai perjalanan yang sudah ia tempuh sejak 9 Januari 2020 kemarin.
“Dari kediaman saya yang ada di Depok, saya bersepeda menuju pelabuhan yang ada di Jakarta. Kemudian saya melanjutkan perjalanan dengan menumpang di kapal lawit dengan tujuan ke Pontianak,” ucap John memulai cerita, Senin (2/3).
Dengan sepeda yang berisikan penuh barang-barang. Ia melanjutkan perjalanan dari Pontianak menuju ke Kabupaten Mempawah, Kota Singkawang. Kemudian memasuki wilayah Sambas sampai tiba diujung border di Aruk, Kabupaten Sambas.
“Dari Sambas, saya melanjutkan lagi ke perbatasan yang ada di Kabupaten Bengkayang, yakni Jagoi Babang, kemudian ke Kabupaten Landak dan langsung menuju ke perbatasan Entikong, Kabupaten Sanggau. Dan lanjut lagi ke perbatasan yang ada di Senaning, Kabupaten Sintang hingga ke Badau yang ada di Kabupaten Kapuas Hulu,” ujar John menceritakan rute perjalanannya.
Setibanya di Kantor Bupati Sintang. John menjelaskan, bahwa perjalanan ini bukan kali pertama ia tempuh. Sebelumnya, ia sudah memulai perjalanan panjang ini sejak 2016 lalu. Mulai dari berkeliling ke pulau Sumatera. Sepedanya sudah menjajaki Aceh hingga Pulau Natuna. Bahkan, daerah pesisir pulau Sulawesi berhasil ia tempuh. Kali ini, ia bertekad untuk mengelilingi pulau Kalimantan. Rute pertama, Provinsi Kalimantan Barat.
“Saya menamai perjalanan ini dengan nama Gowes Sayang Nusantara, kepanjangannya gowes sambung menyambung Nusantara. Setiap rute yang telah saya lalui saya catat melalui buku kecil. Tujuannya menjajaki setiap provinsi dan kabupaten yang ada di Nusantara. Motivasinya tidak ada. Semangatnya hanya tidak ada yang menempuh Nusantara ini dengan bersepeda,” ungkapnya dengan tegas.
Sepanjang perjalanan yang sudah ia tempuh. Ia menanda tempat atau rute dimana ia singgah. Mulai dari Polsek sampai empat perbatasan yang ada di Kalbar. Sebab, ia hanya menumpang tidur di setiap kantor Polsek yang ada di kecamatan-kecamatan dan terkadang di rumah masyarakat.
“Saya hidup di jalan. Singgah kemana saja. Setiap cerita akan saya buat bukunya. Modalnya Rp200 ribu. Saya tidak memikirkan bagaimana saya akan hidup. Sebab menurut saya, masih banyak orang baik yang akan membantu saya di setiap perjananan. Rute ini akan saya bagikan ke Google untuk mempermudah orang jika hendak bepergian,” sambungnya.
Sepeda yang John sebut sebagai rumah. Telah panjang menemani perjalanannya. Mulai dari Pontianak kemarin. Ia banyak melihat akses jalan yang masih jelek. Listrik yang teraliri sampai ke pelosok. Sinyal yang tidak ada di kampung-kampung. Dan air bersih yang tak memadai.
“Itu sebab, saya ingin katakan. Pemerintah meski tuntaskan masalah tersebut. Fakta itu saya temui di perjalanan saya. Kasihan masyarakat kita yang ada di pelosok-pelosok. Meskinya mereka dapat hak yang sama dengan kita,” ujarnya dengan penuh harap.
Usai bercerita. John mendapat sebuah plakat dari pemerintah Kabupaten Sintang sebagai apresiasi perjalanan yang sudah ia tempuh dan menyempatkan hadir ke Kota Sintang. Namun, perjalanan ini tentunya belum usai. Ia akan kembali melanjutkan perjalanan kembali ke Pontianak. Kemudian dari Pontianak, ia akan mengayuh sepeda menuju ke Kabupaten Kayong, dan lanjut ke Kabupaten ketapang.
“Dari Ketapang kita akan masuk ke Provinsi Kalimantan Tengah. Dari situ kita akan lanjut ke Kalimantan Selatan, Kalimantan Timur, hingga Kalimantan Utara,” ungkapnya sambil mengayuh sepeda dan meninggalkan Kantor Bupati Sintang untuk beristirahat di rumah kerabatnya yang tak jauh dari situ. (*) Editor : Ari Aprianz