Nasional Metropolis Daerah Pro Bisnis Ekonomi Olahraga Otomotif Internasional Kriminal Features Mozaik Ramadan Tekno Entertainment Event Kesehatan Kuliner Lifestyle Ragam Cahaya Iman

BTN Wujudkan Tempat Kaum Muda untuk Pulang

Miftahul Khair • Sabtu, 15 Februari 2025 | 13:12 WIB
ilustrasi perumahan kpr
ilustrasi perumahan kpr

PONTIANAK POST - Punya rumah menjadi impian setiap orang. Namun, terkadang tak mudah untuk meraihnya. Bahkan, ada yang mengalami penolakan berkali-kali untuk mendapatkan Kredit Pemilikan Rumah (KPR). Hingga akhirnya tempat untuk pulang itu berhasil diwujudkan oleh Bank Tabungan Negara.

Fatul Ihsan bekerja sebagai karyawan di perusahaan jasa di Kota Pontianak. Gajinya tak sampai Rp5 juta. Kendati demikian, dengan penghasilan yang dimilikinya, Ihsan memiliki keinginan yang besar. Yakni, punya rumah sendiri.

“Saya tinggal sama orang tua. Saya ingin punya rumah, jadi nanti setelah menikah tidak sulit lagi mencari tempat tinggal,” ungkap pria berusia 43 tahun yang kerap disapa Ihsan ini.

Untuk mewujudkan cita-citanya, Ihsan pun berupa mencari informasi kredit pemilikan rumah. Saat mendapat lokasi yang dianggapnya cocok untuk tempat tinggal, dia pun mencoba mengajukan kredit rumah. Namun, ditolak pihak bank.

“Bukan hanya sekali, tetapi berkali-kali dengan berbagai alasan,” ungkap Ihsan.

Akhirnya dia pun mencoba mengajukan ke Bank Tabungan Negara (BTN). Tanpa perlu waktu lama, keinginan Ihsan untuk memiliki terwujud. Tepatnya pada tahun 2014 dia memiliki rumah sederhana di Desa Kapur, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat.

“Tak ribet. Hanya waktu sebulan saya sudah bisa akad kredit. Jangka waktunya 17 tahun dan cicilan perbulan Rp726.300. Sekarang (tahun 2025) sudah berjalan 11 tahun. Akhirnya saya punya tempat untuk pulang setelah bekerja,” katanya.

Ihsan menuturkan tak ada rasa kesal di hatinya atas penolakan kredit oleh beberapa bank sebelumnya. “Saya malah bersyukur ditolak karena akhirnya mendapat KPR BTN. Bagi saya lebih menguntungkan. Bunga di BTN flat, sedangkan bank lain fluktuatif. Prosesnya tidak berbelit-belit,” ujar Ihsan.

Rumah yang nyaman sebagai tujuan pulang juga menjadi impian Maria Lidwina. Apalagi perempuan berusia 38 tahun ini bekerja jauh dari kampung halamannya. Maria berasal dari Kapuas Hulu, berjarak sekitar 587 kilometer dari Kota Pontianak, tempatnya bekerja sebagai guru.

“Saya merantau ke Pontianak tahun 2012. Awalnya tinggal di rumah saudara. Kemudian saya mengontrak rumah,” jelas Maria.

Saat mengontrak, Maria mulai memikirkan untuk memiliki rumah sendiri. Dia ingin ketika sang ibu menjenguknya ke Pontianak, bisa benar-benar tinggal di rumahnya. Bukan rumah milik orang lain.

Maria pun berupaya mencari informasi kredit pemilikan rumah di beberapa bank. Akhirnya, pilihan Maria jatuh kepada BTN. “Sebab bunganya flat dan tidak besar. Cicilannya juga masuk di kantong saya yang bekerja sebagai guru di sekolah swasta,” kata Maria.

Baca Juga: Indeks Kerawanan Pemilu Kalbar Rendah, Tingkat Partisipasi Pemilih Masih di Bawah Nasional

Maria pun menambahkan ada beberapa pertimbangan lain sebelum memilih membeli rumah. Yakni, kepemilikan jangka panjang. “Dengan membeli rumah secara KPR memang mencicil juga setiap bulan, sama seperti kontrak rumah. Tetapi, ada kepemilikan jangka panjang, serta stabilitas keuangan. Sebab cicilannya tetap dibandingkan dengan kenaikan harga sewa (kontrak) yang bisa terjadi sewaktu-waktu,” jelasnya.

Akhirnya, pada 2015, Maria berhasil memiliki rumah di Jalan Tanjung Raya 2 Pontianak. Ketika itu usianya masih 28 tahun. “Cicilannya Rp756 ribu perbulan,” pungkasnya.

Rumah juga menjadi pilihan bagi Rahmi Picelia untuk menabung. Karyawati salah satu perusahaan ritel di Kalbar ini berhasil memiliki rumah saat usianya belum mencapai 30 tahun. Dan, semua itu bermula dari keinginan sang ibu.

“Ibu saya ingin semua anak perempuannya bekerja. Setelah bekerja, ibu meminta anak-anaknya tidak foya-foya. Lebih baik uangnya dibelikan barang yang bernilai,” jelas Rahmi.

Ketika kakak keduanya membeli rumah, sang ibu juga menyarankannya untuk membeli rumah. Kebetulan ada lokasi perumahan yang baru dibangun di dekat rumah ibunya.

“Akhirnya saya mencoba mengajukan KPR BTN pada 2018. Mengapa BTN? Karena ibu saya dulu juga punya rumah karena BTN. Alhamdulillah, disetujui dan saya berhasil memiliki rumah dengan masa kredit 13 tahun,” kata Rahmi.

Rahmi menilai membeli rumah lebih menguntungkan daripada emas. Menurutnya, emas memang lebih cepat dijual ketika memerlukan uang. “Tetapi setelah saya bertanya kepada beberapa orang, ternyata nilai jual rumah terus meningkat setiap tahunnya. Lagipula suatu saat saya juga akan menikah. Dengan punya rumah, tidak perlu lagi mencari tempat tinggal setelah menikah,” jelas Rahmi.

Direktur Utama BTN Nixon LP Napitupulu menegaskan pemerintah terus mendorong realisasi program 3 juta rumah di tengah tantangan likuiditas yang terbatas. Dan, BTN telah menyatakan komitmennya untuk mendukung upaya pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka dalam penyediaan rumah rakyat melalui Program 3 Juta Rumah. BTN memiliki visi yang sama dengan pemerintah bahwa Program 3 Juta Rumah yang tersebar di pedesaan hingga perkotaan akan menurunkan angka kemiskinan di Indonesia dan menciptakan pertumbuhan ekonomi yang lebih tinggi.

“Langkah berani ini diperlukan agar Indonesia dapat menjadi negara yang lebih maju dengan masyarakat yang lebih sejahtera, sesuai dengan visi Indonesia Emas pada 2045,” papar Nixon dalam rilis BTN.

Hal ini dibuktikan dari realisasi KPR yang melebihi target. Dari jumlah berkas pengajuan KPR yang masuk ke BTN nilainya telah mencapai sekitar Rp800 miliar.

Nixon mengungkapkan selama 48 tahun BTN telah memainkan peranan penting dalam pemenuhan kebutuhan rumah rakyat dan sekaligus menggerakkan pertumbuhan ekonomi melalui sektor perumahan. Andil ini terlihat jelas dari kontribusi BTN sebagai bank pelaksana utama program perumahan subsidi pemerintah, dengan hampir separuh dari total kredit perumahan yang disalurkan BTN merupakan KPR subsidi.

BTN telah menjadi katalis bagi ekosistem perumahan dan perekonomian negara melalui perannya sebagai penyalur KPR terbesar di Indonesia. “Pencapaian ini menjadi suatu kebanggaan bagi kami karena BTN memainkan peranan strategis dalam membantu pemerintah mengurangi backlog perumahan nasional yang saat ini masih mencapai 9,9 juta. BTN terus memperkuat komitmennya sebagai pembuka akses kepada pembiayaan perumahan, terutama untuk masyarakat berpenghasilan rendah agar mereka dapat memiliki hunian yang layak dan terjangkau,” tuturnya.

BTN pertama kali mendapatkan penugasan dari Menteri Keuangan Ali Wardhana sebagai penyelenggara KPR pada 29 Januari 1974, sejalan dengan program pemerintah yang tengah menggalakkan program perumahan untuk rakyat. Kemudian, BTN pertama kali menyalurkan KPR pada 10 Desember 1976 dengan total realisasi Rp38 juta untuk 17 unit rumah yang terbagi menjadi sembilan unit di Semarang, Jawa Tengah, disusul delapan unit rumah di Surabaya, Jawa Timur, pada tahun yang sama. Saat itu, penyaluran KPR perdana diinisiasi oleh BTN bersama Kementerian Perumahan Rakyat (Kemenpera) dan pelaku bisnis industri properti.

Sejak penyaluran KPR perdana tersebut, BTN secara konsisten menyalurkan KPR hingga saat ini lebih dari 90 persen portofolio kreditnya merupakan kredit perumahan. BTN memimpin pasar KPR di Indonesia dengan market share yang mencapai sekitar 40% secara nasional dan telah memberikan dampak turunan kepada 185 sub-sektor ekonomi dan lebih dari 7.000 mitra pengembang perumahan.

Dilansir dari Jawapos (Pontianak Post grup), BTN, dengan pangsa pasar mencapai 82 persen dari total KPR, memproyeksikan potensi penyaluran KPR Sejahtera sebanyak 631.978 unit rumah pada 2025.

Dari jumlah tersebut, 142.769 unit dalam proses pembangunan, sementara 489.209 unit belum terbangun. Mayoritas potensi KPR Sejahtera berada di Pulau Jawa, dengan 96.215 unit dalam proses pembangunan dan 327.831 unit belum terbangun.

Di sisi lain, pada 2024, BTN menyalurkan kredit dan pembiayaan sebesar Rp356,1 triliun per akhir September 2024 atau tumbuh sebesar 11,9 persen secara tahunan (year-on-year/yoy) dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Pencapaian tersebut masih tercatat di atas pertumbuhan rata-rata kredit industri perbankan nasional yang mencapai 10,9 persen yoy.

Nixon mengatakan, tahun 2024 merupakan tahun yang cukup menantang karena pertumbuhan konsumsi rumah tangga nasional mengalami stagnasi dan daya beli masyarakat mengalami pelemahan. Namun, BTN tetap mampu menjaga pertumbuhan kredit sesuai dengan target yang telah ditetapkan yakni di level 10-11% pada tahun tersebut.

“Di tengah tantangan yang terjadi di sepanjang 2024, fungsi intermediasi BTN tetap berjalan optimal. Hal ini menandakan BTN mampu menjalankan salah satu tugas utamanya untuk turut menggerakkan ekonomi dan membuka akses pinjaman bagi masyarakat, terutama yang berpenghasilan rendah dan menengah,” ujar Nixon dikutip dari Jawapos (Pontianak Post grup).

Nixon menuturkan pertumbuhan kredit BTN ditopang oleh permintaan yang meningkat di KPR, terutama KPR Subsidi seiring dengan masih tingginya kebutuhan akan perumahan yang layak dan terjangkau di Indonesia. Saat ini terdapat 24,6 juta rumah yang masih tergolong tidak layak huni, dengan jumlah backlog kepemilikan rumah nasional yang mencapai 9,9 juta.

KPR Subsidi masih menyumbang porsi terbesar terhadap keseluruhan portofolio kredit BTN. Hingga September 2024, perseroan menyalurkan KPR Subsidi sebesar Rp172,7 triliun, meningkat 9,5 persen yoy dibandingkan periode yang sama tahun lalu. Nixon mengungkapkan, sebanyak 75 persen debitur KPR Subsidi BTN merupakan kelompok Millenial, yang merupakan kategori usia produktif sekitar 21 tahun hingga 35 tahun.

“Hal ini menandakan bahwa generasi muda Indonesia, terutama yang berpenghasilan rendah dan menengah, masih menganggap rumah sebagai salah satu kebutuhan utama dan trennya masih akan meningkat seiring pertumbuhan ekonomi nasional,” ujar Nixon.

Sementara untuk KPR Non Subsidi, BTN juga melihat prospek yang cerah berdasarkan tingginya minat masyarakat segmen Emerging Affluent atau KPR dengan ticket size di atas Rp750 juta yang dilayani oleh Sales Center perseroan.

Pada saat yang sama, lanjut Nixon, BTN mencatat pertumbuhan di segmen kredit bermargin tinggi (high-yield loan), yang tumbuh 20,1% yoy menjadi Rp15,9 triliun per September 2024. Secara rinci, pertumbuhan Kredit Usaha Rakyat (KUR) melonjak 68,1 persen yoy, diikuti oleh Kredit Ringan (KRING) sebesar 18,1 persen yoy dan Kredit Agunan Rumah (KAR) sebesar 10,9 persen yoy yang disalurkan kepada nasabah eksisting.

Kendati terdapat penurunan rata-rata tabungan masyarakat dengan saldo di bawah Rp100 juta secara nasional, penghimpunan dana pihak ketiga (DPK) BTN secara keseluruhan tetap positif.

Total DPK BTN mencapai Rp370,7 triliun hingga akhir September 2024, bertumbuh 14,5 persen yoy dibandingkan dengan Rp323,9 triliun pada periode yang sama tahun lalu. Pertumbuhan DPK BTN masih lebih tinggi dari pertumbuhan industri perbankan nasional sebesar 7,04 persen, menandakan mesin funding BTN bekerja dengan optimal.

Dengan pertumbuhan DPK yang mampu mengimbangi pertumbuhan kredit, BTN mampu menjaga rasio intermediasi atau loan to deposit ratio (LDR) di level 96 persen per kuartal III-2024, membaik dibandingkan periode yang sama tahun lalu yang sebesar 98,3 persen. Nixon mengatakan, pencapaian ini menunjukkan tingkat likuiditas yang baik di tengah persaingan mendapatkan pendanaan di industri perbankan. Pertumbuhan kredit dan DPK yang solid hingga kuartal III-2024 menghasilkan peningkatan aset sebesar 11,1 persen yoy menjadi Rp455,1 triliun dibandingkan periode yang sama tahun lalu sebesar Rp 409,7 triliun. Sementara itu, laba bersih BTN tercatat Rp2,08 triliun per September 2024.

Dalam kesempatan terpisah Branch Manager Bank Tabungan Negara Kantor Cabang Pontianak Arditya Dwi Atmoko saat berkunjung ke Pontianak Post pada pertengahan tahun 2024 mengatakan trend pembiayaan properti mengalami peningkatan. Pembiayaan KPR dalam satu bulan bisa 350 hingga 400 unit.

Arditya menjelaskan pihaknya sudah mulai menyasar kelompok milenial dalam program pembiayaan mulai kredit pemilikan rumah (KPR). Terutama kelompok milenial yang memiliki kemampuan untuk mendapatkan rumah. Kelompok milenial diedukasi tidak hanya menyiapkan kebutuhan sandang, dan pangan tetapi juga papan.

“Yang sering terlewat inikan kebutuhan papan (rumah), sehingga mesti disiapkan dari awal sehingga kami menyasarnya ke generasi milenial,” kata Arditya.

Aditya menambahkan saat harga KPR bersubsidi saat ini mencapai Rp182 juta. Lanjut Aditya, pihaknya memiliki program masa tenor yang lebih panjang yakni hingga 30 tahun untuk kredit kepemilikan rumah.

Masa panjang itu kata Aditya meringankan angsuran bagi masyarakat yang ingin memiliki rumah. “Dengan harga Rp182 juta, tentu angsuran sekitar Rp1,7 juta per bulan kalau 10 tahun. Jika 20 tahun bisa saja Rp1,1 juta, sehingga dengan masa tenor lebih panjang hingga 30 tahun bisa lebih rendah,” terang Aditya. (uni)

Editor : Miftahul Khair
#btn #kpr bersubsidi #rumah #kaum muda