PONTIANAK POST - Menghadapi isu tarif Amerika Serikat, Gabungan Pengusaha Kelapa Sawit Indonesia (GAPKI) mengusulkan relaksasi beban ekspor untuk produk minyak sawit yang akan dikirim ke Amerika Serikat (AS).
Hal itu untuk menjaga pangsa pasar. Saat ini, Indonesia diklaim mendominasi 89 persen pangsa pasar sawit di Negeri Paman Sam itu.
Ketua Umum GAPKI Eddy Martono mengatakan bahwa dalam lima tahun terakhir pun, produk sawit Indonesia melonjak signifikan ke AS tersebut.
Oleh karena itu, dia berharap dengan adanya tarif resiprokal Trump itu beban ekspor sawit Indonesia bisa dikurangi.
“Sebab, saat ini ada tiga sumber beban ekspor mulai dari domestic market obligation (DMO), pungutan ekspor (PE) dan bea keluar (BK) yang totalnya mencapai USD 221 per metrik ton sawit,” bebernya di Jakarta, kemarin (14/4)
Jika tidak dipotong, Eddy khawatir pangsa pasar sawit RI bisa diserobot negara tetangga yang sama-sama penghasil minyak sawit.
”Malaysia saja hanya USD140 dolar per meterik ton beban ekspornya. (Tarif resiprokal) Malaysia 24 persen dan kita 32 persen. Jadi mau tidak mau kita potong beban ekspornya,” tuturnya.
Eddy optimistis pemerintah dapat menyelesaikan persoalan kebijakan tarif impor ke Amerika Serikat setelah melihat tanggapan dan rencana dari pemerintah supaya menjaga stabilitas daya saing komoditas lokal.
”Gapki optimistis ekspor sawit ke Amerika Serikat dapat tembus 3 juta ton asalkan dapat dipersiapkan secara baik,” ujarnya
Menurut Eddy, di Amerika Serikat, produk sawit Indonesia sangat dibutuhkan untuk produk pangan masyarakat dan sulit digantikan oleh minyak nabati lainnya.
Sementara itu, Wakil Menteri Perdagangan (Wamendag) Dyah Roro Esti Widya Putri menambahkan, momen ini menjadi kesempatan yang baik untuk melakukan revitalisasi perjanjian kerja sama perdagangan dan investasi atau Trade & Investment Framework Agreement (TIFA) antara Indonesia dengan AS untuk memperluas perdagangan antarnegara.
”Harapannya revitalisasi TIFA bisa menjadi platform bagi kedua negara untuk mengeksplor kembali potensi yang bisa dikolaborasikan kedepannya, sehingga bisa memperluas perdagangan antara kedua negara,” ujar Dyah. (agf/dio)
Editor : Miftahul Khair